Select Page
Prof. Dr. Semiarto Aji: Antropolog Dituntut untuk Memberikan Penjelasan yang Tajam, Mendalam dan Holistik

Prof. Dr. Semiarto Aji: Antropolog Dituntut untuk Memberikan Penjelasan yang Tajam, Mendalam dan Holistik

Simposium Internasional Jurnal Antropologi Indonesia (ISJAI) ke-8 diselenggarakan oleh FISIP UI bekerja sama dengan FISIP Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) di Auditorium Unsrat pada Selasa (02/07). Dalam acara tersebut, Dekan FISIP UI Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto memberikan sambutannya. Ia mengatakan, bahwa kerjasama antar perguruan tinggi di Indonesia harus lebih intensif dilakukan. Guru Besar Antropologi FISIP UI itu mengatakan, “berkaitan dengan tema simposium ini, yaitu peran antropologi di masa krisis multidimensi, ketika berbagai krisis datang, maka para antropolog dituntut untuk memberikan penjelasan yang tajam, mendalam dan holistik.”

Pandemi Covid-19 telah melanda setiap negara di dunia, mempengaruhi kehidupan dengan cara yang luar biasa. Berbeda dengan pandemi Covid-19, tidak semua orang langsung merasakan dampak perubahan suhu global dan aspek perubahan iklim lainnya karena dampak perubahan iklim sebagian besar bersifat jangka panjang, ada sedikit tekanan bagi para pemimpin dunia untuk bertindak cepat untuk mengatasi masalah dan isu-isu dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. Namun, tidak ada yang bisa lepas dari konsekuensi yang disebabkan oleh perubahan iklim.

Jika dua atau lebih krisis terjadi secara bersamaan, itu menciptakan potensi risiko synchronous failure yang tinggi. Risiko ini dapat diperburuk oleh kekurangan kapasitas negara untuk menangani bencana dan berdampak secara simultan.

Keyakinan budaya dalam beberapa kasus dapat memobilisasi tindakan untuk mengatasi dampak bencana, tetapi dalam konteks lain juga dapat menghambat mobilisasi praktis dari pemerintah daerah dan masyarakat untuk menangani bencana. Mengingat dimensi sosial, budaya dan politik dari etiologi bencana dan manajemen krisis, Antropologi memainkan peran penting dalam menangani krisis ini.

Melalui simposium ini harapannya dapat memperoleh wawasan tentang bagaimana para antropolog dalam penelitian mereka dan bekerja sama dengan rekan-rekan di latar belakang disiplin lain telah terlibat dengan masalah ini. Perspektif antropologi dapat membuat perbedaan ketika mencoba untuk terlibat dengan isu-isu tersebut dan memberikan kontribusi dalam masyarakat kita untuk mencegah dan mengurangi bencana seperti itu.

Simposium Internasional Jurnal Antropologi Indonesia ini dibuka oleh Wakil Gubernur Sulawesi Utara, serta dihadiri oleh Hilmar Farid, Ph.D selaku Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan Dr. Ir. Bambang Supriyanto, M.Sc. sebagai Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

Sudah delapan kali Jurnal Antropologi Indonesia Universitas Indonesia menggelar simposium internasional. Kali ini dilaksanakan bekerjasama dengan Jurusan Antropologi Universitas Sam Ratulangi Manado.

“Secara pribadi, saya sangat senang mendapat kesempatan bekerja sama dengan rekan-rekan di Manado. Kerjasama antar perguruan tinggi di Indonesia harus lebih intensif dilakukan. Sehubungan dengan simposium ini, kami menawarkan kepada Universitas Sam Ratulangi dan seluruh peserta untuk lebih bekerjasama dalam menerbitkan artikel di beberapa jurnal dan buku, tidak hanya pada prosiding symposium,” ujar Dekan FISIP UI Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto.

