Select Page
Guru Besar Sosiologi:  Krisis dan Transformasi Besar Melahirkan Terobosan Baru

Guru Besar Sosiologi: Krisis dan Transformasi Besar Melahirkan Terobosan Baru

Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), menyelenggarakan kegiatan perdana Selo Soemardjan Memorial Lecture di Auditorium Juwono Sudarsono. Prof. Dr. Selo Sumardjan perintisi ilmu sosiologi di Indonesia yang juga menejadi Dekan pertama FISIP UI. Kuliah umum yang diselenggarakan pada Rabu (21/09) mengangkat judul “Sosiologi, Pandemi dan Ekonomi Platform” dengan Prof. Dr. der.soz. Rochman Achwan, MDS, Guru Besar Departemen Sosiologi sebagai pemberi materi.

Dekan FISIP UI, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto dalam sambutannya mengatakan, ekonomi berbasis digital sudah terbayang sejak lama tetapi pandemi mengakselerasi prosesnya. Menjadi penting bagi para ilmuwan untuk bekerja lintas ilmu untuk mengembangkan solusi berbagai masalah. Fakultas, menurutnya terus mendorong upaya para dosen, peneliti dan mahasiswanya untuk memformulasikan penjelasan-penjelasan baru berkaitan dengan fenomena pandemi dan transformasi digital yang kian masuk ke seluruh sendi kehidupan masyarakat.

Ketua Departemen Sosiologi, Dr. Ida Ruwaida mengatakan bahwa kegiatan tersebut menjadi arena bagi para akademisi untuk mengontekstualisasi pemikiran-pemikiran Prof. Selo Soemardjan secara kritis dan bermakna luas, dengan isu-isu kekinian. Harapannya melalui kegiatan tersebut, bukan hanya terbangun tradisi penghargaan pada para ilmuwan yang produktif dan kontributif secara akademis, tetapi juga peduli pada isu-isu sosial kemasyarakatan, sebagaimana yang diteladankan oleh Prof. Selo.

Prof. Rochman, dalam kuliahnya menjelaskan pentingnya menggunakan perspektif teori tertentu untuk menjelaskan peristiwa transformasi besar yang tengah terjadi saat ini, merujuk pada teori Karl Polanyi mengenai transformasi besar akibat kapitalisme, Prof. Rochman menekankan pandemi dan internet sebagai penyebab transformasi besar di masa kini. “Transformasi besar adalah perubahan mendasar yang menggoncang sendi-sendi kehidupan ekonomi, politik dan masyarakat” ungkapnya.

Transformasi besar ini disebabkan oleh berbagai hal seperti perubahan politik, ekonomi, peperangan, bencana kesehatan dan revolusi teknologi. Ia menegaskan pentingnya memperhatikan kecenderungan pasca transformasi besar yang berbahaya yaitu ketika corak ekonomi baru diadopsi tanpa memahami konteks kebudayaan dan kemasyarakatan.

Dia mengambil contoh berpikir teoretik untuk melihat fenomena pandemi di Indonesia, tidak sekedar dilihat sebagai urusan gangguan kesehatan tetapi terkait dengan identifikasi isu. Menurutnya, pandemi menjadi semacam alat ronsen untuk melihat agents of change yaitu kelompok-kelompok strategis yang memiliki pengaruh politik, memprakarsai perubahan yang inovatif dan aktif dalam melaksanakan perubahan tersebut.

“Krisis dan transformasi besar justru melahirkan terobosan-terobosan baru seperi sharing economy,” ujar Prof. Rochman. Tujuan utama sharing economy adalah untuk memberikan akses atau layanan kepada semua orang dengan penyediaan fasilitas melalui platform digital, harapannya, bisa meningkatkan efisiensi sumber daya dan menghindari potensi buruk dari lingkungan karena konsumsi tidak terkontrol.

Ia mengharap para ahli dan mahasiswa sosiologi mengidentifikasi rangkaian-rangkaian sosial, politik, ekonomi yang terjadi dan pada saat pandemi. Peran mereka sangat penting dan berpengaruh karena di Indonesia, social protection dan kerekatan sosial lebih menonjol dibanding ekonomi pasar.

Lebih lanjut Prof. Rochman mengatakan, sosiologi harus bisa menerangkan platform economy berupa platform digital sebagai sebuah  model organisasi bisnis tanpa batas, yang dimungkinkan oleh internet dan teknologi komunikasi. Platform ini merupakan transformasi dari proses nikefication yaitu model orang-orang yang bekerja di pabrik, menuju uberization sutu model yang tidak perlu lagi lokasi khusus untuk bekerja

Ada kecenderungan di masa depan platform digital ini akan menejadi super platform yang mendominasi penguasaan data, memiliki jangkauan global, super eksploitatif dan sangat powerful. Bersama dengan media sosial, platform ekonomi digital akan semakin berhubungan dan menjadi kekuatan konsumen melawan ekspoitasi pemilik modal.

