Select Page
Representasi Agen dan Struktur Dalam Film Bertema Islam dan Antiradikalisme

Representasi Agen dan Struktur Dalam Film Bertema Islam dan Antiradikalisme

FISIP UI menggelar sidang terbuka Promosi Doktor Ilmu Komunikasi dengan promovendus atas nama Bahruddin. Disertasi ini berjudul “Jejak Memori Agen  Dalam Film Indonesia: Representasi Agen dan Struktur Dalam Film Bertema Islam dan Antiradikalisme”. Sidang terbuka Promosi Doktor secara daring dilaksanakan pada Jumat (06/08). Bahruddin berhasil dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Negara Indonesia adalah salah satu negara yang rentan dengan aksi  radikalisme dan terorisme. Ada banyak persoalan yang kompleks untuk menyebut penyebab terjadinya peristiwa terorisme. Di antara yang kompleks itu, banyak penelitian yang menyebut ketidakhadiran negara di tengah masyarakat seperti kesenjangan sosial dan ekonomi, ketidakadilan, sulitnya mengakses pendidikan dan kesehatan, dekadensi moral, dan lain sebagainya.

Keadaan ini dimanfaatkan oleh individu atau kelompok untuk melakukan perubahan sosial dengan cara-cara radikal atas nama agama. Realitas inilah yang ‘direkam’ dan diinterpretasikan oleh sineas, kemudian direpresentasikan ke dalam sebuah film bertema Islam dan antiradikalisme.

Ada dua permasalahan yang menjadi perhatian dalam penelitian ini: pertama, kehadiran individu atau kelompok yang membawa ideologi Islamisme yaitu membawa misi penegakan syariat Islam dalam menyelesaikan persoalan dan pembentukan tatanan sosial. Ideologi agama-politik ini kerap memicu benturan, konflik, dan tindakan yang mengarah pada radikalisme. Kedua, keyakinan agama yang dijadikan sumber tindakan politik oleh individu atau kelompok Islamis (yang membawa ideologi Islamisme) dijadikan sebagai dasar untuk melakukan tindakan sosial. Dua permasalahan inilah yang  diinterpretasikan oleh sineas, kemudian direpresentasikan dalam teks film.

Untuk menjawab dua permasalahan tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi proses dialektik antara individu atau kelompok di masyarakat yang direpresentasikan melalui teks film.

Identifikasi ini untuk mengetahui jejak memori yang dijadikan dasar tindakan sosial agen di masyarakat. Dalam teori strukturasi, Giddens berpendapat bahwa struktur (praktik sosial berulang) hanya ‘ada’ dan  tertanam dalam jejak memori agen sebagai dasar tindakan sosial. Sementara penelitian ini berpendapat bahwa ada unsur lain yaitu keyakinan agama-politik yang tertanam dalam jejak memori agen sebagai dasar melakukan tindakan sosial.

Metode penelitian ini bersifat kualitatif interpretatif dengan menggunakan analisis wacana kritis model van Dijk untuk mengkaji teks, kognisi, dan konteks sosial yang melingkupi sineas. Untuk memperoleh pemaknaan teks, penelitian ini menggunakan logika semiotika Saussure yang digabungkan dengan perangkat shot dan teknik kamera Arthur Asa Berger. Teori substantif yang digunakan adalah mensitesiskan teori strukturasi dengan konsep Islamisme.

Paradigma yang digunakan adalah kritis konstruktivis untuk ‘memperjuangkan’ nilai-nilai universal berdasarkan realitas yang direpresentasikan dalam film. Unit analisisnya adalah film-film Indonesia bertema Islam dan antiradikalisme yaitu 3 Doa 3 Cinta (2008), Khalifah (2011), Mata Tertutup (2011), dan Bid’ah Cinta (2017).