“Menurut saya, sangat tepat memilih Manado untuk menjadi tuan rumah simposium kali ini. Sejak awal, Jurnal Antropologi Indonesia memang berniat mengadakan simposium internasional di luar kampus UI dengan harapan masyarakat lokal lebih banyak sarjana dapat bergabung sebagai pembicara dan peserta,” ujar Prof. Semiarto.

Selain pertimbangan itu, Manado juga merupakan representasi Indonesia yang berbeda dengan wilayah Indonesia bagian barat lainnya seperti Jawa dan Sumatera. Manado, dan banyak wilayah Indonesia bagian timur, mewakili Indonesia yang relatif kurang terpengaruh oleh peradaban Hindu, tetapi lebih mudah menerima pengaruh barat.

Lebih lanjut Dekan FISIP UI tersebut mengatakan, berkaitan dengan tema simposium ini, yaitu peran antropologi di masa krisis multidimensi, saya yakin Manado, Sulawesi Utara, dan Indonesia bagian timur dapat menjadi contoh bagaimana seharusnya para antropolog bekerja. Wilayah Indonesia Timur telah lama menjadi perhatian para antropolog di seluruh dunia. Mereka menghasilkan banyak teori dan penjelasan tentang struktur sosial, simbol, kekerabatan, kearifan ekologi, dll.

Dalam konteks saat ini, ketika berbagai krisis datang, maka para antropolog sekali lagi dituntut untuk memberikan penjelasan yang tajam, mendalam, dan holistik. Di sinilah kita sekarang akan bertabrakan dengan data, mendiskusikan temuan kita, dan menyempurnakan konsep untuk menghasilkan penjelasan baru.

“Saya pribadi terlibat dalam penyelenggaraan rangkaian simposium sebelumnya sejauh ini. Pada kesempatan yang baik ini, saya ingin mengajak para peserta untuk melihat sejarah acara yang rutin diadakan sejak tahun 2000 ini. Simposium ini tidak akan pernah terlaksana tanpa inisiatif dari Prof. Yunita Winarto, Pemimpin Redaksi Jurnal Antropologi Indonesia saat itu,” tutup Guru Besar Antropologi itu.

Performativitas Perempuan dan Transpuan Pekerja Seni: Memanfaatkan Panggung Sebagai Media Untuk Memperlihatkan Diri yang Sebenarnya

Performativitas Perempuan dan Transpuan Pekerja Seni: Memanfaatkan Panggung Sebagai Media Untuk Memperlihatkan Diri yang Sebenarnya

Adhalina Maria resmi menjadi doktor dalam bidang antopologi. Gelar tersebut resmi didapatkan setelah Adhalina berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Agensi dan Performativitas Gender Perempuan dan Transpuan Pekerja Seni dalam Merespon Konstruksi Gender pada Topeng Betawi” pada sidang promosi doktor yang dilaksanakan secara hybrid di Auditorium Juwono Sudarsono, Kamis (21/07).

Sidang promosi doktor Adhalina dengan promotor Prof. M.A. Yunita Triwardani W, MS., M.Sc., Ph.D dan kopromotor Mia Siscawati, M.A., Ph.D serta para penguji Dr. Gabriel Roosmargo Lono Lastoro Simatupang, M.A., Lugina Setyawati Setiono, M.A., Ph.D., Dr. Irwan Martua Hidayana., dan Dave Lumenta, Ph.D.

Disertasi ini menggambarkan perempuan dan transpuan pekerja seni yang memiliki dua ranah kehidupan, yaitu ranah kehidupan sehari-hari dan ranah seni pertunjukan, dalam menghadapi konstruksi gender pada komunitas Topeng Betawi.

Fokus pada disertasi ini memiliki tiga hal. Pertama adalah performativitas gender dan agensi dari pengalaman perempuan pekerja seni yang merespon subordinasi perempuan pekerja seni, seperti perempuan yang tidak dapat menjadi pemimpin, domestikasi perempuan, dan pembungkaman suara perempuan. Kedua, performativitas gender dan agensi dari perempuan pekerja seni yang merespon kekerasan berbasis gender dan pelecehan seksual. Ketiga, performativitas gender dan agensi dari transpuan pekerja seni dalam merespon diskriminasi dan kekerasan gender yang tentunya memiliki perbedaan dari pengalaman perempuan pekerja seni.