Pengukuhan Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional: Diplomasi Ekonomi dan Kebijakan Luar Negeri Indonesia

Pengukuhan Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional: Diplomasi Ekonomi dan Kebijakan Luar Negeri Indonesia

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) telah berhasil menambahkan kembali Guru Besar dalam bidang Ilmu Hubungan Internasional dengan digelarnya Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Fredy Buhama Lumban Tobing M.Si oleh Rektor Universitas Indonesia, Prof. Ari Kuncoro, pada Sabtu (06/08) secara hybrid di Audiotorium Juwono Sudarsono.

Acara tersebut dihadiri oleh Dekan FISIP UI, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, Prof. Dr. Iwan Gardono Sudjatmiko (Ketua Senat Akademik Fakultas), Prof. Dr. Bambang Shergi Laksmono (Ketua Dewan Guru Besar Fakultas), para pimpinan Fakultas, para pimpinan Departemen Ilmu Hubungan Internasional dan juga keluarga besar Prof. Fredy. Suatu kebanggaan dan kebahagiaan bagi segenap pimpinan, civitas akademika dan keluarga besar FISIP UI dalam menyambut Prof. Fredy sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Hubungan Internasional.

Pidatonya yang berjudul “Diplomasi Ekonomi dan Kebijakan Luar Negeri Indonesia: Optimalisasi Multilevel dan Multitrack Diplomacy”, Prof. Fredy senantiasa mengingatkan kepada kita semua bahwa “hubungan diplomasi tidak hanya dilakukan oleh aktor pemerintah semata, melainkan perlu adanya keterlibatan aktor bisnis yang diayomi oleh aktor pemerintah agar pembangunan ekonomi dapat berjalan dengan semakin baik. Akhirnya, grand strategy diplomasi ekonomi Indonesia, khususnya dalam bidang perdagangan, harus mampu menyesuaikan diri dengan dinamika global yang terjadi saat ini dan ke depan.”

Di negara mana pun kebijakan luar negeri sangat ditentukan oleh karakter dan dinamika politik di dalam negeri (domestic politics). Pada saat yang sama kebijakan luar negeri juga dipengaruhi oleh adanya usaha-usaha untuk mengamankan sumber-sumber daya dukungan eksternal demi pembangunan nasional tanpa mengorbankan kemerdekaannya. Oleh karena itu, politik luar negeri dan domestik tidak dapat dipisahkan karena terdapat “saling mencakup secara simbiotik”. Politik luar negeri merupakan refleksi dari politik domestik. Dengan demikian, politik luar negeri merupakan hasil perpaduan dan cerminan politik domestik dan politik, baik regional maupun internasional/ global.

Dalam kaitan diplomasi ekonomi sebagai bagian dari upaya pencapaian kepentingan nasional Indonesia, penting untuk memotretnya dari sisi upaya Indonesia dalam membuka pasar atau mitra yang baru, “pada tahun 2014 didanai oleh hibah riset UI, saya bersama rekan- rekan di Departemen Hubungan Internasional pernah melakukan penelitian tentang Peluang dan Tantangan Indonesia dalam membangun mitra baru di kawasan Amerika Latin khususnya Chile, Meksiko dan Peru.  Kawasan ini sangat menarik diteliti mengingat pertumbuhan ekonominya yang terus mengalami peningkatan yang signifikan. Namun demikian, hubungan kerja sama ekonomi, khususnya perdagangan dengan Indonesia masih sangat rendah,” ujar Prof. Fredy.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa nteraksi yang intensif dan aktif antar aktor adalah syarat utama dalam upaya diplomasi ekonomi negara, “namun demikian, perlu dicatat bahwa interaksi yang terbangun seyogyanya dilakukan di berbagai level (multilevel diplomacy), dari temuan penelitian tersebut, Indonesia, Meksiko, Chile, dan Peru penting untuk memanfaatkan berbagai institusi di mana ketiga negara terlibat seperti Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), dan Forum for East Asia-Latin America Cooperation (FEALAC).”

Dengan menggunakan strategi diplomasi ekonomi dalam kerangka konsep multilevel dan multitrack, optimalisasi perdagangan dapat dilakukan dalam kerangka multilevel tidak hanya oleh aktor pemerintah, namun juga oleh kelompok bisnis, namun tetap dalam kendali pemerintah sebagaimana budaya ekonomi politik Indonesia selama ini. Hal ini tentu bertujuan untuk tetap menjaga kepentingan nasional dan kesejahteraan masyarakat lokal di tengah daya saing global.