Hasil dari disertasi ini:

  • Level teks

Wacana yang dibangun dalam teks film Indonesia bertema Islam dan antiradikalisme adalah wacana Yahudi dan Nasrani; cadar; Islam murni; serta hijrah dan jihad. Keempat wacana ini diangkat untuk mengidentifikasi tindakan sosial yang dilakukan oleh kelompok Islamis dalam masyarakat Muslim Indonesia. Interakasi agen dan struktur masyarakat Muslim yang dikemas dalam film Indonesia memperlihatkan bahwa para agen (agensi) selalu melakukan tindakan sosial yang merujuk pada ideologi Islamisme dengan pemahaman Islam politik global, khususnya dari Timur Tengah.

Untuk menangkal tindakan radikalisme oleh agen, sineas memunculkan tokoh sebagai agen-agen yang mereproduksi struktur denga cara mengembalikan aturan lama yang dianggap menciptakan kedamaian dan kerukunan di masyarakat.

Keempat film yaitu 3 Doa 3 Cinta, Khalifah, Bid’ah Cinta dan Mata Tertutup memperlihatkan bahwa gagasan Giddens tentang rutinitas atau praktik sosial berulang (struktur) yang tertanam pada jejak memori agen dalam ruang dan waktu, tidak selamanya benar. Ada unsur lain yaitu keyakinan agama-politik yang kemudian tertanam dalam jejak memori sehingga menjadi dasar tindakan agen. Hasil ini sekaligus mengkritik pendapat Giddens dalam teori strukturasi yang hanya menempatkan struktur (praktik sosial berulang) dalam jejak memori agen.

  • Kognisi Sosial

Dalam skema kognisi sosial sineas dapat disimpulkan bahwa latar belakang sineas memberikan pengaruh dalam memaknai realitas sosial untuk kemudian direproduksi dalam sebuah film.

Hasil riset yang digambarkan dalam film memperlihatkan bahwa perekrutan yang dilakukan oleh kelompok Islamis radikal adalah untuk tujuan mendirikan negara Islam Indonesia. Film ini juga menggambarkan ada kelompok Islam radikal lainnya yang mengancam negara dengan cara memanfaatkan para remaja untuk dijadikan martir atas nama menjalankan jihad guna memperoleh kemuliaan mati syahid. Pengalaman sineas yang pernah konfrontasi dengan kelompok Islam Front Pembela Islam (FPI) bersama 39 tokoh dari beragam profesi saat mengajukan uji materi pasal penghinaan agama di Mahkamah Konstitusi sebelum film Mata Tertutup diproduksi, melekat dalam diri sineas dan cukup kuat memengaruhi alur cerita film.

  • Konteks Sosial

Produksi keempat film didasarkan pada realitas sosial yang sedang berkembang pada saat film di produksi seperti isu radikalisme pasca perstiwa penyerangan WTC 9/11 dan rentetan pengeboman yang terjadi di Indonesia.

Isu ini kemudian dilatarbelakangi oleh penafsiran ayat-ayat suci Al Quran yang menyangkut hubungan Islam dengan Yahudi dan Nasrani, serta penekanan tindakan jihad dengan dalil yang telah ditafsirkan  seperti ditunjukkan dalam film 3 Doa 3 Cinta dan Mata Tertutup.

Film-film ini menunjukkan bahwa kelompok Islamis di Indonesia berpotensi melakukan tindakan radikalisme yang berkembang menjadi terorisme. Untuk menegaskan penafsirannya tersebut, keempat film ini mengaitkan peristiwa-peristiwa terorisme yang terjadi di Indonesia dan peristiwa 11/9 di WTC Amerika Serikat dengan kelompok Islamis yang bermunculan di Indonesia melalui organisasi dakwah, kelompok pengajian, organisasi politik, atau individu-individu.

Hubungan kelompok Islamis dengan tindakan radikalisme ini ditunjukkan keempat Film dengan menyisipkan adegan berita terorisme di televisi maupun keterlibatan para tokoh Islamis dalam peristiwa terorisme. Tema ini sekaligus menunjukkan bahwa subjektivitas sineas dalam menentukan kelompok-kelompok Islam mana yang dianggap dekat dengan ideologi Islamisme sehingga berpotensi melakukan tindakan radikalisme.

