Kecemasan (anxiety) menjadi masalah kesehatan mental terbesar di kalangan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI). Survei Kesehatan Mental Mahasiswa FISIP UI 2024–2025 mencatat sebanyak 371 responden mengalami gejala kecemasan dan depresi dalam tingkat yang mengkhawatirkan. Dari jumlah tersebut, 19 persen di antaranya membutuhkan layanan konselor.
Merespons temuan tersebut, Badan Konseling Mahasiswa (BKM) FISIP UI bersama Republika menggelar acara bertajuk “Out Loud” dengan tema “Grow Through What You Go Through” di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP UI, Depok, Kamis (26/02). Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan kesadaran sekaligus menghadirkan ruang refleksi dan dialog terbuka terkait kesehatan mental di lingkungan kampus.
Konselor BKM FISIP UI, Annisah, mengungkapkan bahwa pada 2024 lebih dari 47 persen mahasiswa berada pada kategori kecemasan berat dan sangat berat. Sementara pada 2025, angka kecemasan berat dan sangat berat tercatat sekitar 44 persen.
“Pada 2024, depresi berat dan sangat berat mencapai sekitar 190 orang atau 24 persen. Namun pada 2025, kecemasan berat turun menjadi 1,7 persen, jauh lebih rendah dibandingkan 2024 yang mencapai 317 orang,” ujar Annisah.
Ia menjelaskan bahwa perbedaan angka tersebut dipengaruhi waktu pelaksanaan survei. Pada 2024, survei dilakukan sebelum masa ujian, sedangkan pada 2025 dilaksanakan setelah masa ujian, sehingga tingkat tekanan akademik berbeda.
Data BKM FISIP UI menunjukkan pada 2024 sebanyak 36,5 persen mahasiswa mengalami kecemasan berat, 15,9 persen stres tinggi, 15,2 persen depresi berat, dan 12 persen stres sangat tinggi. Bahkan, satu dari tiga mahasiswa pernah memiliki pikiran untuk bunuh diri. Sebanyak 73 mahasiswa atau 19 persen tercatat mengakses layanan konsultasi.
Survei ini menggunakan skala DASS-21 (Depression, Anxiety, and Stress Scale) untuk mengukur tingkat depresi, kecemasan, dan stres mahasiswa.
Annisah menjelaskan, tren permasalahan yang muncul dalam layanan konseling umumnya berawal dari persoalan akademik, relasi, keluarga, karier, hingga isu sosial. Namun setelah ditelusuri lebih dalam, banyak kasus bermuara pada kecemasan.
Ia menegaskan bahwa persoalan kesehatan mental tidak serta-merta muncul setelah mahasiswa memasuki bangku kuliah. Berdasarkan skrining kesehatan mental mahasiswa baru UI, sebagian mahasiswa sudah memiliki gejala sebelum resmi menjalani perkuliahan.
Di sisi lain, banyaknya peluang pengembangan diri di kampus justru memicu kebingungan dan kelelahan karena mahasiswa merasa ingin mengikuti semua kegiatan. Peningkatan ide bunuh diri yang disampaikan mahasiswa, baik secara langsung maupun dalam sesi konseling, menjadi indikator serius yang memerlukan perhatian bersama.
Dari survei 2024, stresor terbesar pada ranah akademik adalah tugas perkuliahan (65,8 persen). Pada aspek keluarga, persoalan keuangan menjadi faktor dominan (31,7 persen), disusul konflik dengan orang tua (17,9 persen).
Pada aspek personal, 66,1 persen responden mengaku kesulitan mengelola emosi sebagai sumber stres, sementara 45,2 persen terkait kepercayaan diri. Dalam aspek sosial, relasi pertemanan menjadi faktor utama (28,2 persen), termasuk pengaruh media sosial.
Dalam penanganan kasus, BKM FISIP UI tidak hanya menyediakan konseling individual, tetapi juga menerapkan pendekatan multiintervensi. Mahasiswa dapat dirujuk ke psikolog atau psikiater, termasuk di Rumah Sakit UI. Selain itu, dilakukan konferensi kasus yang melibatkan keluarga, program studi, dan dosen untuk mencari solusi bersama.
“Dari pengalaman kami, ketika keluarga dilibatkan dan memahami kondisi anaknya, banyak kasus yang progresnya jauh lebih baik. Sering kali orang tua defensif karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi,” kata Annisah.
Ia menekankan pentingnya dukungan dari berbagai pihak, mulai dari kampus, keluarga, komunitas, hingga pemerintah. Upaya menciptakan generasi unggul, menurutnya, tidak dapat dilepaskan dari perhatian serius terhadap kesehatan mental mahasiswa sebagai calon agen perubahan.
Di akhir paparannya, Annisah mengajak mahasiswa untuk lebih peduli pada diri sendiri dan lingkungan sekitar, berani mencari bantuan saat dibutuhkan, serta memanfaatkan sistem dukungan yang tersedia di kampus.