“Penelitian ini menggunakan metode etnografi yang membuat saya melakukan partisipasi secara total dalam kehidupan sehari-hari dari informan yang diteliti. Penelitian ini juga memberikan kebaruan dalam performativitas gender dan agensi yang dimiliki oleh individu dengan dua ranah kehidupan,” ujar Adhalina.

Konstruksi gender seperti subordinasi terhadap perempuan, diskriminasi dan kekerasan berbasis gender yang terdapat dalam komunitas Topeng Betawi tercipta dari kompilasi antara nilai budaya patriarki, norma heteronormativitas, dan ajaran agama Islam yang digunakan sebagai pedoman dalam menjalankan hidup sehari-hari.

Adhalina menjelaskan bahwa perempuan pekerja seni merespon subordinasi dan kekerasan berbasis gender secara berbeda antara ranah kehidupan yang satu dengan yang lain. Ketika berada di ranah seni pertunjukan mereka merespon tindakan tersebut dengan menunjukkan performativitas gendernya sebagai perempuan yang memiliki kedudukan setara dengan laki-laki dan sebagai perempuan yang tidak bisa menerima perlakuan kekerasan. Mereka berhasil mewujudkan intensinya sehingga menghasilkan agensi yang dapat menghentikan tindakan subordinasi dan kekerasan berbasis gender yang dilakukan oleh lawan mainnya di atas panggung.

“Namun, ketika berada di kehidupan sehari-hari, mereka melakukan performativitas gendernya sesuai dengan harapan masyarakatnya yaitu menempatkan dirinya di bawah laki-laki dan menerima perlakuan kekerasan sebagai hukuman atas dirinya yang tidak dapat menjalankan perannya sebagai perempuan dengan baik. Mereka mengganggap pelecehan seksual sebagai sesuatu yang wajar, namun bisa diminimalisir dengan menjadi perempuan yang saleh,” tambahnya.

“Dalam hal performativitas gender, perempuan dan transpuan pekerja seni memanfaatkan panggung sebagai media dalam memperlihatkan diri mereka yang sebenarnya. Hal itu karena nilai budaya patriarki, norma heteronormativitas, dan ajaran agama tidak terlalu berpengaruh dalam ranah seni pertunjukan. Jadi, kelonggaran pertunjukan Topeng Betawi dapat mendukung performativitas gender dari perempuan dan transpuan pekerja yang sebenarnya ingin mereka lakukan,” jelas Adhalina.

Lebih lanjut ia menjelaskan, makna panggung pertunjukan bagi perempuan dan transpuan pekerja seni adalah sebagai arena yang paling “jujur’. Mereka dapat memainkan lakon sebagai orang lain, namun sesungguhnya sedang menunjukkan diri yang sebenarnya tapa takut diadili oleh komunitasnya karena berlindung atas nama pertunjukan yang menghibur penonton.

Hasil Penelitian

Penelitian ini menunjukkan empat hal. Pertama, dalam merespon konstruksi gender, perempuan dan transpuan pekerja seni melakukan performativitas gender yang berbeda antra ranah kehidupan sehari-hari dengan ranah seni pertunjukan. Kedua, komponen pembentuk agensi perempuan dan transpuan pekerja seni tidak selalu muncul pada setiap ranah kehidupannya. Artinya, komponen agensi yang satu belum tentu muncul dalam ranah kehidupan lainnya. Ketiga, terjadi keterlindanan agensi dari perempuan dan transpuan pekerja seni pada kedua ranah kehidupannya yaitu, ranah kehidupan sehari-hari dengan ranah seni pertunjukan. Keempat, seni pertunjukan yang tidak memiliki naskah dan aturan atas dialog dan akting yang baku telah memberikan kesempatan bagi pekerja seninya untuk menyuarakan kesetaraan gender.