Dalam posisi ini, para sineas memiliki kekuasaan dan akses yang memudahkan mereka mengkonstruksi gagasannya ke dalam sebuah film. Sekalipun sineas mengaku tidak bisa diintervensi dalam membuat karyanya, namun tak bisa dibantah bahwa isu tentang Islam dan antiradikalisme sangat menarik bagi dunia internasional, khususnya Barat. Hal ini dapat dibuktikan bahwa sineas Nurman Hakim mengaku tidak sulit untuk mencari dana dalam produksi film-filmnya. Salah  satunya adalah 3 Doa 3 Cinta yang dibiayai oleh endowment internasional pasca film ini diproduksi.

  • Reproduksi Struktur

Melihat perubahan-perubahan yang dilakukan oleh agen-agen dalam masyarakat Muslim yang dianggap membahayakan masyarakat dan negara, sebagaimana yang digambarkan sineas dalam film, posisi sineas dalam keempat film ini memperlihatkan bahwa mereka berupaya untuk mereproduksi struktur dengan cara melanggengkan struktur dan menegaskan kembali aturan-aturan yang ada. Namun reproduksi ini disertai dengan kritik sosial para sineas terhadap masyarakat dan negara.

Oleh karena itu, reproduksi yang dilakukan sineas adalah dengan melakukan kritik melalui adegan-adegan film untuk tujuan  mengembalikan struktur sebelumnya sekaligus ingin memperbaiki struktur. Tidak hanya melalui dialog dan cerita tapi juga melalui simbol-simbol keindonesiaan seperti pakaian kerudung khas Indonesia, peringatan Maulid Nabi, Nishfu Sya’ban, ziarah kubur, musik-musik etnis khas Mingkabau, Jawa, lagu nasional, dan simbol-simbol lainnya.

  • Film sebagai Hasil Kerja Kreatif dan Media Propaganda

Di satu sisi, para sineas merespon persoalan sosial di masyarakat untuk dijadikan sebagai kerja kreatif dalam bentuk film. Artinya, film yang mereka produksi didasarkan pada isu-isu sosial yang sedang berkembang untuk direpresentasikan dan disampaikan kepada khalayak.

Namun di sisi lain, ada banyak faktor yang memengaruhi para sineas dalam memproduksi film seperti latar belakang pendidikan, budaya, politik, individu, kelompok atau organisasi, lembaga donor, dan lain sebagainya sehingga mendorong mereka untuk membawa kepentingan tertentu seperti mempropagandakan pemahaman Islam lokal (Indonesia) yang dianggap lebih ramah dan toleran terhadap agama lain.

Sebaliknya, mereka juga melakukan propaganda bahwa kelompok Islamis adalah kelompok yang berpotensi radikal sehingga mengancam kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara. Propaganda ini mereka kemas secara kreatif melalui bahasa, simbol, dan skema cerita yang menarik bagi masyarakat.

Relasi sineas dengan organisasi besar seperti NU dan Muhammadiyah memberikan pengaruh signifikan dalam kerja kreatif mereka. Tradisi ziarah kubur, peringatan Maulid Nabi, dan Nishfu Sya’ban yang menjadi bagian dari cerita di film, sangat dekat dengan tradisi NU di Indonesia.

 

Sekalipun sebagai bentuk respon terhadap persoalan sosial di masyarakat, individu atau kelompok yang banyak bermunculan dalam dua dekade terakhir dengan mengatasnamakan Islam, tindakan mereka tidak selalu melahirkan solusi di masyarakat, baik dalam mengangkat masalah kesejahteraan, perdamaian, keadilan, kesetaraan, kebebasan, maupun nilai-nilai universal lainnya.

