Select Page
Mengasah Kemampuan dan Memperluas Koneksi Menjadi Pengalaman Untuk Mahasiswa Magang

Mengasah Kemampuan dan Memperluas Koneksi Menjadi Pengalaman Untuk Mahasiswa Magang

Mahasiswa magang Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI, Naila Syifa mendapatkan kesempatan untuk magang di ASEAN Foundation selama lima bulan, mulai dari bulan Oktober 2021 sampai dengan Februari 2022. Ia membagikan pengalaman selama magangnya.

“Saya melakukan magang karena ingin mendapatkan pengalaman kerja di dunia nyata, menerapkan apa yang sudah saya pelajari di kampus, mengasah kemampuan baik hard skills maupun soft skills, serta memperluas koneksi saya,” jelas Naila.

Naila memilih magang di ASEAN Foundation karena ia memang tertarik dengan lingkungan kerja internasional. Di ASEAN Foundation, Naila merasakan pengalaman kerja di lingkungan multikultural yang melibatkan interaksi dengan senior, kolega, ataupun mitra dari berbagai negara berbeda baik di ASEAN maupun negara luar ASEAN, “saya memilih magang di ASEAN Foundation karena posisi magang yang tersedia (yaitu sebagai Communications Intern) sesuai dengan minat, kemampuan, dan jurusan saya.”

“Tanggung jawab saya sehari-hari dalam pengembangan konten untuk berbagai program ASEAN Foundation yang merupakan kolaborasi dengan berbagai perusahaan multinasional, seperti SAP (ASEAN Data Science Explorers dan ASEAN Young Climate Leaders Programme), Google (ASEAN Digital Literacy Programme), Huawei (ASEAN Seeds for the Future), dan Microsoft (ASEAN Cybersecurity Skilling Programme),” ujar Naila.

Naila mendapatkan berbagai tugas selama magang, tidak hanya itu saja, lebih lanjut ia menjelaskan tugasnya dalam pengembangan konten ini dimulai dari ideasi, eksekusi, monitoring, hingga evaluasi. Konten yang dikembangkan sifatnya beragam, ada konten promosi, edukasi, dan konten interaktif. Bentuknya juga bisa dalam bentuk visual, video pendek, artikel website, ataupun juga dalam bentuk e-newsletters.

“Selain tanggung jawab sehari-hari tersebut, saya juga memiliki tanggung jawab yang sifatnya insidental (tergantung kebutuhan atau permintaan). Beberapa di antaranya menjadi MC untuk beberapa acara internasional ASEAN Foundation, merancang speech untuk Ambassador dan juga Executive Director, melakukan laporan monitoring performa media sosial bulanan. Melalui berbagai aktivitas yang saya lakukan selama magang, saya juga jadi belajar untuk mengoperasikan software-software digital seperti Google Analytics, MailChimp, Crowdfire, dan Meltwater,” jelas Naila.

Adanya kesulitan yang dirasakan oleh Naila selama magang tidak menyurutkan semangatnya apalagi ia masih harus menjalankan tanggung jawab dan kewajibannya dalam perkuliahan, “manajemen waktu menjadi hal yang paling menantang bagi saya ketika melakukan magang sembari menjalankan kuliah. Menjadi kesulitan adalah ketika terjadi bentrok antara jadwal kelas saya dan jadwal rapat magang. Saya jadinya harus menghadiri keduanya bersamaan dan saya merasa kesulitan untuk membagi fokus.”

Ia juga berharap departemen/program studi ilmu komunikasi memberikan informasi terkait magang atau bekerja sama dengan perusahaan atau alumni supaya mahasiswa dapat mendapatkan pengalaman magang di perusahaan terkait, “untuk mendapat magang ini, saya perlu mencari informasinya sendiri dan prosesnya juga tidak mudah. Saya rasa, akan sangat baik apabila baik prodi ataupun fakultas dapat memfasilitasi ini,” ujar Naila menutup wawancara dengan reporter Humas FISIP UI.

