Pilih Laman
Wisuda Virtual FISIP UI 2020 di Tengah Pandemi Covid-19

Wisuda Virtual FISIP UI 2020 di Tengah Pandemi Covid-19

Ada yang beda pada wisuda FISIP UI tahun ini di tengah pandemi Covid-19 yang tidak kunjung reda dan dianjurkan untuk tetap berjarak maka Universitas Indonesia dan FISIP menghelat wisuda secara live virtual melalui aplikasi Zoom maupun Youtube, pada hari Jumat (16/10) untuk Program Sarjana dan Sabtu (17/10) untuk Program Pascasarjana.

Setelah pagi hari digelar upacara wisuda virtual bersama Rektor UI kemudian wisudawan/wisudawati diarahkan menuju link Zoom dan Youtube fakultas.

Pada kelulusan semester ini FISIP UI meluluskan 226 wisudawan dari Program Sarjana, IPK tertinggi 3,89 diraih oleh mahasiswi dari Hubungan International, Devina Ayona, S.Sos. Dari Program Pascasarjana meluluskan 89 wisudawan, IPK tertinggi 3,94 diraih oleh mahasiswi Ilmu Komunikasi Anggun Nadia Fatimah, M.Si.

Dekan FISIP UI menyampaikan sambutan dan semangat kepada para wisudawan meskipun disituasi yang tidak mudah seperti sekarang, jangan berkecil hati dan tekadkan semangat yang kuat, tetap berkarya untuk bangsa dan negara dalam bidang ilmu sosial dan ilmu politik, semoga ini menjadi lulusan pertama dan terakhir kalinya dalam situasi pandemi ini.

Christella Fenisianti, Thierry Ramadhan dan Cut Nabila menjadi perwakilan mahasiswa/mahasiswi untuk berbagi pengalaman berkesannya selama berkuliah di Program Sarjana FISIP UI. Sedangkan pada Program Pascasarjana diwakilkan oleh Mas Ahmad Yani, Ahmad Ramadhan & Farah

Ada yang menarik dari wisuda ini walaupun dilaksanakan secara virtual tapi terasa sangat dekat, haru dan hangat karena para wisudawan/wisudawati langsung di dampingin oleh kedua orangtua/wali disampingnya.

Acara ini merupakan bagian persembahan dari keluarga besar FISIP UI untuk melepas secara resmi para mahasiswa Program Sarjana dan Program Pascasarjana yang diwisuda pada semester ini. Acara ini ditutup dengan lagu yang berjudul ‘Sampai Jumpa’ yang dibawakan oleh para dosen FISIP UI yang tergabung dalam ‘Swara Jingga’ lalu.

Peresmian Pemberian Nama “Gedung Soelaeman Soemardi” FISIP UI

Peresmian Pemberian Nama “Gedung Soelaeman Soemardi” FISIP UI

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) meresmikan pemberian nama gedung Soelaeman Soemardi pada Senin (28/9) di FISIP UI. Acara ini di buka dengan penayangan video tur kampus FISIP UI serta dihadiri oleh anak-anak dari Soelaeman Soemardi selain itu acara ini juga live melalui zoom dan di saksikan oleh dekan terdahulu, dosen-dosen, cucu, saudara dan rekan-rekan beliau. Pemberian nama gedung ini merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan kepada Soelaeman Soemardi sebagai salah satu dosen terbaik Sosiologi FISIP UI.

Selain gedung ada pula ruangan multifungsi E201 yang diberi nama Soelaeman Soemardi, ruangan ini di design oleh Dini Singadipura. Sebelumnya ruangan ini adalah ruangan kegiatan mahasiswa dan penuh sekat. Dini memberikan talenta dan sentuhannya di FISIP UI untuk merenovasi dan design ruangan Soelaeman Soemardi dengan tema modern industrial, gaya ini dipilih karena ingin memberikan tampilan modern tetapi juga memberikan spirit, sederhana dan jujur yang dilihat dari diri Soelaeman Soemardi. Ruangan ini juga bertujuan untuk orang berkumpul, berdiskusi, berkerja dan belajar agar nyaman.

Dekan FISIP UI, menjelaskan ruang Soelaeman Soemardi merupakan ruang multifungsi yang disumbang oleh keluarga Soelaeman Soemardi kepada FISIP UI, jadi kami bersyukur FISIP UI mempunyai tambahan fasilitas kampus yang ruangannya bisa digunakan untuk berbagai keperluan, baik oleh dosen, mahasiswa maupun alumni. Ruangan ini sekaligus untuk mengenang Soelaeman Soemardi saat beliau mengajar pada Jurusan Sosilogi dahulu. Beliau merupakan salah satu dosen terbaik yang pernah dimiliki oleh Sosiologi dan patut menjadi panutan untuk generasi muda saat ini.