Tindakan pemaksaan untuk melakukan praktik-praktik sosial sesuai syariat Islam (yang telah ditafsirkan) dalam masyarakat lokal justru tidak menjadi jalan keluar dalam mengatasi krisis sosial dan kemanusiaan. Sebaliknya, perubahan yang dilakukan dengan cara-cara kekerasan telah menimbulkan persoalan baru di masyarakat seperti kekacauan, ancaman, intoleransi, hingga kekerasan.

Harus diakui bahwa kondisi sosial di Indonesia mengalami ketimpangan dalam ekonomi, ketidakadilan dalam mengakses pendidikan dan kesehatan, ketidakseteraan sosial, hilangnya persamaan hak dalam hukum, dan lain sebagainya. Namun bukan berarti tindakan kekerasan yang dilakukan oleh individu atau kelompok menjadi sebuah pembenaran. Respon dan kritik sosial harus ditegakkan dengan tetap memegang teguh nilai-nilai universal.

Sebagai sebuah media, film memiliki peran besar dan signifikan dalam mereproduksi realitas sosial ke dalam realitas teks. Film mampu merekam sekaligus merekayasa dengan cara menggambarkan peristiwa-peristiwa sosial ke dalam sebuah medium yang disebarkan dengan cepat kepada masyarakat. Sebagai media, film menjadi salah satu pilar demokrasi untuk menegakkan nilai-nilai universal dengan seperangkat teknologi yang canggih.

Namun sayang, kemampuan ini harus ditopang dengan melibatkan penyandang dana, baik komersial maupun sosial; profit maupun non-profit. Keterlibatan kekuasaan dalam bidang finansial inilah yang kerap memengaruhi sineas dalam memproduksi pesan-pesan dalam film. Isu-isu yang lekat dengan konteks sosial dikomodifikasi untuk kepentingan lembaga donor atau investor.

Baik untuk keuntungan material-komersial maupun keuntungan immaterial seperti dukungan lembaga donor internasional maupun penghargaan dalam festival-festival. Hal iini termasuk campur tangan negara, baik dalam bentuk finansial maupun aturan dan kebijakan. Di sisi lain, latar belakang sosial dan pengetahuan dari seorang sineas tak bisa dipisahkan dalam penyusunan skema cerita selama proses produksi film.

Kontradiksi Proksemik pada Warga Relokasi Bantaran Kali Ciliwung

Kontradiksi Proksemik pada Warga Relokasi Bantaran Kali Ciliwung

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) menggelar sidang terbuka Promosi Doktor Ilmu Komunikasi dengan promovenda atas nama Melati Mediana Tobing. Melati menyampaikan penelitian disertasi dengan judul, “Kontradiksi Proksemik pada Masyarakat Kolektivistik Kampung Kota (Tinjauan Komunikasi Antarbudaya terhadap Perubahan Konteks Ruang di Rumah Susun oleh Warga Relokasi Bantaran Ciliwung Kampung Pulo)”. Promotor Melati adalah Prof. Dr. Ilya Revianti S. Sunarwinadi, M. Si. dengan Kopromotor Endah Triastuti, M.Si., PhD. Melati menjalani sidang terbuka secara daring pada Rabu (04/08), dan berhasil dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Penguji dalam sidang ini adalah Prof. Dr. Alois Agus Nugroho, Ph.D.; Dr. Widjajanti Santoso, M. Litt.; Prof. Zulhasril Nasir, Ph.D.; Prof. Dr. Billy K. Sarwono, M.A.; Dr. Hendriyani; dan Inaya Rakhmani, M.A., Ph.D. Sidang diketuai oleh Dr. Arie Setiabudi Soesilo, M.Sc.