Selain di ASEAN Foundation, mahasiswa FISIP juga melaksanakan magang di banyak perusahaan atau instansi pemerintahan:

  1. Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan, Kemendikbud
  2. Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional
  3. Badan Siber dan Sandi Negara Republik Inonesia
  4. Biro Kesejahteraan Sosial Setda Provinsi DKI Jakarta
  5. BTPN Syariah
  6. KAMPUS MERDEKA BANK INDONESIA (KMBI)
  7. Kementerian Badan Usaha Milik Negara
  8. Kementerian Dalam Negeri
  9. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
  10. Kementerian Pemuda dan Olahraga
  11. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
  12. Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia
  13. Kementerian Sosial
  14. Lembaga Kebudayaan Betawi
  15. Prestasi Junior Indonesia
  16. PT Environesia Global
  17. PT Rajawali Nusantara Indonesia
  18. Penta Natural Kosmetindo
  19. Ruang Berproses
  20. Sari Pacific Jakarta
  21. Shopee Indonesia
  22. ASEAN Institute for Peace and Reconciliation (ASEAN-IPR)
  23. Asia Justice and Rights (AJAR)
  24. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Republik Indonesia
  25. Ditjen Amerika dan Eropa
  26. Fraksi PKS DPR RI
  27. Humas Fraksi PKS DPR RI
  28. Kementerian Keuangan RI
  29. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia
  30. Kementerian Perdagangan Republik Indonesia
  31. Kementerian Pertahanan Republik Indonesia
  32. Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia
  33. Kepolisian Negara Republik Indonesia
  34. NBC-Interpol Indonesia
  35. Yayasan WWF Indonesia
  36. Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Jawa Tengah
  37. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi
  38. Kementerian PPN (Perencanaan Pembangunan Nasional) / BAPPENAS
  39. Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbud Ristek
  40. PT ASABRI (Persero) Semarang
  41. PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero)
Mata Kuliah Magang Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI

Mata Kuliah Magang Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI

Mata Kuliah (MK) Magang merupakan pengalaman kerja yang ditawarkan oleh Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI untuk suatu periode tertentu kepada mahasiswa sebagai bagian dari kurikulum pendidikan. Departemen Ilmu Komunikasi merupakan salah satu departemen yang mahasiswa magangnya paling banyak.

Tujuannya magang tersebut untuk memberikan bekal keahlian teknis dan non teknis (soft skills), serta menambah wawasan dan pengalaman mahasiswa terkait lingkungan bekerja di bidangnya. Selain itu MK Magang juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mempraktikkan ilmu dan keahlian yang telah diperoleh dalam mata kuliah-mata kuliah sebelumnya.

Koordinator Magang Departemen Ilmu Komunikasi, Vida Parady, M.A menjelaskan magang adalah mata kuliah wajib Prodi Sarjana bagi mahasiswa semester tujuh semua peminatan untuk menyelesaikan proses pendidikannya dengan tiga SKS.

“Ada perbedaan antara magang mandiri dengan magang MBKM. Syarat utama untuk magang dari prodi departmen Ilmu Komunikasi yaitu harus sesuai dengan peminatan mahasiswa misalnya humas, periklanan, jurnalisme dan kajian media dan durasinya minimal dua bulan full time,” jelas Vida.

Manfaat magang dari Departemen Ilmu Komunikasi ini salah satunya dapat mengintegrasikan pengetahuan teoritis yang didapat di kelas dengan kebutuhan kerja profesional di dunia yang lebih kompleks dan dapat menjembatani pengetahuan yang didapat di kelas dengan perkembangan di dunia praktik sejalan dengan tren dunia industri yang cepat berkembang.

Mahasiswa magang mandiri, Seniyya Zahra dari Departemen Ilmu Komunikasi, memilih Start Friday Asia sebagai tempat magangnya, “aku memilih magang di Start Friday Asia yang pasti karena jobdesc yang relevan dengan apa yang dipelajari selama kuliah dan pengalaman yang dimiliki sebelumnya.”

Lebih lanjut Seniyya mengatakan, “selain itu, memilih magang di agensi juga karena ingin memperbanyak pengalaman. Di agensi ini aku dikasih tanggung jawab untuk handle tiga brand dan menariknya ketiga brand tersebut sama sekali berbeda bidang. Yang satu brand kecantikan, yang satu brand baby dan yang satu brand fashion. Jadi benar-benar diasah kemampuan komunikasi dan kreativitasku untik handle sosial media marketing brand-brand itu. Setiap bulan aku juga ada presentasi di depan CEO-nya langsung terkait kerjaan aku selama magang.”

Ketika magang pun Saniyya mengalami kesulitan dan menemukan beberapa hambatan, “kesulitan yang pertama itu karena jaringan. Selama magang ini aku full remote dan teman-teman kantor lokasinya di Surabaya. Terkadang kalau lagi ada yang gak dimengerti atau mau jelasin ide-ide yang aku punya agak dibatasi dengan jarak ini. Mau diskusi sesuatu harus nunggu senior atau partner on dulu, dan sebagainya. Tapi untungnya semua partner kerja saat aku magang hampir selalu fast respond jadi gak terlalu menyulitkan.”

“Magang ini juga dinilai, baik oleh company maupun kampus. Dari company sendiri, aku ada supervisor khusus yang handle aku selama magang. Jadi beliau yang akan menilai gimana progress aku selama magang sesuai poin-poin yang sudah ditentukan. Kalau dari kampus, penilaiannya diambil dari laporan magangku dan hasil laporan supervisor yang dikirim langsung ke prodi,” jelas Saniyya.

Saniyya berharap untuk prodi maupun fakultas bisa secara aktif memberikan lowongan magang dari company maupun organisasi yang telah bekerja sama dengan kampus sehingga dapat memudahkan mahasiswa dalam mencari tempat magang.

Berikut ini perusahaan-perusahaan tempat mahasiwa magang Departemen Ilmu Komunikasi:

  1. ASEAN Foundation
  2. Humas Setjen DPR RI
  3. Bank Negara Indonesia
  4. BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika)
  5. Dinas Komunikasi dan Informasi Kota Bogor
  6. Direktorat Jenderal Kekayaan Negara
  7. Direktorat Jenderal Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
  8. DPR RI
  9. Hotel Borobudur Jakarta
  10. IDN Media
  11. Imogen PR
  12. Kementerian Keuangan
  13. Kementerian Keuangan Republik Indonesia
  14. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
  15. Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III Jakarta
  16. Mahkamah Agung
  17. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
  18. PT Mattel Indonesia
  19. PT Paragon Technology And Innovation
  20. PT Prima Layanan Nasional Enjiniring
  21. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
  22. INTER PARIWARA GLOBAL (IPG MEDIABRANDS)
  23. Prima Layanan Nasional Enjiniring
  24. Telkom Indonesia Divisi Enterprise
  25. YUDO INDONESIA
  26. Pusat Pengembangan Kompetensi ASN Kemensetneg
  27. Start Friday Asia
  28. Telkom Indonesia
  29. Telkomsel
  30. United Creative
  31. XL Axiata
  32. Yayasan Cipta
Meneliti Politik Luar Negeri Jokowi terhadap Afrika, Seorang Pria Inggris-Prancis Raih Gelar Doktor Ilmu Politik

Meneliti Politik Luar Negeri Jokowi terhadap Afrika, Seorang Pria Inggris-Prancis Raih Gelar Doktor Ilmu Politik

Kepemimpinan pragmatik Presiden Joko Widodo dan jiwa kewirausahaannya muncul sebagai pendorong utama upaya yang lebih ekspansif  politik luar negeri Indonesia terhadap benua Afrika, yang berpotensi menjadi langkah revolusioner dalam perspektif yang terbuka untuk Indonesia, yang telah lama digambarkan dalam karya akademik sebagai negara “inward-looking” atau dalam kata lain negara yang kurang mendunia dan terlalu fokus pada urusan domestik. Menariknya Afrika bisa menjadi jalan Indonesia menuju kekuatan besar jika Indonesia dapat meningkatkan kapasitas pengetahuannya tentang Afrika dan bekerja sama dalam kedudukan yang setara dengan benua yang ukurannya lebih besar dari gabungan Cina, Amerika Serikat, India, Indonesia, dan Eropa Barat. Inilah yang ditulis oleh Christophe Dorigné-Thomson, seorang pria warga negara ganda Inggris-Perancis yang melakukan penelitian disertasinya dengan judul “Pergeseran Politik Luar Negeri Indonesia menuju Afrika dalam Konteks Asia-Afrika di bawah Kepemimpinan Presiden Ir. H. Joko Widodo” yang berhasil memertahankan disertasinya pada Sidang Promosi Doktor Program Pascasarjana Ilmu Politik FISIP UI secara daring (07/01). Christophe lulus dengan predikat cumlaude dan IPK 3,87; menjadi Doktor Ilmu Politik  ke-133 .

Promosi Doktor ini di ketuai oleh Prof. Drs. Isbandi Rukminto Adi, M.Kes., Ph.D. Sebagai promotor Guru Besar Ilmu Politik UI Prof. Dr. Maswadi Rauf, MA, kopromotor 1 Edy Prasetyono, S.Sos, M.I.S., Ph.D. dan kopromotor 2 Meidi Kosandi, S.IP., M.A., Ph.D. Tim penguji Dr. H. Teuku Faizasyah, M.Si. (Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia), Julian Aldrin Pasha, M.A., Ph.D. (Ketua Departemen Ilmu Politik FISIP UI), dan Drs. Fredy Buhama Lumban Tobing, M.Si (Departemen Hubungan Internasional FISIP UI).

Penelitian ini mengkaji politik luar negeri Indonesia kontemporer terutama di periode kepemimpinan Presiden Jokowi dan mengalikan analogi dengan politik luar negeri terhadap benua Afrika kekuatan besar Asia lainnya seperti Jepang, Tiongkok, India atau Korea Selatan; atau kekuatan baru lain seperti Brasil atau Turki. Meskipun pernah menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada tahun 1955, Indonesia terlambat dalam hubungan bilateral dengan negara-negara Afrika di abad ke-21 dibandingkan dengan negara-negara berkembang besar lainnya. Bertujuan untuk mengejar keterlambatan melalui jalur bilateral yang lebih dinamis di bawah Presiden Jokowi, Indonesia memutuskan untuk menjadikan Afrika sebagai prioritas politik luar negeri.

Sirkulasi pengetahuan melalui pencampuran ide dari pengaruh eksternal dan lokal menjelaskan kerangka politik Afrika yang dipilih Indonesia; dilihat sebagai perpanjangan paradigma pembangunan domestik ke benua Afrika dengan pengaruh dari kekuatan Asia dan negara-negara berkembang lainnya. Ekspansi Afrika mewujudkan keberhasilan pembangunan Indonesia; mendukung legitimasi domestik Jokowi.

Dengan bantuan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Menkomarves Luhut Binsar Pandjaitan, gaya Jokowi yang sederhana dan rendah hati dapat memberikan hasil nyata dalam politik luar negeri dengan contoh politik luar negeri baru Indonesia terhadap Afrika dimulai dengan Indonesia Africa Forum yang diadakan pada April 2018 di Bali.

“Jokowi ingin memanfaatkan Bandung untuk keuntungan ekonomi bersama dengan Afrika; sejalan dengan final communiqué KAA Bandung tahun 1955 yang menyerukan hubungan ekonomi Asia-Afrika yang kuat. Gayanya membantu menyederhanakan masalah rumit dan pragmatismenya menembus rintangan birokrasi” tutur Christophe.

Menutup research gap yang jelas dan mengalikan analogi dengan kekuatan eksternal lainnya di Afrika, studi baru ini yang topiknya belum pernah dipelajari secara menyeluruh sebelumnya memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pergeseran politik luar negeri kontemporer Indonesia menuju Afrika dan politik luar negeri Indonesia pada umumnya. Mengingat Indonesia merupakan negara yang berkembang pesat, ide dan konsep baru perlu digunakan untuk menggambarkan Indonesia dalam studi akademis..

Menurut Christophe, “Politik luar negeri yang lebih ekspansif dimungkinkan oleh kekuatan material Indonesia yang meningkat. Namun faktor material tidak dapat sepenuhnya menjelaskan keterlibatan Indonesia dengan Afrika. Indonesia sebagai developmental state dan para pemimpin tertingginya terutama Presiden memiliki logikanya sendiri. Status internasional dan politik domestik seperti pembenaran keberhasilan pembangunan domestik terhadap khalayak domestik dapat dilihat di antara kepentingan nasional inti tertinggi Indonesia; berkorelasi dengan keamanan dan stabilitas rezim.” Popularitas domestik Jokowi memfasilitasi ekspansi politik luar negeri Indonesia dan pendekatan baru terhadap Afrika.

Selain itu Christophe menjelaskan bahwa “dalam konteks geopolitik persaingan sistemik AS-China, Afrika dapat menawarkan solusi baru untuk menyeimbangkan kekuatan besar bagi Indonesia dan ASEAN.”

Kesimpulan dari penelitian Christophe ini bahwa ketahanan dan keberhasilan pendekatan Afrika baru Indonesia hanya dapat dinilai dalam jangka panjang dan sangat bergantung pada kepemimpinan presiden, dan peningkatan kapasitas pengetahuan terutama tentang Afrika di bidang akademik.

Menjelajahi Beragam Aplikasi Untuk Satu Tujuan

Menjelajahi Beragam Aplikasi Untuk Satu Tujuan

Depok, 18 Agustus 2021. Universitas Indonesia (UI) dan University of Queensland (UQ) berkolaborasi dalam penyelenggaraan UQ-UI Bilateral Research Forum dengan tema bahan diskusi adalah Communication for Development and Social Change – Diverse Applications, One Goal.

Pada saat membuka acara, drg. Nurtami, Ph.D., Sp,OF(K), Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi, mengatakan bahwa forum ini merupakan platform bersama di antara peneliti UI dan UQ untuk saling memaparkan berbagai isu terkini terkait perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta situasi sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Ia menyampaikan harapan agar kegiatan ini menjadi katalisator bagi para peneliti UI untuk memperluas partisipasi dalam penelitian, pertukaran mahasiswa, dan terus-menerus melakukan join research, join symposium, dan join publication.

UI terus mendorong adanya kolaborasi riset internasional sebagai salah satu prioritas utama untuk menciptakan kolaborasi penta helix guna mendukung visi kampus UI menjadi universitas berkelas dunia.

drg. Nurtami menyampaikan keyakinannya bahwa kolaborasi akademik dan kolaborasi riset akan secara signifikan mendorong peningkatan kualitas dan kuantitas output akademik dan penelitian. “Kolaborasi riset diharapkan dapat mengikuti tren global dengan memberikan manfaat untuk masa depan yang lebih baik dalam upaya bersama mencapai Sustainable Development Goals (SDG’s). Kegiatan ini adalah salah satu tonggak utama di antara pemangku kepentingan riset di UI dan UQ untuk terus bekerja sama dan memperkuat kemitraan,” ujar drg. Nurtami.