Acara peresmian ini di tutup dengan pembacaan doa dan personal stories pendek dari beberapa rekan dan mantan murid Soelaeman Soemardi, yaitu Francisia Saveria Sika Ery Seda, M.A., Ph.D. (Dosen Sosiologi FISIP UI), Amris Hassan (Mantan Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru) dan Freddy Tulung (Mantan Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik).

FISIP UI Menyambut Mahasiswa Baru Program Pascasarjana Secara Virtual

FISIP UI Menyambut Mahasiswa Baru Program Pascasarjana Secara Virtual

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) secara virtual menyambut para mahasiswa baru program pascasarjana melalui forum Pengenalan Sistem Akademik dan Kemahasiswaan (PSAK) pada hari Kamis (11/9). Kegiatan dihadiri oleh Dekan, Ketua Dewan Guru Besar Fakultas, Ketua Senat Akademik Fakultas, Para Wakil Dekan, Para Pimpinan Unit Pusat Administrasi Fakultas, Para Ketua dan Sekretaris Departemen, serta Para Ketua dan Sekretaris Program Studi Sarjana di lingkungan FISIP UI.

Dekan FISIP UI, Dr. Arie Setiabudi Soesilo, M.Sc, menyapa dan menyambut para mahasiswa baru melalui sambungan zoom yang dilakukan langsung dari Auditorium Juwono Sudarsono (AJS) FISIP UI, Depok. Dekan menyapa para mahasiswa dengan setting indoor untuk memperkenalkan kepada mahasiswa pascasarjana salah satu ruangan yang sering dipakai untuk kegiatan di FISIP UI.

Dalam kesempatan sambutannya, Dekan  berpesan untuk semangat dan memiliki optimis walaupun dalam suasana pandemi, selain itu Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian dan Kemahasiswaan juga memberikan penjelasan tentang bagaimana perkuliahan di FISIP mulai dari jumlah SKS yang dapat diambil dalam satu semester hingga penelitian yang nantinya menjadi syarat untuk lulus dari FISIP UI.

Pada kegiatan yang disaksikan oleh mahasiswa dari seluruh Indonesia ini, mahasiswa baru juga disuguhkan dengan tayangan video mengenai FISIP UI. Agar para mahasiswa baru, yang belum dapat mengunjungi kampus FISIP UI dapat memiliki gambaran mengenai suasana dan fasilitas yang ada di FISIP UI yang dapat mereka akses saat pandemi berakhir nanti. Para mahasiswa baru pascasarjana sangat antusias dengan memberikan pertanyaan sehingga terjadi dialog yang interaktif antara jajaran Pimpingan dengan mahasiswa baru.

Pandemi Covid – 19 dan Tantangan Kerjasama Multilateral

Pandemi Covid – 19 dan Tantangan Kerjasama Multilateral

Seri 06 Webinar FISIP UI 2020 ini membahas dampak pandemi Covid-19 terhadap hubungan internasional dan kerjasama multlilateral. Pandemi Covid-19 memperlihatkan makin dibutuhkannya kerjasama multilateral untuk membangun fair and inclusive global health governance dan untuk mengatasi krisis ekonomi yang melanda seluruh dunia akibat pandemi ini. Bagi Indonesia, kerjasama multilateral saat ini sangat relevan untuk kerjasama pengadaan alat-alat kesehatan dan akses ke vaksin Covid-19.

Mengangkat tema “Pandemi Covid-19 dan Tantangan Kerjasama Multilateral” pada Rabu (9/9) webinar FISIP UI Seri 06 ini dilaksanakan secara daring melalui zoom dan youtube. Sebagai narasumber ialah Duta Besar Febrian A. Ruddyard. (Direktur Jenderal Kerjasama Multilateral Kementerian Luar Negeri RI) dan Meutya Viada Hafid, B.Eng., M.IP. (Ketua Komisi I DPR RI).

Covid-19 menjadi musuh bersama. Tidak ada satu kebijakan yang dapat diterapkan untuk semua negara, setiap negara mempunyai kebijakan yang terbaik untuk negaranya masing-masing. Terjadi rivalitas antar negara tetapi kerjasama bilateral dan multilateral juga tetap meningkat. Kerjasama ekonomi antar negara juga  akan semakin meningkat, negara butuh untuk menggerakkan kembali ekonominya yang telah berhenti.

“Fokus diplomasi Indonesia pada era pandemi Covid-19 ini adalah di bidang medis seperti diplomasi vaksin, alat kesehatan dan obat-obatan serta di bidang non-medis seperti pemulangan atau evakuasi WNI, perlindungan WNI dan diseminasi informasi. Bantuan dan kerjasama Indonesia  dengan negara atau organisasi internasional lainya, Indonesia telah menerima bantuan finansial dan barang seperti APD, masker dan alat tes. Selain itu Indonesia juga berusaha dan berkerjasama untuk membuat vaksin Covid-19 dengan PT. Biofarma dengan Coalition for Epidemic Preparedness  Innovations (CEPI) dan PT. Kalbe Farma,” jelas Meutya.

Meutya juga menjelaskan, tantangan kedepannya terkait pengadaan atau ketersediaan vaksin, obat-obatan, alat kesehatan serta diplomasi dalam rangka fungsi perlindungan WNI di luar negeri, terdapat pula permasalahan terkait hak dan akses WNI ke sebuah negara. Indonesia saat ini sudah masuk ke dalam daftar Temporary Ban Entry (pelarangan masuk ke sebuah negara bagi pemegang paspor dari negara tertentu) di 59 negara seperti  Malaysia. Hal ini tentu akan menjadi tantangan tersendiri bagi diplomasi Indonesia, terutama  diplomasi bilateral.

Febrian memberikan kesimpulan, diplomasi multilateral menjadi lebih terintegrasi dengan diplomasi regional dan bilateral, isu kesehatan global menjadi “omnipresent”. Ia juga menegaskan pertempuran yang sukses terhadap Covid-19 tergantung peningkatan tata kelola kesehatan dan kendala diplomatic. Serta Sustainable Development Goals menjadi lebih relevan sebagai model komprehensif untuk pembangunan human security akan berkontribusi untuk pencapaian state security.

Inovatif Intervensi Sosial dalam Penanganan Masalah Covid-19

Inovatif Intervensi Sosial dalam Penanganan Masalah Covid-19

Pandemi COVID-19 tidak hanya membutuhkan solusi dari bidang kesehatan dan ekonomi, tapi juga respon dengan pendekatan sosial budaya karena makin meluasnya penyebaran virus tersebut dan sulitnya mengatasi pandemi ini lebih merupakan masalah sosial budaya dari pada masalah kesehatan. Berbagai masalah timbul mulai dari masalah psikososial di tingkat personal, konflik di tingkat interpersonal dan komunitas, hingga kecemasan sosial di masyarakat. Seri 05 Webinar FISIP UI 2020 ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang berbagai upaya inovatif dari intervensi sosial yang sudah dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah serta kendala yang dihadapi.

Webinar ini membahas “Model Inovatif Intervensi Sosial dalam Penanganan Masalah Pandemi Covid-19” pada Rabu (2/9). Sebagai narasumber,  Dr. KH. Mohammad Idris, M.A. (Walikota Depok), Dr. RR. Endah Sulistyaningsih, M.Si. (Ketua I dan Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia), Dr. Widarjanto (Kasubdit SDA Kawasan Perdesaan, Ditjen Pembangunan Kawasan Perdesaan dan Kemendesa PDT Transmigrasi) serta Dr. Marlina Adisty, S.Sos., M.Si. (Widyaiswara Pusdiklat Penanggulangan Bencana BNPB).

Covid-19 menjadi bencana nasional non alam, bencana yang diakibatkan oleh  peristiwa atau rangkaian peristiwa non alam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemic dan wabah penyakit. Covid-19 bukan hanya urusan pemerintah bukan hanya urusan medis atau kesehatan tetapi menjadi urusan semua pihak, masyarakat menjadi ujung tombak dalam pandemi ini, perubahan perilaku yang sesuai protocol kesehatan untuk memutus rantai penularan Covid-19 di Indonesia.