Dekan FISIP UI: Indonesia Perlu Strategi dan Kebijakan Kebudayaan yang Dirumuskan Dengan Baik

Dekan FISIP UI: Indonesia Perlu Strategi dan Kebijakan Kebudayaan yang Dirumuskan Dengan Baik

Dalam Talkshow Bung Karno Series yang tayang pada youtube BKN PDIP pada Minggu (02/07), Dekan FISIP UI sekaligus Guru Besar Antropologi FISIP UI, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto memiliki pandangan bahwa budaya pop Korea mengentak dunia secara masif dan menakjubkan. Utamanya melalui kanal musik K-Pop dan film K-Drama.

Lebih lanjut ia mengatakan, “dunia pendidikan dan pemerintahan Korea adalah lembaga yang paling bertanggungjawab atas raihan positif ini. Menurut dia, tanpa sokongan kedua institusi itu industri seni dan kebudayaan Korea saat ini tidak akan bisa menggeser hegemoni Barat.” Menurutnya, pandangan yang terlalu konservatif terhadap budaya asing yang masuk ke Indonesia harus diantisipasi. Sebab, bangsa kita sudah teruji waktu untuk mengelola keragaman sosial budaya.

“Ini adalah pandangan pesimis dan penuh ketakutan, yang seperti ini bukan Bung Karno. Selain Presiden Pertama dan Proklamator, dia adalah pemikir kebudayaan yang unggul. Kita ingat dia memperkenalkan keroncong. Memang asli Indonesia tetapi instrumennya itu Portugis, Eropa. Tetapi notasinya tidak dibuat seperti Eropa tapi masuk ke langgam dari Jawa. Nah, taste-nya Indonesia,” ungkapnya.

“Tarian Maluku, itu kebudayaan barat masuk ke sana, tapi diberi taste Indonesia, menjadi Lenso. Kebudayaan adalah proses kreatif, jika dia unggul maka berubah dari nilai budaya menjadi nilai komoditas,” imbuh Aji.

“Korea dengan sengaja melakukan berbagai cara agar secara sistemik dan masif mampu menggeser dominasi kebudayaan barat. Oleh karena itu, mereka menggunakan Universitas-universitas terkemuka milik mereka sebagai ujung tombak,” tambahnya.

Prof. Semiarto menjelaskan, “dalam level negara, kita perlu strategi kebudayaan yang dirumuskan dengan baik. Korea dengan sengaja menggunakan budaya sebagai ujung tombak untuk mentransformasikan masyarakat mereka, dari yang awalnya industrial biasa menjadi industri terkemuka dan itu dimulai dari memasarkan produk budayanya sambil memperkuat etos kerja yang sesuai industri: bekerja keras, kreatif dan bertanggungjawab. Jadi proses itu jangan dilupakan. Kita butuh kebijakan kebudayaan. Secara sengaja kemudian Korea memberikan penghargaan kepada siapapun yang bersifat kreatif. Berani beda. Dimulai dari apresiasi terhadap anak-anak dalam proses penciptaan seni, negara berperan penting di dunia pendidikan. Ini menemukan kepercayaan diri.”

Korea hadir itu untuk memutus hegemoni barat, “kita bisa menggemari itu KPop dan KDrama karena relate (mengaitkan) dan justru dengan sinetron-sinetron Indonesia, kita tidak relate. Tentu selain faktor di kita, industri besar mereka menyediakan riset. Dunia industri itu akan terbantu dengan universitas yang melakukan riset. Pastinya, mereka menemukan ahli untuk ini mau dipasarkan ke mana. Indonesia adalah pasarnya. Apa sih yang kemudian menjadi ‘kegemaran apa, konteksnya seperti apa’ ini pasti dipelajari. Komentar adalah bagian yang sangat dipelajari, itu adalah feedback. Haters gunanya di situ,” jelasnya.