Pro-Vice-Chancellor, Global Engagement & Entrepreneurship UQ, Dr. Jessica Gallagher menyampaikan catatan bahwa dalam upaya menghadapi tantangan lingkungan media yang berubah dengan cepat, perlu dikembangkan pendekatan-pendekatan penyelesaian masalah berbasis pengetahuan, inklusif, dan kemampuan untuk beradaptasi. Untuk menghadapi tantangan ini, UQ terus mendorong pengembangan jejaring untuk penelitian kolaboratif.

Dekan FISIP UI, Dr. Arie Setiabudi Soesilo mengatakan bahwa kegiatan ini adalah buah gagasan yang sangat bagus karena memberi hasil dan dilaksanakan secara efektif tentang tema communication development and social change. “Tujuan utama dari forum ini adalah untuk saling bertukar pengalaman di antara mahasiswa doktoral di antara dua kampus dalam melakukan riset, dan mendorong potensi kolaborasi riset di masa mendatang. Selama tiga tahun ini UI dan UQ sudah banyak melakukan kemitraan dan kolaborasi,” ujar Dr. Arie.

Kegiatan yang dilaksanakan secara daring pada Selasa (12/8) tersebut dihadiri secara virtual lewat zoom oleh lebih dari 100 peserta dari Indonesia dan Australia, difasilitasi oleh Elske van de Fliert, Ph.D (Director of the Centre for Communication and Social Change, UQ), Inaya Rakhmani, Ph.D., dan Dr. Hendriyani (Departemen Ilmu Komunikasi, FISIP UI). Tema besar forum diskusi tersebut dibagi menjadi dua sub tema, yaitu ‘Communication and the SDGs’ dan ‘Media and Social Change’. Para pembicara yang berjumlah 14 merupakan gabungan dari mahasiswa dan lulusan program doktor dari UQ dan UI. Pada kesempatan ini, mereka saling berbagi intisari riset yang sedang berlangsung maupun yang sudah selesai dilaksanakan melalui breakroom Zoom terpisah sesuai dengan masing-masing tema yang diusung.

Forum diskusi ini memberikan peluang bagi pembicara yang sebagian besar adalah mahasiswa doktoral dari kedua Universitas. Dalam durasi maksimal empat (4) menit, presenter harus mampu menyampaikan gagasan atau ide berkaitan dengan riset serta melakukan elaborasi dengan isu Sustainable Development Goals (SDGs) dan perubahan sosial. Terinspirasi oleh konsep 3MT (three minute thesis), setiap pembicara diminta mempersiapkan video presentasi terlebih dahulu (pre-recorded), untuk kemudian diputar satu demi satu oleh moderator atau fasilitator.

Diskusi berjalan dalam waktu yang ketat, namun tidak mengurangi esensi dan makna dari tujuan Forum Bilateral tersebut. Peserta menerima berbagai masukan atas gagasan riset yang sedang dilaksanakan. Tanggapan peserta menjadi masukan yang sangat berharga bagi presenter.

Debashish Sarker Dev, mahasiswa Doktoral di UQ, salah seorang presenter pada kegiatan ini, menyatakan bahwa Billateral Research Forum yang diselenggarakan oleh UQ dan UI ini merupakan acara berbagi pengetahuan yang positif. “Forum ini menampilkan beberapa karya penelitian yang inovatif dan mulia di bidang komunikasi pembangunan dan perubahan sosial. Secara khusus, ini memberi saya kesempatan untuk belajar dari para sarjana Indonesia tentang bagaimana mereka berkonsentrasi pada pengintegrasian prinsip-prinsip komunikasi pembangunan untuk membawa suara-suara yang belum pernah terdengar,” ujarnya.

Doreen Busolo, peneliti radio komunitas pedesaan untuk pemberdayaan perempuan di Kenya dan mahasiswa doktoral di UQ, mengatakan, “Ini adalah acara bagus yang mempertemukan para sarjana yang melakukan studi di berbagai belahan dunia untuk bertukar pikiran melalui berbagai pengalaman dan temuan penelitian,” kata Doreen.

