Pilih Laman

Proses interaksi yang terjadi pada kehidupan masyarakat Sibolga dari masa ke masa menjadi tinjauan signifikan untuk melihat tarik-menarik kepentingan yang terus bergulat di wilayah pesisir Sibolga, semisal tekanan antar migrasi penduduk Batak ke pesisir Sibolga yang memunculkan celah politik kepentingan hingga melakukan praktik kesesuaian antar migrasi penduduk untuk merebut kekuasaan politik.

Proses ini dilihat pada suatu arena yang melibatkan seluruh masyarakat, yakni pemilihan walikota Sibolga periode 2015-2020. Kajian ini melihat realita masyarakat pesisir Sibolga melalui perspektif kontestasi pemilihan Walikota Sibolga periode 2015-2020 sebagai bagian dari pengujian validitas perjumpaan antara lintasan sejarah, sosio-kultur dan politik yang terus berdinamika.

Rumusan masalah disertasi ini dibangun oleh pertanyaan dan pernyataan yang diuji secara empiris di lapangan, yaitu bagaimana Etnis Pesisir di re-kontruksi di Sibolga dengan migrasi etnis khususnya Batak dan Minang ke Sibolga; gambaran latar belakang penduduk kota Sibolga dan interaksi yang terjadi sejak berdirinya kota Sibolga sampai era reformasi; bagaimana gambaran bentuk identitas yang muncul pada saat kontestasi pemilihan Walikota Sibolga periode 2015-2020.

Artikel Lainnya:  Pelatihan Peer to Peer Counselor: Edukasi Kesehatan Jiwa Mahasiswa

Kesimpulan dari disertasi ini adalah analisis terhadap realita politik yang terjadi pada politik lokal Pilwalkot Sibolga Tahun 2015-2020 yang membuka selubung pertautan antara politik dengan agama dalam praktik pemunculan identitas etnik yang diwarnai oleh nilai-nilai religius walaupun pada praktik kebudayaan, perjumpaan antara npolitik dan agama adalah suatu hal yang lazin terjadi.

Proses sejarah migratif memiliki peran penting dalam perubahan komposisi masyarakat Sibolga, dimulai dari garis waktu pasca Perang Paderi yang menarik masuk masyarakat Batak dari wilayah dataran tinggi menuju dataran rendah Pesisir Sibolga. Proses perjalanan waktu membuktikan adanya hegemoni masyarakat migratif.

Interaksi dalam perjalanan sejarah kota Sibolga adalah proses perjumpaan antar kebudayaan Batak, Minang, Nias, Aceh, Cina yang saling tarik-menarik kepentingan untuk membentuk suatu celah entitas kebudayaan, yaitu identitas etnik Pesisir. Etnis dan budaya Pesisir pertama di konstruksi oleh beberapa kelompok etnis yang bertemu di pantai dalam suatu aktivitas perdagangan.

Artikel Lainnya:  FISIP UI Melepas 287 Wisudawan

Gambaran bentuk identitas (re-konstruksi) yang muncul pada saat kontestasi pemilihan Walikota Sibolga periode 2015-2020 adalah untuk dapat mengetengahkan problematika proses konstruksi dan re-konstruksi etnis Pesisir Sibolga dalam pandangan politik setidaknya terdapat diskursus kultural, religi dan politik itu sendiri pada masyarakat Pesisir Sibolga untuk menjawab aspek kepentingan secara umum.

Irfan berhasil menyandang gelar doktor Antropologi. Setelah berhasil mempertahankan hasil disertasinya yang berjudul “Orang Batak dan Urang Pasisi di Sibolga: Suatu Kajian Tentang Politik Identitas Pada Pemilihan Walikota Sibolga Periode 2015-2020” di hadapan para penguji. Sidang promosi doktor Irfan dilaksanakan pada Jumat (03/01) di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI.