Pilih Laman
Mengatasi dan Mencegah Dampak Covid-19 Pada Anak dan Individu Rentan

Mengatasi dan Mencegah Dampak Covid-19 Pada Anak dan Individu Rentan

Departemen Kriminologi FISIP UI mengadakan diskusi daring “Kriminolog Bicara – Seri 4” dengan tajuk “Anak: Sudah Jatuh, Tertimpa Tangga Pula di Era Pandemi” yang dilaksanakan pada Kamis (14/05). Sebagai pembicara dalam diskusi kali ini yaitu, Dr. Ida Ruwaida, M.Si. (Dosen Departemen Sosiologi dan Manager Riset, Publikasi, dan Pengabdian Masyarakat FISIP UI), KBP Dr. Sulastia, M.Si (Pamen Polri dan Alumnus S3 Kriminologi FISIP UI), dan Dr. Ni Made Martini Putri, M.Si. (Dosen Departemen Kriminologi FISIP UI dan Direktur PUSKAPA UI).

Sebagai tanggapan terhadap Covid-19, pemerintah telah menerbitkan sejumlah paket kebijakan. Pemerintahan daerah juga menanggapi lewat berbagai kebijakan dan program masing-masing daerah. Komitmen pemerintah untuk membantu warganya jelas terlihat namun masih terbatas pada yang miskin, hampir miskin dan sakit.

Selain menuntut kecepatan, situasi ini memang luar biasa. Situasi ini akan berdampak panjang pada kesentosaan penduduk termasuk pada keadaan kesehatan, mental, ekonomi dan sosial. Paket kebijakan Covid-19 tidak akan efektif dalam meringkankan penderitaan dan menangani kebutuhan orang-orang yang terkena dampak, terutama anak-anak dan kelompok rentan tanpa pengaturan implementasi yang memadai.

Cara menanggapi kedaruratan serta mempersiapkan pemulihan dan rehabilitasi pandemic Covid-19 sekarang menentukan seberapa dapat mencegah dampak yang lebih buruk di masa depan, terutama pada anak-anak dan kelompok rentan.

Anak-anak, lansia dan difabel adalah yang rentan selama dalam pandemic Covid-19 ini. Terdapat sekitar lima juta jumlah RT dengan anggota anak dibawah 5 tahun, 6 juta jumlah RT dengan anggota lansia dan 7 juta jumlah RT dengan anggota difabel. Data tersebut di 10 wilayah yang terdampak seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Banten, NTB, Bali, Kalimantan Selatan dan Papua per 27 April.

Meski estimasi sulit diperoleh, jaringan pengaman harus melebar dan merapat bagi kelompok khusus yang tersembunyi, seperti anak ditempat penahanan/penjara, anak jalanan, anak panti asuhan, anak dalam rumah tangga berisiko kekerasan.

Secara umum tentunya PUSKAPA UI merekomendasikan agar pemerintah: (1) meneruskan PSBB sambil memastikan bahwa tata kelola perlindungan semua warga terutama yang rentan sampai dengan situasi penyebaran dapat benar-benar terkendali, (2) menyiapkan tata kelola pengadaan dan penyebarluasan obat dan vaksin Covid-19 setelah ditemukan, (3) mengalihkan sumber daya pada penguatan kapsitas layanan dan jaminan kesehatan serta pelebaran dan perapatan jaringan pengamanan sosial.

Kriminologi: Aksi Terorisme selama Pandemi Covid-19

Kriminologi: Aksi Terorisme selama Pandemi Covid-19

Departemen Kriminologi FISIP UI mengadakan diskusi daring dengan tema “Aksi Terorisme Meningkat Selama Era Pandemi: Mengapa?” yang dilaksanakan pada (7/05). Sebagai pembicara dalam diskusi yaitu, Prof. Dr. Hamdi Muluk, Psikolog (Dosen Fakultas Psikologi UI), Dr. Didik Novi Rahmanto, SIK, M.Si (Perwira Densus-88 POLRI dan Alumnus S3 Kriminologi FISIP UI) dan Ferdinand Andi Lolo, SH. LLM, Ph.D. (Dosen Departemen Kriminologi FISIP UI).

Prof. Hamdi menjelaskan kategori kelompok radikal khususnya di Indonesia, yang pertama kaum takfiri yang menganggap kelompok lain sebagai kafir, berbeda pandangan dari mereka disebut kafir, ini termasuk radikal keyakinan. Kedua kelompok jihadis yang membunuh orang lain atas nama islam, mereka melakukan tindakan di luar hukum, ini radikal dalam tindakan. Serta yang ketiga kelompok yang ingin mengganti ideologi negara dengan menegakan Negara Islam atau Khalifah, ini adalah radikal politik.