Meski begitu, menurut dia Indonesia tak perlu khawatir dengan adanya strategi kebudayaan ala Korea ini. Sebab, dalam kebudayaan, ia selalu bersifat resiprokal. “Ada interaksi, bukan suatu budaya masuk terus kita terima habis-habisan, di sini mengalami lokalisir, tanpa itu semua sulit terima dikonteks lokal. Tidak ada namanya masuk 100 persen. Selalu ada yang namanya pertukaran budaya,” ungkapnya.

Dunia sedang mengerucut dalam satu kebudayaan global akibat arus perkembangan teknologi informasi yang cepat. Dengan adanya itu, kita sekarang makin dipersonalisasi, semakin individual.

“Nilai-nilai kita perlu kita refresh. Generasi sekarang sangat terbuka. Ini berkas sekaligus tantangan. Mereka terbuka terhadap siapa pun dan apa pun. Kita kosmopolitan, tetapi Didi Kempot, Happy Asmara, Nella Kharisma, Via Vallen membuat kita tetap Indonesian. Ini adalah kolaborasi instrumen barat dan cita rasa lokal,” tandasnya.

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=vekVYDd036w

Doktor Antropologi Meneliti Kembalinya Kebaya Dalam Konstruksi Modern

Doktor Antropologi Meneliti Kembalinya Kebaya Dalam Konstruksi Modern

Disertasi ini mendiskusikan gejala sosial kembalinya kebaya sebagai busana nasional setelah mengalami masa ‘kehilangan’ seusai reformasi tahun 1998 akibat terjadinya perubahan struktur sosial politik bersamaan dengan keruntuhan Orde Baru. Struktur sosial politik berperan penting dalam perjalanan eksistensi kebaya sehingga ketika negara tidak hadir dalam pemosisian kebaya, maka para aktor yang berasal dari masyarakat mengambil alih peran ini, misalnya perancang mode yang merancang kebaya berdasarkan selera pasar dan cenderung tidak mematuhi pakem.

Nita Trismaya berhasil mendapatkan gelar Doktor Antropologi dari Departemen Antropologi pada sidang terbuka promosi doktor yang dilaksanakan secara hybrid pada Jumat (22/07) di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI dengaN judul disertasi “Retradisionalisasi Kebaya: Kembalinya Kebaya Dalam Konstruksi Modern Studi Kasus: Komunitas Kebaya Di Jakarta”. Pada sidang tersebut hadir promotor Jasmine Zaky Shahab, M.A., Ph.D dan kopromotor Mia Siscawati, M.A., Ph.D serta para dewan penguji, Dr. Ninuk Irawati Kleden Probonegoro, Dr. Ida Ruwaida, M.Si, Dr. Sri Murni M.Kes dan Dave Lumenta, Ph.D.

Pemahaman mengenai kebaya direlasikan dengan ranah identitas nasional, identitas perempuan Indonesia, ideologi pemersatu bangsa, merawat keberagaman budaya, menjaga dan melestarikan budaya Indonesia. Pemakaian kata “nasionalisme” oleh perempuan dari komunitas kebaya merupakan strategi untuk membangkitkan kepedulian masyarakat akan kebaya sekaligus menggugah ke-Indonesia-an.

Akan tetapi berdasarkan pengamatan penulis di lapangan, nasionalisme sebagai tema yang sering diangkat menjadi topik utama selanjutnya tampak berada di atas permukaan sebagai idealis semata ketika diimplementasikan ke dalam aktivitas sehari-hari. Data lapangan menunjukkan meski ‘rasa nasionalisme’ melalui berkebaya menjadi tema utama kegiatan komunitas, namun sering tertutupi oleh antusias anggota komunitas kebaya akan ‘rasa senang’ pada kegiatan swafoto dan tampilan berkebaya yang fashionable.

