Select Page
College Survival Kit Sebuah Upaya Untuk Mengatasi Demotivasi Perkualiahan

College Survival Kit Sebuah Upaya Untuk Mengatasi Demotivasi Perkualiahan

Departemen Advokasi Kesejahteraan Mahasiswa HMIK UI 2019 mengadakan sebuah program kerja bernama College Survival Kit (CSK). Pelaksanaan CSK diadakan dalam bentuk seminar di Auditorium Komunikasi dan menghadirkan beberapa narasumber, yaitu Dra. Wisni Bantarti, M.Kes (Dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI), Rhaka Ghanisatria (Co-Founder Menjadi Manusia), Yuanita Zandy Putri, M.Psi (Psikolog) dan Dena Rachman (Public Figure dan Alumni Komunikasi FISIp UI).

Seminar ini diadakan karena di latar belakangi oleh lika-liku dunia perkuliahan. Selama menjalani kehidupan perkuliahan, mahasiswa tidak selalu menghadapi masa-masa yang menggembirakan, namun juga masa-masa terpuruk karena ketidaksesuaian antara harapan dengan realita kejadian. Oleh karena itu membuat suatu perubahan degresif terhadap antusiasme dan pola pikir mahasiswa dalam menjalani dunia perkuliahan.

Munculnya perasaan demotivasi merupakan faktor terbesar dalam menghadapi dunia perkuliahan yang menurunkan kualitas motivasi dalam diri mahasiswa. Perasaan demotivasi dalam beberapa kasus tertentu pula dapat menghilangkan semangat dalam diri mahasiswa. Beberapa mahasiswa setelah mengalami demotivasi mengambil beberapa langkah tertentu untuk menghilangkan perasaan demotivasi tersebut, seperti mengambil cuti kuliah, membolos kelas, berhenti kuliah, bahkan melakukan percobaan bunuh diri untuk kasus terparahnya.

Hal tersebut terbukti berdasarkan hasil survei yang kami lakukan terhadap mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia dengan sampel 119 orang secara acak, sebanyak 89,1% responden pernah merasa malas pergi ke kampus karena disebabkan oleh beberapa alasan yang merujuk pada demotivasi.

Tujuan dari diadakannya Seminar College Survival Kit ini adalah menjadi penyedia informasi dan fasilitator mahasiswa untuk mendapatkan alternatif solusi dari permasalahan yang ada di masa perkuliahan serta memberikan jalan keluar atas permasalahan yang dialami mahasiswa dan menjadi tempat utama mahasiswa dalam mengomunikasikan berbagai permasalahannya terkait masa perkuliahan.

Seminar Hasil Penelitian Kejahatan Transnasional dan Perlindungan Warga Negara di Perbatasan Darat

Seminar Hasil Penelitian Kejahatan Transnasional dan Perlindungan Warga Negara di Perbatasan Darat

Departemen Hubungan Internasional dan Departemen Kesejahteraan Sosial mengadakan seminar hasil penelitian yang diadakan pada Senin (9/12) di Auditorium Komunikasi FISIP UI. Penelitian ini berkolaborasi antar ilmu hubungan internasional dengan ilmu kesejahteraan sosial yang mengangkat tema “Kejahatan Transnasional dan Perlindungan Warga Negara di Perbatasan Darat Negara Republik Indonesia”.

Sebagai pembicara Prof. Dr. Bambang Shergi Laksmono, M.Sc., Dra. Evi Fitriani, M.A, Ph.D dan Ali Abdullah Wibisono, Ph.D. Sebagai moderator adalah Aisha R. Kusumasomantri, S.Sos, M,Sc.

Tujuan dari penelitian ini adalah memahami secara komprehensif masalah keamanan transnasional dan masalah-masalah sosial yang ditimbulkan diperbatasan darat Indonesia dengan tiga negara tetangga yaitu Malaysia, Timor Leste dan Papua Nugini.

Organisasi kejahatan transnasional adalah kelompok terstruktur, tiga orang atau lebih melakukan kriminalitas secara berkelanjutan dalam suatu periode waktu serta pada skala yang serius. Mencakup kriminalitas yang ditentukan dalam suatu kerangka legal untuk mencapai keuntungan material atau keuangan.

