Select Page
Memberikan Ruang Pada Tradisi, Budaya dan Peranan Masyarakat Adat Dalam Kurikulum Pembelajaran

Memberikan Ruang Pada Tradisi, Budaya dan Peranan Masyarakat Adat Dalam Kurikulum Pembelajaran

Papua Center sendiri merupakan pusat kajian di FISIP UI yang merupakan bagian dari LPPSP, yang mempunyai komitmen penting menjadi katalisator dari pembangunan di wilayah Papua. Dalam webinar kali ini menyoroti tentang bidang pendidikan yang perlu mempertimbangkan kearifan lokal. pembangunan di satu wilayah baik fisik maupun sosial perlu mempertimbangkan identitas yang dimiliki oleh wilayah tersebut, identitas adalah kekuatan yang bila di gali dan dipahami sesuai dengan perspektif dan perkembangan jaman.

Papua center didirikan dengan visi menjadi jembatan akademik dan budaya bagi kemajuan masyarakat Papua. Ketika berdirinya Papua Center ini sangat didukung oleh Universitas Cendrawasih yang bekerjasama dengan FISIP UI. Dalam sebuah pembangunan bangsa aspek Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi hal yang utama dan berharap memiliki SDM yang unggul. Tentunya SDM yang unggul ini didukung oleh sistem pendidikan. Dalam konteks Papua, adanya kebutuhan yang khusus tidak bisa disama ratakan dalam hal pendidikan.

Sampai saat ini, Indonesia masih terus mencari bentuk sistem untuk terus maju di bidang pendidikan. Dengan kekuatan keberagamannya itulah Indonesia terbentuk dan menjadi ciri khas mayarakat Indonesia. Maka, perspektif indigenous menjadi hal yang perlu ditegaskan kembali. Mengingat bahwa, budaya menjadi kekuatan masyarakat Indonesia yang sebaiknya dapat dipadukan dengan sistem pendidikan nasional. Ini menjadi bahan refleksi kembali dalam rangka Perayaan Hari Pendidikan dan Memperingati 10 Tahun Beridirinya Papua Center (PACE).

Papua Center (PACE) LPSP FISIP Ul mengadakan talkshow bertemakan “Menegaskan Kembali Perspektif Indigenous dalam Sistem Pendidikan Nasional” yang dilaksanakan pada Selasa (24/05). Sebagai pembicara, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto (Dekan FISIP UI dan peneliti Papua Center LPPSP FISIP UI), Dr. Heri Yogaswara (Badan Riset dan Inovasi Nasional), DR. Gerdha K. I. Numbery, S.Sos., M.Hum (Ketua Program Studi Antropologi FISIP Universitas Cendrawasih) dan Albert Rumbekwan, S.Pd. M.Hum (Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah, FKIP Universitas Cendrawasih).

Beberapa tahun terakhir, pemerintah dengan berbagai kebijakannya dalam mengadopsi unsur-unsur atau nilai-nilai lokal yang beberapa tahun terakhir dimasukan kedalam kurikulum pendidikan yang berbasis kearifan lokal.

“Terkait dengan keberagaman etnis menjadi kondisi yang nyata dengan kehidupan masyarakat Papua. Keberagaman etnis yang banyak ini juga menjadi salah satu kendala, tetapi beberapa sekolah ada di beberapa sub-sub suku dan biasanya diantara sub-sub suku itu ingin kebudayaannya menjadi mata pelajaran, muatan lokal maupun bahan ajar. Di sisi lain ada beberapa pihak yang tidak menerima karena mereka lebih ingin untuk budaya mereka yang di prioritaskan dalam kurikulum,” ujar Gerdha.

Lebih lanjut Gerdha menambahkan, “tetapi beberapa sekolah ada di beberapa sub-sub suku dan biasanya diantara sub-sub suku itu ingin kebudayaannya menjadi mata pelajaran, muatan lokal maupun bahan ajar. Di sisi lain ada beberapa pihak yang tidak menerima karena mereka lebih ingin untuk budaya mereka yang di prioritaskan dalam kurikulum.”

Albert juga menambahkan bahwa ada banyak kendala dalam pendidikan di Papua, ada beberapa aspek dilihat dari segi fisik ada ketimpangan terkait dengan fasilitas yang ada di kota maupun di kampung yang ada di daerah-daerah. Ada aspek lainnya seperti ekonomi, situasi politik dan pemikiran-pemikiran kebijakan yang ada di Papua hari ini, sepertinya itu menjadi aspek utama dalam pembangunan manusia di Papua tetapi tidak menjadi prioritas.

“Ada perbedaan pendidikan dari masa ke masa. Menurut saya, kami berhadapan dengan produk yang belum jadi secara literasi pengetahuan, sehingga kami dosen-dosen maupun guru-guru berusaha keras untuk bisa masuk keruang budaya dan ruang pikir untuk bisa membangun, memberi semangat dan memotivasi anak-anak untuk mencapai tujuan pendidikan yang unggul dan bagus,” imbuh Albert.

Selain itu, Heri melihat perspektif indigenous, memberikan fokus pada penghargaan keragaman masyarakat dan budaya yang berkembang pada suatu negara, memberikan pengakuan, penghargaan dan upaya pemajuan terhadap keberadaan masyarakat adat serta memberikan ruang untuk berkembangnya berbagai sistem pendidikan melalui regulasi maupun kebijakan. Perspektif indigenous dalam pendidikan yaitu sistem pendidikan yang memberikan ruang pada tradisi, budaya dan peranan masyarakat adat dalam penyusunan kurikulum maupun teknik pembelajaran.

Sudah ada celah regulasi untuk sistem pendidikan Indonesia, dilihat dari Undang-Undang Republik Indonesia Pasal 4 yaitu pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. Kemudian Undang-Undang Republik Indonesia Pasal 32 No 2 mengenai pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus, yaitu pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi.

“Di Indonesia sudah ada beberapa sekolah adat, dari data yang saya dapat terdapat 105 sekolah adat yang tersebar di seluruh Indonesia, salah satunya Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Rimbawan Muda Indonesia (RMI) dan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Indonesia,” ujar Heri.

Dalam pemaparannya Dekan FISIP UI, Prof. Semiarto mengatakan bahwa masyarakat dan kebudayaan Papua mempunyai diversitas tinggi dan perbedaan struktur sosial, sistem politik dan orientasi nilai. Pendidikan di Papua juga mempunyai kesenjangan fasilitas dan kesenjangan output.

“Salah satunya dengan alternatif pendidikan berbasis komunitas. Literasi dan transliterasi, indigenisation of western education bisa menggunakan bahasa setempat, memberikan konteks lokal untuk materi sains, mencarikan relevansi teori barat pada konteks lokal, menggunakan etnosains untuk mentransform local knowledge menjadi bagian science,” ujar Prof. Semiarto.

Pendidikan adalah upaya mentransformasi masyarakat. Perlu adanya lembaga pendidikan tinggi khusus, inisiatif mendirikan indigenous university yang mempunyai kurikulum sains dan lokal, seperti  First Nation University of Canada dan Australian Institute of Aboriginal and Torres Strait Islander Studies. Papua adalah entitas sosial budaya yang beragam jadi strategi pendidikan nya harus inklusif, afirmatif dan berbasis pengetahuan lokal.