Dr. Bintan Humeira, salah seorang presenter, lulusan Prodi Doktoral Ilmu Komunikasi UI, mengungkapkan perasaan senang karena dapat terlibat dalam kegiatan ini. “Saya bisa berbagi ilmu sekaligus memperoleh perspektif baru dalam melihat fenomena sosial dari paparan presenter lain. Forum ini tentunya akan memperkaya cara pandang kita sebagai akademisi dalam memahami fenomena sosial, budaya, politik, dan agama di masyarakat,” katanya. Dr. Bintan berharap semoga forum riset ini akan menghasilkan ragam riset kolaboratif dan dapat menjadi ruang membangun shared knowledge pada masa mendatang.

Kesimpulan diskusi dalam Forum Riset Bilateral ini berkaitan dengan topik utama yang juga menjadi bahan materi dan gagasan besar untuk rencana kerja sama selanjutnya, yang bisa direalisasikan bersama antara UI dan UQ. Dengan begitu, semangat untuk menjadi ‘suara’ dan ‘komunikator’ untuk tujuan SDG’s tidak terbatas dalam Forum Diskusi saja, melainkan dapat diwujudkan dalam aktivitas nyata yang berkontribusi bagi masyarakat.

Sumber: Siaran Pers HUMAS UI

Promosi Doktor: Fajrul Rahman Mengangkat Judul ‘Distingsi Pemilih di Indonesia’ Untuk Penelitian Disertasinya

Promosi Doktor: Fajrul Rahman Mengangkat Judul ‘Distingsi Pemilih di Indonesia’ Untuk Penelitian Disertasinya

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) menggelar sidang terbuka Promosi Doktor Ilmu Komunikasi dengan promovendus atas nama M. Fajrul Rahman. Fajrul menyampaikan penelitian disertasi dengan judul, “Distingsi Pemilih di Indonesia (Studi Interpretative Phenomenological Analysis Habitus Kelas dan Perilaku Pemilih dengan Pendekatan Strukturalisme Genetik Pierre Bourdieu)”.

Promotor Fajrul adalah Prof. Dr. Ilya R. Sunarwinadi, M. Si. dengan Kopromotor Dr. Pinckey Triputra, M. Sc. Fajrul menjalani sidang terbuka secara daring pada Rabu (21/4), dan berhasil dinyatakan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan.

Penguji dalam sidang ini adalah Prof. Dr. Alois Agus Nugroho, Ph.D.; Prof. Effendi Gazali, MPS ID., Ph.D.; Sirojuddin Abbas, Ph.D.; Prof. Dr. Billy K. Sarwono, M.A.; Dr. Eriyanto, M.Si.; Inaya Rakhmani, M.A., Ph.D. Sidang diketuai oleh Dr. Arie Setiabudi Soesilo, M.Sc.

Disertasi Fajrul adalah penelitian komunikasi politik, khususnya perilaku memilih (voting behavior), yang bertujuan untuk menemukan bagaimana pemrosesan informasi oleh pemilih berdasarkan distingsi (distinction) kelas sosial dan habitus kelas sosial pemilih untuk memproduksi opini politik dan pilihan politik pada pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden pada 17 April 2019. Kelas sosial, distingsi kelas dan habitus kelas pemilih dalam formasi sosial masyarakat kontemporer Indonesia (historical situatedness) tersebut dianalisis dengan memakai model kelas sosial baru berdasarkan pendekatan strukturalisme genetik Pierre Bourdieu.

Metode yang digunakan adalah convergent parallel mixed method, pendekatan kuantitatif dengan analisis kluster digunakan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan kelas-kelas sosial di Indonesia. Sementara pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dengan para informan kunci digunakan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang habitus kelas dan modus produksi opini politik masing-masing kelas sosial dengan menggunakan the modes of production of opinion Bourdieu.