Melalui multitrack diplomacy berbagai aktor dilibatkan dalam proses perdagangan internasional. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia perlu melibatkan dan memfasilitasi perusahaan-perusahaan Indonesia untuk membuka relasinya dengan berbagai perusahaan di kawasan dengan potensi mitra  baru. Business to Business yang terjalin akan mengoptimalkan capaian dalam diplomasi ekonomi Indonesia.

Selain itu, dibutuhkan pula diversifikasi aktor komoditas unggul Indonesia yang telah menempati posisi strategis dalam komoditas ekspor dunia, yakni dengan mendorong pegiat UMKM sebagai manifestasi diplomasi ekonomi Indonesia. Dengan demikian, tidak hanya melakukan perjanjian di antara para elit dalam pertemuan-pertemuan bilateral maupun multilateral, diplomasi ekonomi juga seyogyanya digerakkan dengan konektivitas antar individu. Dengan harmonisasi berbagai aktor tersebut, maka diharapkan upaya ekspansi dan penetrasi pasar bagi produk-produk Indonesia semakin masif, intensif, dan inklusif.

Dengan bertambahnya Guru Besar, diharapkan nantinya Departemen HI FISIP UI akan membuka pascasarjana doktoral, menurut Ketua Departemen “mohon doa dan dukungannya untuk program S3 HI yang akan dibuka tahun depan,” ujar Asra Virgianita, Ph.D.

Prof. Paulus: Pembangunan Masih Terlalu Sektoral dan Kurang Sistemik-Holistik

Prof. Paulus: Pembangunan Masih Terlalu Sektoral dan Kurang Sistemik-Holistik

Pembangunan Sosiental menekankan bahwa membangun kualitas kehidupan sosial budaya atau good society untuk mencapai ultimate goal yang berupa kualitas kehidupan sosial budaya, pembangunan harus mencakup seluruh satuan masyarakat secara sistemik dan holistik. Hal ini akan tercermin dari kondisi elemen struktural, kultural, dan prosesual,” demikian yang ditekankan Prof. Paulus dalam bukunya yang berjudul “Imajinasi Sosiologi: Pembangunan Sosietal” yang diluncurkan pada Selasa (02/08) di Auditorium Juwono Sudarsono.

Perdebatan tentang pembangunan masih terus berlangsung hingga sekarang, mulai dari pembangunan berorientasi pertumbuhan ekonomi, pemerataan, pembangunan manusia sampai good society. Sementara itu, pembangunan masih terlalu sektoral dan kurang sistemik-holistik. Berpijak dari keprihatinan atas kondisi yang ada, Prof. Paulus menuangkan pemikiran sekaligus refleksinya atas pembangunan melalui bukunya, “perspektif Sosiologi tidak boleh mempersempit fakta yang ada dan harus holistic.”

Prof. Paulus percaya bahwa pembangunan sosietal akan menggeser kecenderungan pembangunan yang bersifat “antroposentrisme” (mengutamakan kepentingan spesies manusia) menuju pembangunan yang lebih seimbang secara sistemik dan inklusif ke dalam perspektif sosietal-ekologis.

Konsekuensinya, pembangunan tidak boleh hanya dinilai melalui indikator sektoral, tetapi harus menggunakan indikator yang lebih bersifat sosiologis, yaitu: (1) kondisi struktural yang mencerminkan kondisi dari penataan hubungan kekuasaan seperti kebijakan pembangunan, regulasi dsb; (2) kondisi kultural yakni sistem nilai, norma, kepercayaan, gaya hidup, cara berpikir masyarakat, serta (3) aspek prosesual yaitu dinamika interaksi sosial yang memberikan kemampuan manusia untuk menyatakan aspirasi, bernegosiasi terhadap kekuatan struktural dan kultural yang mendominasi.

Senada dengan yang disampaikan Prof. Paulus, Prof. Iwan Gardono yang juga Guru Besar Sosiologi mengatakan, bahwa tujuan pembangunan itu bukan sekadar membangun prasarana dan sarana, melainkan membangun masyarakat, yang bakal memakai dan memaknai hasilnya. “Buku ini dengan mudah dan jelas membawakan konsep ilmu sosial yang berbobot ini ke pembaca umum dan luas. Hubungan struktur masyarakat dengan budaya dan dinamika tata olah pembentukan “budaya terstruktur” serta “struktur terbudaya” merupakan buah pikir panjang dan mendalam dari Prof. Pauls selama puluhan tahun bergelut dalam pembangunan masyarakat,” ujar Prof. Iwan.

Dalam acara tersebut Dekan FISIP UI, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto mengatakan, “Prof. Paulus membidik berbagai persoalan yang timbul karena ekses dari pembangunan berencana dan diperlukan suatu sosiologi yang lepas dari batasan-batasan tertentu, imajinasi untuk memaknai masyarakat yang ideal. Melalui buku ini kita belajar secara konseptual, untuk menempatkan ilmu sosiologi kembali ke subject method nya yang utama yaitu masyarakat. Selanjutnya yang saya ingat dari buku ini yaitu hilangkan ego sectoral dari pembangunan dan seringkali terjebak di sektor-sektor tertentu.”