Terorisme dapat terjadi tanpa melihat situasi dan kondisi, khususnya dalam masa pandemi Covid-19 yang sedang melanda Indonesia saat ini. Terdapat alasan dan modus bagaimana terorisme dapat berkembang sebagaimana layaknya situasi normal di masa lalu. Aktivitas kelompok terror di Indonesia selama pandemic Covid-19, ada beberapa respon terhadap situasi Covid-19 outbreak jaringan terorisme yang ada di Indonesia.

“Mereka (kelompok terorisme) berafiliasi dengan ISIS mengikuti seruan dengan meningkatkan aktivitas baik persiapan maupun serangan dan mereka yang berafiliasi dengan Alqaedah juga mengikuti anjuran untuk menjaga agar jamaahnya tidak terdampak Covid-19 dan lebih aktif dalam pengumpulan donasi dengan cover bantuan kemanusiaan di masa pandemic ini,” jelas Didik Novi.

Didik Novi juga menjelaskan pada 10 April 2020, penegakan hukum dilaksanakan terhadap jaringan kelompok Zulfiqar Rachman yang tersebar di beberapa provinsi seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Tenggara dan Maluku. Kelompok ini juga membuat senjata api dan bom rakitan serta menyusun rencana aksi terror.

Selain itu ancaman terror nasional selama pandemic Covid-19 adalah serangan terror dalam situasi kacau yang dapat dipicu terutama jika krisis di masyarakat yang menyebabkan situasi kacau misalnya PSBB (Pembatasan Sosial Sekala Besar) yang rentan dimanfaatkan oleh kelompok terorisme untuk memperkeruh suasana. Serta ancaman teroris yang terinfeksi, terror ini mengidentifikasikan seseorang yang terinfeksi virus dan kemudian menggunakan orang tersebut untuk menginfeksi orang (Bio Terrorism Attack).

Keamanan di Indonesia juga perlu mempunyai strategi diantaranya “perlu penguatan SOP di lapas atau remand security, mewaspadai peningkatan potensi kerusuhan di lapas karena pembebasan narapidana. Masalah pandemic Covid-19 dan konflik di lapas itu sendiri yang dapat menciptakan kepanikan, termasuk diantara narapidana. Tetap dilakukan pengamanan terhadap obyek-obyek vital. Monitor pergerakan cyberspace, meningkatkan upaya kontra radikalisasi dan deradikalisasi, serta sinergitas antara stake holder” jelas Prof. Hamdi.

Pada dasarnya jaringan teroris tidak mengenal wabah penyakit, tetapi mereka bisa memanfaatkan suasana yang terjadi contohnya seperti saat ini sedang terjadinya pandemic Covid-19 di Indonesia.

Kriminalitas Yang Terjadinya Selama Wabah Covid-19

Kriminalitas Yang Terjadinya Selama Wabah Covid-19

Menurunnya aktivitas masyarakat karena wabah Covid-19 malah membuka peluang kejahatan bagi para pencuri dan perampok. Kejahatan jalanan pun tetap marak. Pengamatan Kepolisian Daerah Metro Jaya, lingkungan permukiman di Jakarta dan sekitarnya memang relatif lebih aman dari penjahat karena warga menghabiskan waktu lebih banyak di rumah, sesuai dengan anjuran pemerintah untuk menekan penyebaran Covid-19.

Namun minimarket di pinggir jalan yang semakin sepi menjadi salah satu sumber harta benda yang difavoritkan pencuri selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB) ini. Subdirektorat 3/Reserse Mobil Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya pada Senin (13/4) meringkus dua dari lima anggota komplotan perampok spesialis minimarket.

Para perampok ini mencuri bahan pokok. Aktifnya para perampok spesialis minimarket ini seakan menunjukkan mereka tidak ingin ikut arus umum pelaku kejahatan di negara-negara lain dalam pandemi Covid-19.

Ketua Departemen Kriminologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), Iqrak Sulhin, menuturkan, asumsinya ada sejumlah tipologi kejahatan yang turun dalam situasi pandemi, seperti pencurian di rumah hingga kejahatan jalanan. ”Hal ini karena aktivitas orang lebih banyak dilakukan di rumah,” ujarnya.

Jenis kejahatan yang kemungkinan mengalami peningkatan di antaranya penyebaran hoaks, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan kejahatan siber, seperti penipuan daring. ”Di Eropa, banyak laporan KDRT meningkat karena korban yang memiliki riwayat hubungan kekerasan sebelumnya terperangkap di rumah,” kata Iqrak.

Di Chicago, salah satu kota dengan tingkat kekerasan tertinggi di Amerika Serikat, tingkat kriminalitas secara keseluruhan turun 10% setelah pandemi muncul. Penurunan dua digit pada tingkat kejahatan amat jarang di kota-kota AS. Bahkan, dalam sejarah penurunan tingkat kriminalitas terbesar di New York City pada 1990-an, penurunan 40% baru didapatkan dalam tiga tahun. Meski demikian, senada dengan Iqrak, penegak hukum di sana juga khawatir ada tindak pidana berupa kasus KDRT yang tidak terungkap (The Associated Press, 11/4/2020).