Fajrul, yang juga Staf Khusus Presiden Republik Indonesia Joko Widodo di bidang komunikasi sekaligus Juru Bicara Presiden tersebut, menemukan melalui analisis kuantitatif dan kualitatif dengan interpretative phenomenological analysis berhasil mengidentifikasi empat kelas sosial di Indonesia lengkap dengan habitus kelas masing-masing, yakni kelas elite, kelas menengah profesional, kelas menengah tradisional, dan kelas marhaen. Tiap-tiap kelas sosial memiliki jumlah dan komposisi kapital ekonomi, budaya, dan sosial yang berbeda, serta habitus kelas dan kapital simbolik yang berbeda pula, juga memiliki modus produksi opini politik yang juga menunjukkan perbedaan (distinction).

Perbedaan modus produksi opini politik berhubungan langsung dengan perbedaan habitus kelas  masing-masing kelas sosial. Penelitian Fajrul ini juga menunjukkan bahwa modus produksi opini politik dan pilihan politik tersebut terkondisikan secara sosial. Kelas elite dan kelas menengah profesional mengalami modus produksi opini dan pilihan politik berdasarkan etos kelas atau produksi orang-pertama (first person production), di mana opini dan pilihan politik pemilih dari kelas ini berdasarkan kesadaran diskursif dan pengetahuan kognitif. Sementara kelas menengah tradisional dan kelas marhaen mengalami modus produksi opini dan pilihan politik berdasarkan production by proxy, di mana opini dan pilihan politik pemilih dari kelas ini berdasarkan kesadaran non-diskursif dan rentan terhadap doxa (realitas dunia yang dirumuskan pihak dominan), propaganda dan kekerasan simbolik.

Dalam penelitian ini Fajrul juga menemukan bahwa habitus kelas merupakan mediator dari modus produksi opini dan pilihan politik pada pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden pada 17 April 2019. Habitus kelas elite: visioner, rasional, outward looking, etos pengusaha dan profesional yang penuh passion dan resilience; habitus kelas menengah profesional: rasional, berkembang ke arah kemajuan pendidikan dan profesionalisme serta pro-perubahan sosial dan meritokrasi; sedangkan habitus kelas menengah tradisional: konservatisme nilai, dan kecemasan dalam kepemilikan kapital serta kehidupan sosial; terakhir habitus kelas marhaen: subsistensi, ketidakpedulian sosial, serta keputusasaan hampir total di semua bidang kehidupan.

Selain itu dalam temuan kualitatif terhadap informan kunci penelitian, berdasarkan distingsi kelas sosial dan habitus kelas sosial masing-masing, Fajrul menemukan bahwa para pemilih pada pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden pada 17 April 2019 pada dasarnya sudah menentukan pilihan politik mereka masing-masing bahkan sebelum pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden pada 17 April 2019 itu berlangsung. Meminjam konsep Lazarfeld et al dari Columbia School para pemilih tersebut adalah deciders (sudah memilih dengan keputusan tetap).

Bisakah kelas sosial dan habitus kelas sosial berubah? Bisa! Konsep habitus yang menyatakan bahwa individu adalah produk sosial melalui dialektika struktur mental dan struktur sosial atau dialektika internalisasi eksternalitas (structuring structure) dan eksternalisasi internalitas (structured structure) memberikan peluang untuk perubahan sosial. Caranya? Merombak struktur sosial, merombak kepemilikan kapital ekonomi, kapital sosial dan kapital budaya melalui strategi transformasi struktural terukur dan progresif.

Perombakan kelas sosial yang ada melalui strategi transformasi struktural terukur dan progresif akan menghasilkan individu atau agen sosial yang berbeda. Berarti akan menghasilkan pemilih dengan disposisi habitus yang berbeda dan lebih baik, yang diharapkan merupakan pemilih yang mampu mendemokratisasikan demokrasi sesuai agenda Reformasi Mei 1998. Dengan demikian komunikasi politik khususnya dan ilmu komunikasi umumnya menjadi kekuatan perubahan sosial substantif di Indonesia.