Disertasi Melati adalah penelitian komunikasi antarbudaya khususnya tentang proksemik atau jarak komunikasi pada warga relokasi Kampung Pulo di rumah susun sewa Jatinegara Barat. Konflik komunikasi antarbudaya yang dialami warga relokasi bantaran Ciliwung tersebut karena konteks ruang hunian yang berubah, yaitu dari hunian horisontal yang organik dan terbuka menjadi hunian vertikal yang terstruktur dan tertutup. Kemudian melakukan analisa komunikasi antarbudaya melalui pendekatan teori proksemik. Teori ini pernah populer di Amerika Utara (1960-1980) saat mengkaji persepsi jarak komunikasi pada para diplomat Amerika Serikat, yang rupanya masih relevan dalam mengkaji persepsi ruang masyarakat kampung kota di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, melalui wawancara kepada empat keluarga sebagai narasumber dengan menggunakan delapan dimensi proksemik, yaitu: postural-sex identifiers (identifikasi postur berdasarkan jenis kelamin), sociofugal-sociapetal axis (sumbu sosiofugal-sosiopetal), kinesthetic factors (faktor kinestetik), touching (sentuhan), retinal combinations (kombinasi tatapan mata), thermal code (kode panas suhu tubuh), oldfaction code (kode penciuman), dan voice loudness scale (skala kerasnya suara).

Penelitian ini mengidentifikasi adanya satu dimensi lain yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan rumah susun, yaitu dimensi iklim (climate). Konsep rumah susun adalah teknologi yang mengadopsi budaya individualistik yang umumnya mengalami 4 musim, sehingga menjadi kontradiktif dengan hunian masyarakat kolektivistik di belahan selatan dunia yang mengalami 2 musim. Hunian pada masyarakat kolektivistik cenderung terbuka, di mana komunikasi terjadi pada ruang-ruang informal tak terstruktur dengan konsep form follow function. Interaksi antarwarga kolektivistik yang guyub berlangsung secara dinamis dan tidak mengenal batasan gender maupun usia. Mereka terbiasa berkumpul di ruang-ruang terbuka yang dialiri hembusan angin sejuk kali Ciliwung, sehingga dapat dipahami perbedaan kenyamanan mereka saat harus tinggal pada hunian vertikal yang tertutup rapat.

Dalam penelitian ini merekomendasikan analisa proksemik pada level mikro di empat ruang rumah susun sebagai dasar perencanaan hunian vertikal bagi masyarakat kolektivistik, yaitu: (a) ruang antarkamar, (b) ruang antarunit, (c) ruang antarlantai, dan (d) ruang antarbangunan. Analisa empat ruang dengan menggunakan sembilan dimensi proksemik dapat membantu perencana lingkungan dalam membuat hunian yang lebih nyaman bagi warga kota yang tidak memiliki akses dalam memperoleh pendidikan dan penghasilan yang tinggi. Mereka yang mengadu nasibnya pada usaha kaki lima atau tenaga kasar, yang ikut membantu jalannya roda perekonomian kota sejak era kemerdekaan Indonesia.

Program revitalisasi utilitas kota Jakarta maupun kota-kota lainnya yang berdampak pada relokasi hunian masyarakat yang mengutamakan tinggal bersama kelompoknya ini, kiranya perlu mempertimbangkan proses adaptasi warga secara kolektif. Karenanya, penelitian ini melihat ada 5 (lima) tahapan pembentukan kesadaran kolektif saat orang kolektivistik bantaran kali direlokasi ke hunian vertikal, yaitu: (a) Collective Powerless stage (tahap ketidakberdayaan kelompok), (b) Individual Adaptation stage (tahap adaptasi individu), (c) Individual Internalization stage (tahap internalisasi individu), (d) Collective Internalization stage (tahap internalisasi kolektif), (e) Collective Awareness stage (tahap kesadaran kolektif).. Kelima tahap ini lebih efektif bila dilakukan melalui proses dialog secara langsung antara warga relokasi sebagai calon penghuni dengan pihak perencana kota, dengan peranan pihak ketiga hanya sebagai mediator. Upaya menemukan konsep ruang untuk memfasilitasi interaksi warga kolektifistik kampung kota tersebut menjadi data utama perencanaan pemukiman dan perkotaan, yang dapat disebut dengan analisa dampak sosial budaya.