Namun, Iqrak berpendapat, kejahatan terkait harta benda atau kejahatan properti (property related crimes), seperti pencurian dan perampokan, berpotensi naik lagi dengan asumsi situasi kesulitan ekonomi merupakan kondisi kriminogenik. Faktor kriminogen adalah faktor yang menyebabkan munculnya tindak pidana.

Iqrak berpendapat, kejahatan terkait harta benda atau kejahatan properti (property related crimes), seperti pencurian dan perampokan, berpotensi naik lagi dengan asumsi situasi kesulitan ekonomi merupakan kondisi kriminogenik. Faktor kriminogen adalah faktor yang menyebabkan munculnya tindak pidana.

Di Jakarta, terdapat 1,2 juta keluarga yang terdata memerlukan bantuan sosial. Mereka ini dalam kondisi normal pun sudah kesusahan. Jumlah orang yang kesulitan hidup bertambah dengan adanya warga yang kehilangan sumber pemasukan. Berdasarkan laporan yang masuk ke Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi DKI Jakarta, hingga 9 April ada 76.613 pekerja yang dirumahkan dan 17.721 pekerja diputus hubungan kerjanya (dikenai PHK).

Terkait maraknya pencurian di minimarket di tengah pandemi Covid-19, Iqrak mengatakan, kecenderungan kejahatan properti terjadi karena tiga hal, yaitu adanya pelaku yang memiliki motivasi, adanya target yang menguntungkan, dan lemahnya pengawasan. Karena itu, perampok dan pencuri cenderung tidak melakukan kejahatan secara acak atau tiba-tiba.

Target yang berposisi lemah, misalnya jauh dari keramaian atau dari jangkauan pengawasan kepolisian, tentu menguntungkan bagi pencuri. Dalam situasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) saat ini, minimarket punya posisi lemah karena biasanya berlokasi di jalan yang lebih sepi, mengingat aktivitas masyarakat di luar rumah berkurang.

Iqrak pun merekomendasikan polisi untuk menjaga frekuensi patroli guna menekan risiko kejahatan terhadap minimarket serta kejahatan-kejahatan jalanan lainnya. ”Patroli sebaiknya dilakukan dalam pola yang tidak ajek karena pelaku kejahatan tentu mengawasi,” ucapnya.

Sumber: https://bebas.kompas.id/baca/metro/2020/04/22/minimarket-pemikat-para-penjahat/

Fenomena Produksi dan Peredaran Obat Palsu di Indonesia

Fenomena Produksi dan Peredaran Obat Palsu di Indonesia

Peredaran obat palsu di Indonesia telah mencapai 2 miliar dollar Amerika atau 25% dari total presentase bisnis farmasi di Indonesia pada 2016. Produksi dan peredaran obat palsu keuntungan ekonomisnya jauh lebih besar dibandingkan produksi narkotika atau psikotropika dan resiko ancaman hukuman pidana penjara maupun dendanya pun jauh lebih ringan dari pada kejahatan narkotika atau psikotropika.

Bahan baku obat palsu mudah didapat, demikian pula mesin-mesin produksi bekas, bahan kemasan yang sangat menyerupai produk asli bukanlah hal yang sulit dikenali dengan kemajuan teknologi saat ini. Terlepas dari risiko memperoleh obat palsu, berbelanja obat secara online memberikan keuntungan seperti mendapatkan obat yang sulit ditemukan di pasaran dan tentu saja harga yang lebih murah.

Upaya pencegahan dan penanggulangan permasalahan ini telah diupayakan lintas sektor instansi formal sebagai respon tindak lanjutnya. Pada tanggal 30 Mei sampai 7 Juni 2016, Indonesia mengamankan ribuan kemasan obat ilegal senilai 4,2 juta dollar Amerika. Ribuan obat palsu ini diamankan dari 64 pabrik dan tempat produksi di seluruh Indonesia. Di waktu yang berasamaan, sebanyak 214 situs website yang menjual obat palsu online juga dipaksa tutup.

Namun demikian, produsen obat palsu justru tetap langgeng menjalankan bisnisnya. Langgengnya bisnis obat palsu di Indonesia mungkin ditengarai oleh politico-criminal configurations yaitu konsep yang mengungkap adanya interaksi yang bersifat symbiosis mutualism antara holders of political power (negara) dengan users of extralegal force and intimidation (organized crime).

Hasilnya menemukan bahwa gagasan terdapatnya relasi antara negara dan organized crime dalam konsep politico-criminal configurations tampaknya belum dapat dibuktikan sepenuhnya. Relasi ini hanya ditemukan dalam bentuk kooptasi fungsi negara sebagai enforcement of norms oleh organized crime melalui corrupted state apparatus.