Di tengah kondisi ini, muncul para perempuan yang mendirikan komunitas kebaya dengan visi mengembalikan kebaya sebagai busana nasional dan mengenalkannya kembali ke masyarakat.

Model kebaya yang dikenakan para perempuan ini sebagian besar mengacu pada tren mode (kebaya modifikasi), sedangkan yang lain memilih kebaya berdasarkan pakem busana nasional meskipun mereka tidak bisa menghindar dari tren mode. Secara umum, gaya berkebaya para perempuan dari komunitas kebaya didominasi kebaya modifikasi yang disesuaikan dengan tren dan fungsi (kebutuhannya berbeda-beda sesuai kegiatan, lokasi, waktu, pekerjaan).

Penelitian ini dilakukan di Jakarta dan sekitarnya. Aksi para perempuan dalam proses retradisionalisasi kebaya mengatasnamakan nasionalisme namun tidak semua memiliki visi yang sama karena kebaya juga menjadi media mengekspresikan diri para perempuan dari komunitas kebaya.

Retradisionalisasi kebaya pada tataran ini lebih dipahami sebagai sebuah tindakan dari para perempuan dalam memilih dan memakai kebaya yang ditekankan pada fungsional, kenyamanan dan estetika fashion. Para perempuan yang seharusnya membawa misi mengajak masyarakat untuk kembali menyukai kebaya pada kenyataannya lebih banyak menampilkan self-image di ruang publik dan media sosial sebagai perempuan yang memakai kebaya dengan impresi percaya diri, bahagia, ekpresif dan cantik.

Dalam penelitian ini, Nita menghasilkan enam kesimpulan yaitu, (1) retradisionalisasi kebaya merupakan gejala sosial kembalinya kebaya sebagai reaksi atas detrasionalisasi kebaya yang terjadi pada awal reformasi bersamaan dengan runtuhnya Orde Baru, (2) Terjadinya perubahan struktur sosial-budaya-politik pasca reformasi telah menyebabkan para perempuan ini menjadi agen-agen yang melakukan gerakan budaya (3) Perempuan-perempuan menjadikan kebaya sebagai bentuk perlawanan terhadap kebaya yang dianggap ‘kampungan’, mengungkung, kuno, tidak praktis, hanya busana formal, pesta dan adat, (4) para perempuan mengatasnamakan nasionalisme dalam aktivitas mereka di ruang publik, namun berdasarkan temuan di lapangan, berkebaya kemudian meluas menjadi media untuk mengekspresikan diri (5) Para perempuan dari komunitas kebaya meminta dukungan pemerintah untuk mengukuhkan kembali eksistensi kebaya sebagai busana nasional melalui menjalin relasi dan kerjasama dengan elemen pemerintah, (6) eskalasi konflik internal antar para perempuan yang berkebaya diakibatkan oleh tidak kokohnya pondasi sebuah komunitas yang seharusnya bersatu.

Diskusi Buku “Hidup Bersama Raksasa” Mengkritisi Teknokrasi, Proses Pendudukan Dan Bentang Sosio-Lingkungan

Diskusi Buku “Hidup Bersama Raksasa” Mengkritisi Teknokrasi, Proses Pendudukan Dan Bentang Sosio-Lingkungan

Diskusi buku Plantation Life/Hidup Bersama Raksasa. Acara ini terselenggara atas kerjasama Departemen Antropologi FISIP UI dengan Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI) pada Jumat (27/5). Hidup Bersama raksasa, manusia dan pendudukan perkebunan sawit adalah sebuah buku karya Tania Murray Li dan Pujo Semedi dengan judul asli bukunya “Plantation Life: Corporate Occupation in Indonesia’s Oil Palm Zone”. Diskusi buku ini bertujuan untuk mengkaji persoalan pembukaan perkebunan kelapa sawit, baik dalam konteks ekologi maupun sosial, politik dan ekonomi melalui pendekatan etnografi.