Penguatan sistem keamanan negara dan perlindungan warga negara di wilayah perbatasan melalui model pengelolahan data berbasis teknologi informasi. Serta rekomendasi kebijakan yang sesuai dan dapat diterapkan dalam rangka memperkuat kemanan negara dan perlindungan warga negara di perbatasan.

Dibangunnya jalan di perbatasan Indonesia merupakan salah satu tujuan yang tercapai sebagai perwujudan bahwa negara hadir dan melindungi segenap warga Indonesia. Dengan adanya peningkatan kualitas dan pembangunan jalan baru dikawasan perbatasan terus dilakukan di titik yaitu Kalimantan, NTT dan Papua sebagai bagian penting beranda terdepan Indonesia. Kawasan Tertinggal, Terluar, Terdepan (3T) adalah wajah depan Indonesia yang harus diperbaiki dan didorong kemajuannya.

Adapun kerentaan sosial di perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini yaitu kehadiran ganja dari Papua Nugini, problematika separatism Papua yang bersembunyi di Papua Nugini, serta kawasan Papua Nugini juga seringkali menjadi tempat bersembunyi bagi buronan dan jalur penyelundupan barang ilegal.

Tidak hanya di perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini saja, tetapi juga terjadi di perbatasan Indonesia dengan Malaysia yaitu gangguan kejiwaan yang terjadi pada imigran Indonesia dan pemalsua identitas. Serta di perbatasan Indonesia dengan Timor Leste adalah penyelundupan bahan bakar minyak bersubsidi dari Indonesia ke Timor Leste dan proses intergase masyarakat eks-pengungsi Timor Leste di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.

Hasil riset ini merupakan riset multi dimensi dan juga melibatkan banyak aktor seperti pemerintah, aparat, perusahaan dan masyarakat. Hal ini menjadi kajian yang kompleks, melibatkan banyak aspek, seperti aspek sosial, ekonomi, keamanan dan juga budaya. 

“Meretas Batas Ilmu”  Sebuah Karya Perjalanan Intelektual Guru Besar Sosial Humaniora

“Meretas Batas Ilmu” Sebuah Karya Perjalanan Intelektual Guru Besar Sosial Humaniora

Pada Jumat (6/12) di Balai Sidang Universitas Indonesia, Guru besar Sosial Humaniora meluncurkan sekaligus membedah buku “Meretas Batas Ilmu” yang ditulis oleh Prof. Dra. M. A. Yunita Triwardani W, M.S., M.Sc. PhD (Dosen dan Guru Besar FISIP UI), Prof. Melani Budianta, Ph.D (Dosen dan Guru Besar FIB UI) dan Rahayu S. Hidayat. Buku ini juga di review oleh Dra. Francisia Saveria Sika Ery Seda, M.A., Ph.D dan Prof. Kamanto Sunarto, S.H., Ph.D.

Berawal dari ide untuk mengundang Guru Besar Fakultas di bawah rumpun Sosial Humaniora dalam lokakarya untuk membagikan tulisan dan ceritanya kedalam buku berjudul Meretas Batas Ilmu: Perjalanan Intelektual Guru Besar Sosial Humaniora. Buku ini merupakan himpunan dari kisah sepuluh Guru Besar bidang Ilmu Sosial Humaniora Universitas Indonesia dalam mengawali, menumbuh-kembangkan dan menghasilkan karya-karya ilmiahnya.

Rentang perjalanan yang panjang dari setiap Guru Besar tidak berlangsung secara linear, mulus dan sederhana. Tidak seluruhnya berawal dari rintisan karier yang sejalan dengan minat dan pilihan nuraninya. Namun para Guru Besar merintis karier dalam disiplin ilmu dengan landasan teoretis, konseptual dan metodologis yang ditumbuh kembangkan oleh ilmuwan-ilmuwan manca negara, mereka ternyata mampu memadukan pengetahuan itu dengan fenomena empiris sosial-budaya yang terwujud di bumi Indonesia.