Marlina menjelaskan, langkah-langkah yang sudah dilakukan oleh BNPB adalah edukasi protokoler kesehatan kepada masyarakat dilakukan dengan melibatkan semua elemen masyarakat seperti tokoh masyarakat, tokoh  agama, musisi dan budayawan, sosialisasi untuk menggerakan masyarakat disekitar untuk mematuhi dan menerapkan protokol kesehatan, serta mitigasi menyiapkan sarana dan prasarana untuk tim medis di pusat-pusat pelayanan kesehatan sebagai bagian dari mitigasi struktural atau menyediakan aplikasi yang dapat mendokumentasikan penilaian risiko baik terhadap diri sendiri, keluarga maupun lingkungan sekitar tempat tinggal. Program inovasi BNPB adalah “INARISK Personal Covid-19” sebuah aplikasi Android & IOS untuk mengetahui bahaya kebencanaan dan risiko disekitar kita serta upaya mitigasi yang dapat dilakukan secara mandiri. Manfaat dari INARISK personal ini sebagai sarana edukasi masyarakat untuk memahami tingkat risiko bencana di tempat mereka berada, sarana edukasi mitigasi bencana untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana dan berbagi data spasial melalui “GIS  Service” sehingga masyarakatdapat melakukan berbagai analisis lanjutan.

“Covid 19 merupakan pandemi global yang melanda dunia, termasuk  Indonesia didalamnya Jabodetabek. Kasus pertama kali terjadi di Kota Depok menjadi Imported Case. “Jika memperhatikan trend peningkatan kasus  berdasarkan waktu, kasus konfirmasi positif mulai naik secara tajam pada Bulan Juli 2020 hingga saat  ini. Faktor penyebab peningkatan kasus, mulai dibukanya aktivitas sosial dan ekonomi, sehingga  menimbulkan tingginya interaksi dan pergerakan orang. Meningkatnya kasus dari klaster perkantoran dan tempat kerja, yang berdampak pada penularan di lingkungan  keluarga dan komunitas. Kejenuhan warga dalam menerapkan protokol kesehatan, terutama dalam penggunaan masker dan jaga jarak,” jelas Idris.

Idris juga menjelaskan, strategi kebijakan penanggulangan Covid-19 Kota Depok dengan prevent seperti kampung siaga covid-19 dan pembatasan sosial berskala besar, detect dengan contact tracing dan Rapid/Swab test, response dengan penanganan kasus dan rumah sakit rujukan Covid-19 serta manajemen gugus tugas dengan operasionalisasi dan sistem informasi dan komunikasi. Kota Depok berinovasi dengan Aplikasi Kampung  Siaga Covid-19 Terintegrasi dengan PICODEP  (Pusat Informasi Covid-19 Depok, tujuannya untuk memudahkan komunikasi para pihak untuk percepatan  penanggulangan COVID-19 di Depok.

Endah menjelaskan sebagai Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI) melakukan kegiatan kampanye untuk sosialisasi pencegahan Covid-19 kepada masyarakat seperti melalui spanduk, baliho, flyer, webinar dan sebagainya. Selain itu IPSPI mempunyai program penyediaan layanan dukungan psikososial merespon Covid-19 dalam hal ini pekerja sosial. Tujuan layanan dukungan psikososial untuk meminimalisir dampak psikologis dan sosial dari situasi yang diakibatkan oleh COVID-19 sehingga penerima manfaat dapat menerima dan mampu beradaptasi dengan situasi yang diakibatkan oleh COVID-19. Penerima manfaat ini terbagi dua yaitu internal, pekerja kemanusiaan yang terdampak Covid-19 dan eksternal, tenaga medisyang menangani pasien Covid-19 secara langsung. Layanan yang diberikan adalah psikososial edukasi, hotline psikososial, konseling online sampai rujukan untuk yang terindikasi mengalami masalah atau ganguan psikologi.

Sedangkan aksi cepat penangan Covid-19 di desa di jelaskan oleh Widarjanto, “prioritas penggunaan dana desa 2020 yang pertama di bidang kesehatan melalui kebijakan Desa Tanggap Covid dengan dibentuknya Relawan Desa Lawan Covid-19. Dengan hadirnya relawan yang memberikan edukasi protokol kesehatan dan menyediakan peralatan kesehatan, diharapkan tingkat kasus PDP dan positif Covid-19  di desa bisa ditekan. Kedua bidang sosial melalui kebijakan Bantuan  Langsung Tunai (BLT) Dana  Desa yang memiliki  sasaran penerimanya adalah keluarga miskin yang tidak mendapatkan bantuan non pangan tunai, non penerima  kartu kerja dan punya anggota  keluarga yang rentan sakit. Ketiga bidang ekonomi melalui kebijakan Padat  Karya Tunai Desa yang diharapkan dapat menekan  angka pengangguran selama masa Covid-19 dengan memanfaatkan penggunaan Dana Desa, SDA dan SDM. Dan yang terakhir bidang pencegahan Covid-19 dan pengembangan ekonomi desa melalui “gerakan setengah miliar  masker diharapkan menjaga kesehatan warga dan adaptasi kebiasaan baru untuk menunjang ekonomi desa.”