Dekan FISIP UI, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto dalam sambutannya mengatakan, sangat menghargai dan berterimakasih atas inisiatif dari Departemen Antropologi FISIP UI untuk membedah atau mendiskusikan buku tersebut. Menurutnya, “Buku ini menurut saya sebagai suatu pengelanaan atau jouney yang berbeda ketika membaca buku ini dengan buku-buku lain yang mengenai perkebunan sawit. Saya juga berharap bahwa acara ini nantinya bisa menjadi awal dari kerjasama antar lembaga agar bisa lebih baik lagi.”

Judul buku dalam terjemahan Bahasa Indonesia, Hidup Bersama Raksasa. Pujo sendiri mengambil kata Raksasa yang bermakna perusahaan-perusahaan asing yang berada di Indonesia. Riset untuk buku ini dilakukan pada Kalimantan Barat pada tahun 2010 – 2014. Di suatu kecamatan di tepi sungai Kapuas, terdapat palm oil zone atau perkebunan sawit yang 45% kawasannya dijadikan konsesi perkebunan sawit.

“Buku ini juga mengangkat bentuk-bentuk kehidupan seperti, hubungan sosial, ekonomi dan politik yang didirikan oleh perusahaan perkebunan ketika mereka mengubah ruang pedesaan yang luas menjadi zona perkebunan dan bentuk kehidupan yang mereka hasilkan,” jelas Pujo.

Selanjutnya Pujo mangatakan bahwa bentuk kehidupan yang mereka hasilkan, janji kemakmuran perkebunan yang di muat dalam Tridharma Perkebunan yaitu, produksi melimpah menjadi punggung ekonomi, lapangan kerja bagi rakyat dan peningkatan penghasilan petani.

Lebih lanjut Pujo menjelaskan, “dalam riset ini kami menemukan yang jelas terjadi perkebunan besar ini melakukan penguasaan wilayah yang luas dan melakukan penelantaraan penduduk sekitar wilayah. Industri sawit diibaratkan sebagai raksasa yang rakus menggerogoti hutan kita dan mungkin akan mempercepat krisis iklim.”

Menanggapi buku tersebut, Dr. Phil. Imam Ardhianto (Ketua Program Studi Sarjana Departemen Antropologi) mengatakan bahwa Hidup Bersama Raksasa ini menjadi ‘gong’ dalam membangun tonggak alternatif arah antropologi dan ilmu sosial di Indonesia dalam tiga dimensi yaitu, “perspektif teoretik dan komitmen politik, pengorganisasian kerja etnografi serta bentuk atau genre penulisan etnografi baru.”

“Pada dimensi perspektif teoretik dan komitmen politik, buku ini mengkritisi tentang teknokrasi, raksasa, proses pendudukan bentang sosio-lingkungan. Menjelaskan proses sosio-historis dari tindak kekerasan dan penelantaran serta menawarkan penjelaskan bagaimana memadukan pendekatan ekonomi-politik agrarian dengan pendekatan diskrusif pembentukan subyek dalam etnografi,” jelas Imam.

Imam menambahkan, metode dan kerja etnografi dalam buku ini yaitu dekolonialisasi proses dan pengorganisasian kerja etnografi. “Dalam buku ini menyatakan secara eksplisit pengorganisasian kerja kolektif dari produk etnografi, selain itu buku ini mempersilakan pembaca mengetahui pembagian kerja dan relasi politik dalam sebuah riset bersama, hal yang selama ini sudah dilakukan tapi hilang tenggelam dalam monografi.”

Tania Li dan Pujo Semedi berteori pendudukan perusahaan untuk menggaris bawahi bagaimana bentuk-bentuk besar produksi kapitalis dan kontrol atas industri minyak sawit. Dengan melakukan itu, asumsi bahwa korporasi diperlukan untuk pembangunan pedesaan dengan menyatakan bahwa dominasi perkebunan berasal dari sistem politik yang mengistimewakan korporasi.