Walaupun begitu  bahaya yang ditimbulkan  oleh relasi politico-criminal configurations dalam bisnis obat palsu tidak hanya berdampak pada semakin luasnya pengaruh kelompok organized crime dalam mempengaruhi negara dan juga semakin meluasnya kekuasaan organized crime dalam menguasai pasar obat di Indonesia.

Kelompok organized crime mengakses state apparatus dengan uang sebagai imbalan perlindungan dan pengunaan pasal yang ringan. Kelompok organized crime tidak mengakses negara secara langsung sehingga relasi yang terbentuk belum merupakan relasi politico-criminal configurations yang sempurna.

Secara umum fenomena peredaran obat palsu di Indonesia sebenarnya dapat diselesaikan oleh pemerintah, namun pemerintah harus dengan segera melakukan evaluasi terhadap kebijakan dan aturan-aturan terkait produksi dan distribusi obat-obatan di Indonesia. Selain itu pemerintah harus mempertegas sanksi hukum dan memperketat pengawasan dan penindakan terhadap perusahaan maupun terhadap organized crime yang terlibat.

Bismo Teguh Prakoso berhasil menyandang gelar doktor Kriminologi. Setelah berhasil mempertahankan hasil disertasinya yang berjudul “Relasi politico-criminal configurations antara organized crime dan negara sebagai bentuk state-organized crime dalam fenomena produksi dan peredaran obat palsu di Indonesia” di hadapan para penguji. Sidang promosi doktor Bismo dilaksanakan pada Selasa (07/01) di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI.

Returness ISIS Indonesia: Dekontruksi Pemahaman Terhadap Pandangan Dunia yang Adil

Returness ISIS Indonesia: Dekontruksi Pemahaman Terhadap Pandangan Dunia yang Adil

Pada Jumat (20/12) di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI, Didik Novi Rahmanto berhasil menyandang gelar Doktor dalam Kriminologi. Setelah mempertahankan hasil disertasinya yang berjudul “Returness ISIS Indonesia: Dekontruksi Pemahaman Terhadap Pandangan Dunia yang Adil” dihadapan para penguji.

Penelitian ini berdasarkan perkembangan isu terorisme yang menunjukan bahwa terorisme berdasar agama telah menjadi sebuah tren di dunia, mengingat bahwa agama merupakan salah satu alat propaganda yang cukup efektif untuk membuat manusia berani mengorbankan diri demi kepercayaan agama.

Dalam perkembangan dinamika terorisme, Islamic State of Iraq and Sham (ISIS) merupakan salah satu kelompok terorise yang mendapat perhatian sangat luas. Hal yang penting dilakukan ISIS dalam deklarasi tersebut adalah seruan kepada muslim di seluruh dunia untuk bergabung dan berjihad bersama ISIS.

Deklarasi negara khalifah dan propaganda tentang banyaknya keuntungan dan kemudahan oleh ISIS akhirnya meyakinkan banyak orang datang ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Orang-orang ini kemudian disebut sebagai foreign terrorist fighters (FTF) atau ada juga yang menyebut dengan foreign fighters.

Kejadian nyata yang menunjukan betapa bahayanya FTF gelombang 1 di Indonesia, dimana alumni Afghanistan yang kembali ke Indonesia menjadi pelaku serangan Bom Bali 1. Indonesia memiliki jumlah FTF signifikan, hingga tahun 2019 total sudah terdapat 2.377 orang FTF dengan rincian yang masih berada di Suriah dan Irak 1.413 orang, tewas 112 orang, deportan 554 orang dan returness sebanyak 120 orang serta berencana berangkat 178 orang.

Menggunakan metode penelitian kualitatif dalam membahas latar yang melandasi kepulangan WNI yang menjadi FTF di Suriah kembali ke Indonesia. Temuan hasil dari penelitian ini menunjukan terdapat tiga faktor utama yaitu expectation gap, radicalism dan individual obligation.

Serta tiga faktor penunjang yang mempengaruhi perilaku WNI untuk berangkat ke Suriah maupun mempengaruhi keputusan returness Indonesia untuk tidak kembali ke jaringannya yaitu interaction and exposure, ideal status and role based on religion, anomalie and frustation.

Faktor utama yang mempengaruhi seseorang untuk bergabung maupun berhenti menjadi teroris adalah pemahamannya terhadap dunia yang ideal karena pandangan mereka tentang dunia yang adil seperti Suriah  yang digambarkan dalam propaganda ISIS.

Sementara returness memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan tidak kembali ke jaringan terorisme karena adanya perubahan terhadap pandangan dunia yang ideal, returness tidak melihat Suriah sebagai dunia yang ideal.