Buku ini menawarkan model pembangunan sosietal untuk dipelajari, dikritisi atau digunakan oleh para ilmuwan sosial, praktisi pembuat kebijakan maupun para profesional yang memiliki ketertarikan terhadap pembangunan.

“Harapannya sosiologi harus mencerahkan bukan merumitkan masalah, kreatif, imajinatif dan sosiologi juga harus berorientasi pada pemecahan masalah,” ungkap Prof. Paulus.

Dalam rangka menyambut kehadiran buku ini, Departemen Sosiologi UI didukung oleh LabSosio dan Unit Riset FISIP UI, akan menyelenggarakan acara “Peluncuran sekaligus Bedah Buku”. Harapannya buku yang ditulis Paulus Wirutomo ini, akan lebih luas dikenal tidak hanya oleh kalangan masyarakat akademis, tetapi juga pemerhati, serta praktisi pembangunan baik dari kalangan pemerintahan maupun non-pemerintah.

“Meretas Batas Ilmu”  Sebuah Karya Perjalanan Intelektual Guru Besar Sosial Humaniora

“Meretas Batas Ilmu” Sebuah Karya Perjalanan Intelektual Guru Besar Sosial Humaniora

Pada Jumat (6/12) di Balai Sidang Universitas Indonesia, Guru besar Sosial Humaniora meluncurkan sekaligus membedah buku “Meretas Batas Ilmu” yang ditulis oleh Prof. Dra. M. A. Yunita Triwardani W, M.S., M.Sc. PhD (Dosen dan Guru Besar FISIP UI), Prof. Melani Budianta, Ph.D (Dosen dan Guru Besar FIB UI) dan Rahayu S. Hidayat. Buku ini juga di review oleh Dra. Francisia Saveria Sika Ery Seda, M.A., Ph.D dan Prof. Kamanto Sunarto, S.H., Ph.D.

Berawal dari ide untuk mengundang Guru Besar Fakultas di bawah rumpun Sosial Humaniora dalam lokakarya untuk membagikan tulisan dan ceritanya kedalam buku berjudul Meretas Batas Ilmu: Perjalanan Intelektual Guru Besar Sosial Humaniora. Buku ini merupakan himpunan dari kisah sepuluh Guru Besar bidang Ilmu Sosial Humaniora Universitas Indonesia dalam mengawali, menumbuh-kembangkan dan menghasilkan karya-karya ilmiahnya.

Rentang perjalanan yang panjang dari setiap Guru Besar tidak berlangsung secara linear, mulus dan sederhana. Tidak seluruhnya berawal dari rintisan karier yang sejalan dengan minat dan pilihan nuraninya. Namun para Guru Besar merintis karier dalam disiplin ilmu dengan landasan teoretis, konseptual dan metodologis yang ditumbuh kembangkan oleh ilmuwan-ilmuwan manca negara, mereka ternyata mampu memadukan pengetahuan itu dengan fenomena empiris sosial-budaya yang terwujud di bumi Indonesia.

Meretas batas disiplin ilmu pun dilakukan agar dapat menyumbangkan karya ilmiahnya secara lebih optimal bagi pengembangan ilmu dan kemaslahatan bangsa dan negara Indonesia. Pergulatan dan perjuangan yang dialami mereka melalui dialektika beragam teori, konsep, metodologi dengan kehidupan nyata masyarakat dan budaya Indonesia, melahirkan karya-karya ilmiah yang unggul menuju lahir dan tumbuhnya “Ilmu Sosial-Humaniora”.

“Ketika membaca tulisan kesepuluh tulisan Guru Besar ini adalah percampuran pengetahuan yang seluruh hidup digeluti dan juga pengalaman hidup. Jadi buku ini mengajak kita untuk mengenal pikiran-pikiran dan juga sebagian hidup Guru Besar” Ungkap Francisia Seda.

Francisia Seda sebagai reviewer juga menjelaskan enam pola besar didalam buku ini. Intinya adalah keilmuan tidak pernah linier atau non linier dan bersifat multi-displin. Buku ini juga bukan hanya tentang keilmuan saja tetapi juga tentang pegabdian masyarakat. Pengabdian masyarakat juga bagian dari perjalanan pengetahuan.

Menurut Kamanto Sunarto dari enam topik itu intinya memang uraian mengenai perkembangan ilmu dan perluasan kekayaan intelektual. Ada satu hal yang menarik yaitu kesepuluh Guru Besar Sosial Humaniora tetap melakukan dan melibatkan diri untuk pengabdian masyarakat disela-sela kesibukannya menjadi Guru Besar. Karena pengabdian masyarakat sering luput dari perhatian.