Meretas batas disiplin ilmu pun dilakukan agar dapat menyumbangkan karya ilmiahnya secara lebih optimal bagi pengembangan ilmu dan kemaslahatan bangsa dan negara Indonesia. Pergulatan dan perjuangan yang dialami mereka melalui dialektika beragam teori, konsep, metodologi dengan kehidupan nyata masyarakat dan budaya Indonesia, melahirkan karya-karya ilmiah yang unggul menuju lahir dan tumbuhnya “Ilmu Sosial-Humaniora”.

“Ketika membaca tulisan kesepuluh tulisan Guru Besar ini adalah percampuran pengetahuan yang seluruh hidup digeluti dan juga pengalaman hidup. Jadi buku ini mengajak kita untuk mengenal pikiran-pikiran dan juga sebagian hidup Guru Besar” Ungkap Francisia Seda.

Francisia Seda sebagai reviewer juga menjelaskan enam pola besar didalam buku ini. Intinya adalah keilmuan tidak pernah linier atau non linier dan bersifat multi-displin. Buku ini juga bukan hanya tentang keilmuan saja tetapi juga tentang pegabdian masyarakat. Pengabdian masyarakat juga bagian dari perjalanan pengetahuan.

Menurut Kamanto Sunarto dari enam topik itu intinya memang uraian mengenai perkembangan ilmu dan perluasan kekayaan intelektual. Ada satu hal yang menarik yaitu kesepuluh Guru Besar Sosial Humaniora tetap melakukan dan melibatkan diri untuk pengabdian masyarakat disela-sela kesibukannya menjadi Guru Besar. Karena pengabdian masyarakat sering luput dari perhatian.

Eksplorasi Struktur Kesenjangan Informasi Di dalam Jaringan Informasi Pariwisata Selam Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo

Pada Kamis (5/12) Agustinus Rusdianto Berto berhasil menyandang gelar doktor Ilmu Komunikasi, setelah berhasil mempertahankan hasil disertasinya yang berjudul “Celah Struktur dalam Industri Pariwisata Selam (Dinamika Tertius dalam Struktur Jaringan Informasi Pemadu Selam Lokal di Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo)” di hadapan para penguji. Sidang promosi doktor Agustinus Rusdianto Berto dilaksanakan di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI.

Berangkat dari latar belakang gelombang kompetisi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah di depan mata namum sebagai salah satu negara anggota ASEAN, kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia untuk menghadapinya kerap dipertanyakan. Tetapi pada sektor pariwisata, pemerintah Indonesia begitu optimis, meyakini bahwa kualitas dan kuantitas tenaga kerjanya paling siap menghadapi MEA dibanding dengan sektor-sektor tenaga kerja lainnya.

Bahkan sejak tahun 2016, industri pariwisata Indonesia telah mampu menyumbang devisa terbesar kedua setelah industri kelapa sawit, mengalahkan sektor migas bahkan di proyeksi akan terus meningkat setiap tahunnya. Namun bila ditelisik pada kawasan ASEAN, Indonesia tetap berada di belakang Singapura, Malaysia dan Thailand karena lemah dalam indikator keberlangsungan lingkungan, infrasruktur jasa pariwisata, transportasi, sumber daya budaya dan perjalanan bisnis.

Hal ini erat kaitannya dengan persoalan otonomi daerah, yakni kesiapan setiap daerah dalam mengelola sumber dayanya masing-masing untuk mengahadapi iklim pariwisata yang cenderung kompetitif bahkan konfrontatif.

Disertasi ini bertujuan untuk mengeksplorasi struktur kesenjangan informasi beserta celah-celah struktur kesenjangan informasi beserta celah-celah struktur dan dinamika peran tertius didalam jaringan informasi pariwisata selam pada Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo.

Hasil dari disertasi ini yang pertama adalah informasi sosiokultural lebih mendominasi struktur kesenjangan informasi pariwisata selam dari pada informasi teknis kepariwisataan itu sendiri. Kedua, teradapat aktor yang mampu memainkan peran keperantaraan informasi pariwisata melalui strategi tertius gaudens dan tertius iungens, sehingga dapat mengokupasi posisi-posisi yang signifikan di dalam celah-celah struktur jaringan informasi pariwisata selam, terutama dalam hal diskursus informasi sosiokultural. Ketiga, dari temuan beberapa tertius sebelumnya, salah seorang diantaranya begitu kompeten dalam memainkan peran dan strategi bertransformasi menjadi tertius contingens dengan piawai memainkan peran dan strategi dualitas tertius gaudens dan tertius iungens, baik secara bergantian maupun bersamaan, sebagai bentuk mekanisme adaptasinya terhadap kondisi gejolak jaringan.

