Pilih Laman
Memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia Melalui Podcast

Memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia Melalui Podcast

Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2020 mengambil tema “Lindungi Anak dan Remaja dari Manipulasi Industri Rokok” yang disesuaikan dengan tema global yang ditetapkan WHO, yaitu “Protecting youth from industry manipulation and preventing them from tobacco and nicotine use”. Melihat hal ini, anak dan remaja adalah pusat kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) 2020, yaitu untuk menyuarakan perlindungan anak dan remaja dari industri rokok dan produknya.

Karena itu, kampanye HTTS 2020 hendaknya juga menempatkan anak dan remaja sebagai subjek, ikut bersuara dalam menolak manipulasi industri rokok yang selama ini menarget mereka. Melalui Podcast ini pada Kamis (11/6), salah satu narasumber Podcast “PodTalk & Clinic” adalah Dr. Nina Mutmainnah, M.Si. (Dosen dan Ketua Departemen Komunikasi UI/Komnas Pengendalian Tembakau) memberikan penjelasannya mengenai anak muda dan rokok.

Indonesia menjadi taman bermain dalam industry tembakau. Hal ini terjadi karena Indonesia ramah pada industry tembakau, dilihat dari jumlah perokok yang berlimpah dan pemasaran produk tembakau yang amat bebas. Regulasi Indonesia mengenai iklan, promosi dan sponsor sangan longgar berbeda dengan negara lain.

“Menurut data, dalam satu decade terkahir terjadi peningkatan jumlah perokok pemula hingga 240% yakni 9.6% pada tahun 2007 menjadi 23.1% pada tahun 2018, hal ini terjadi pada anak usia 10-14 tahun. Pada kelompok 15-19 tahun kenaikannya mencapai 140%. Data menurut Komnas Pengendalian Tembakau tahun 2019, 2 dari 5 anak Indonesia, umur 10-15 tahun merokok sebanyak 13 batang/hari atau 4.745 batang/tahun. Ini menjadikan Indonesia negara dengan jumlah perokok terbanyak ketiga diseluruh dunia,” jelas Nina.

Nina juga menjelaskan, iklan, promosi sponsor rokok ditujukan pada anak dan remaja, mereka dijadikan konsumen setia untuk membuat bisnis industry rokok terus dapat berjalan. Banyak riset menyimpulkan hubungan kausalitas antara iklan, promosi dan sponsorhip rokok pada berbagai media dengan perilaku merokok pada kaum muda. Hasil laporan monitoring iklan terhadap sekolah, terdapat lebih dari 30 merek rokok yang beriklan dan berpromosi disekitar sekolah melalui spanduk dll.

Perusahaan rokok melakukan kebijakan “tanam budi” melalui sponsor acara-acara anak muda (musik, film dll), mengadakan beasiswa, melalukan kegiatan untuk lingkungan hidup, tujuannya ini untuk membentuk image positif tentang rokok. Menurut US Surgeon General Report tahun 2010, rokok bersifat adiktif karena mengandung nikotin, bahan kimia yang diantaranya bersifat karsinogenik.

Publikasi UNESCO tentang Masalah Komunikasi dan Informasi

Presentasi laporan UNESCO bertema Setting the Gender Agenda for Communication Policy and Gender, Media and ICTs diadakan pada hari Rabu (30/10) di Auditorium Komunikasi FISIP UI. Kegiatan ini kelanjutan dari Teaching Gender in Journalism and Media Studies yang diselenggarakan pada hari Senin (28/10) dan Selasa (29/10) di Hotel Margo, Depok.

Di bawah naungan Global Alliance on Media and Gender (GAMAC) laporan tersebut menunjukkan pentingnya perjuangan yang lebih masif untuk kesetaraan gender, hak asasi perempuan, serta untuk pencapaian pembangunan yang berkelanjutan.

“Pentingnya kesetaraan gender. Lanskap media global telah berevolusi secara dramatis dalam lebih dari dua puluh tahun sejak Konferensi Dunia PBB ke-4 tentang perempuan diadakan di Beijing pada tahun 1995, ketika media diakui sebagai hal yang penting untuk kemajuan perempuan dan pencapaian kesetaraan antara perempuan dan laki-laki” ujar Ming Kuok Lim selaku Advisor for Communication and Information for UNESCO Office.

Ming Kuok Lim memperkenalkan sekaligus menjelaskan buku yang telah dibuat dan diterbitkan oleh UNESCO, buku yang pertama berjudul Setting The Gender Agenda For Communication Policy: new proposals from the Global Alliance on Media and Gender. Dibagi dalam 4 bagian.

Publikasi ini menunjukkan pentingnya sentralitas komunikasi dalam perjuangan yang lebih luas untuk kesetaraan gender dan hak asasi perempuan, serta untuk pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Isu-isu seperti kesetaraan gender dalam posisi pengambilan keputusan media, kebijakan peraturan, jender dan kebebasan berekspresi dan hak-hak pekerja media perempuan dinilai bersama dengan opsi penulis untuk masa depan.

Buku yang kedua berjudul Gender, Media & Icts: New Approaches For Research, Education & Training. Di latarbelakangi oleh dukungan UNESCO untuk pendidikan jurnalisme didukung oleh keyakinan kuat, bahwa standar jurnalistik profesional sangat penting untuk mengeluarkan potensi sistem media untuk mendorong demokrasi, dialog, pembangunan berkelanjutan dan kesetaraan gender.

Acara diakhiri dengan peluncuran buku berjudul Transnational Othering – Global Diversities, Media Extremism and Free Expression (Anthology, Nordicom) yang merupakan kumpulan tulisan jurnalis dan akademisi dari berbagai negara. Buku antologi ini membahas masalah-masalah kompleks dan saling terkait, seperti kebangkitan ekstremisme dan terorisme, keanekaragaman dan hak-hak minoritas, serta situasi kebebasan berekspresi di delapan negara yang berbeda.

Salah satu tulisan dalam antologi itu adalah karya Ade Armando dari Universitas Indonesia. Tulisan berjudul Indonesia, When Civil Society, Government and Islamist Collide” menggambarkan situasi kebebasan berpendapat menjelang Pemilu 2018. Buku antologi ini merupakan buah dari pertemuan jurnalis dan akademisi pada Global Inter Media Dialogue (GIMD) 2017 yang diselenggarakan di FISIP UI, Depok.

Menariknya kebanyakan dari negara tersebut adalah negara dengan populasi mayoritas Muslim seperti Turki, Pakistan, Bangladesh, Tunisia, Afghanistan dan Indonesia.  Salah satu tulisan dalam antologi itu dari Indonesia yang berjudul “Indonesia, when civil society government and Islamist collide” menggambarkan bagaimana situasi dan kebebasan berpendapat di masa-masa menjelang pemilu di Indonesia pada 2018.