Hadir sebagai ketua sidang, Prof. Dr. Dody Prayogo, MPSt. Promotor dalam sidang doktor Agustinus adalah Prof. Dr. Ilya R. Sunarwinadi, M.Si. Sedangkan yang menjadi kopromotor adalah Dr. Pinckey Triputra, M.Sc. Sementara itu, anggota penguji terdiri dari Prof. Alois Agus Nugroho, Ph.D., Dr. Frans Teguh, M.A., Dra. Hendriyani, M.Si., Dr. Eriyanto, M.Si.

Dinamika Penguasaan Tanah Dan Eksploitasi Sumber Daya Alam Yang Berdampak Pada Krisis Sosio-Ekologi Di Wilayah Teluk Kao, Maluku Utara

Pada Kamis (5/12) Saiful Totona berhasil menyandang gelar doktor Sosiologi, setelah berhasil mempertahankan hasil disertasinya yang berjudul “Krisis Sosio-Ekologi: Dinamika Penguasaan Tanah dan Eksploitasi Sumber Daya Alam di Wilayah Teluk Kao” di hadapan para penguji. Sidang promosi doktor Saiful Totona dilaksanakan di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI.

Hadir sebagai ketua sidang, Julian Aldrin Pasha Rasjid, M.A, Ph.D. Promotor dalam sidang doktor Saiful Totona adalah Prof. Dr. Dody Prayogo, MPSt. Sedangkan yang menjadi kopromotor adalah Dra. Francisia Saveria Sika Ery Seda, M.A., Ph.D. Sementara itu, anggota penguji terdiri dari Dedy Supriadi Adhuri, Ph.D., Dr. Deddy Heryono Gunawan., Dr. Semiarto Aji Purwanto, M.Si., Dr. Ricardi S. Adnan, M.Si., Dr. Ida Ruwaida, M.Si.

Fokus penelitian disertasi Saiful Totona adalah dinamika penguasaan tanah dan eksploitasi sumber daya alam yang berdampak pada krisis sosio-ekologi di wilayah Teluk Kao, Maluku Utara. Krisis sosio-ekologi bukan hanya merupakan akibat langsung dari eksploitasi sumber daya alam tetapi telah terjadi sejak perubahan penguasaan tanah yang menciptakan ketimpangan dan retaknya relasi sosial.

Krisis sosio-ekologi yang terjadi akibat pencerabutan masyarakat atas tanahnya, pencemaran tanah, sungai dan laut sebagai sarana utama produksi-konsumsi. Limbah pertambangan juga diduga melahirkan beberapa penyakit aneh, gatal-gatal yang diderita masyarakat bahkan diduga mengakibatkan beberapa warga meninggal dunia. Kondisi-kondisi ini di perparah dengan retaknya hubungan antara masyarakat yang sering menimbulkan konflik kekerasan. 

Hasil studi ini menunjukan bahwa penguasaan tanah oleh negara dan perusahaan berlangsung di bawah paksaan dan kekerasan dengan melibatkan elit adat telah menciptakan ketimpangan penguasaan dan kepemilikan tanah serta retaknya relasi sosial dalam masyarakat.

Adapun eksploitasi sumber daya alam memiliki dampak negatif yang lebih luas bukan hanya menutup dan menghilangkan sarana produksi masyarakat terhadap tanah tetapi juga telah berdampak pada ketidakberlanjutan ekologi-pencemaran tanah, sungai dan laut yang mengakibatkan terganggunya keberlanjutan produksi-konsumsi masyarakat serta perubahan budaya.

Studi ini merekomendasikan agar regulasi perundang-undangan terkait penguasaan tanah dan eksploitasi sumber daya alam perlu ditinjau kembali agar dapat memulihkan krisis sosio-ekologi yang dihadapi oleh masyarakat di wilayah Teluk Kao, Maluku Utara.