Select Page
Dosen dan Tenaga Kependidikan FISIP UI Menerima Tanda Kehormatan Makara Dharma Bhakti

Dosen dan Tenaga Kependidikan FISIP UI Menerima Tanda Kehormatan Makara Dharma Bhakti

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) menyelenggarakan acara Penganugerahan Tanda Kehormatan Makara Dharma Bhakti Rektor Universitas Indonesia secara pada Sabtu (04/09). Sebanyak 43 Dosen dan 57 Tenaga Kependidikan menerima Tanda Kehormatan ini. Tanda kehormatan ini merupakan bentuk perhatian Universitas Indonesia terhadap para Pegawai UI yang memiliki loyalitas, kinerja dan pengabdian bekerja di UI selama 10 tahun, 20 tahun dan 30 tahun.

Acara ini dilakukan secara daring melalui Zoom dan secara langsung di Auditorium Juwono Sudarsono yang di hadiri oleh Dr. Arie Setiabudi Soesilo, M.Sc. (Dekan FISIP UI), Awang Ruswandi, M.Si.(Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, Ventura, dan Administrasi Umum) Riaty Raffiudin, Ph.D. (Manajer Sumber Daya Manusia) serta lima perwakilan penerima Tanda Kehormatan Makara Dharma Bhakti, yaitu:

  1. Syahdirin (Tenaga Kependidikan 30 tahun)
  2. Tony Rudyansjah, M.A. (Dosen 20 Tahun)
  3. Sri Herawati, S.E. (Tenaga Kependidikan 20 tahun)
  4. Indera Ratna Irawati, M.A. (Dosen 10 tahun)
  5. Dwi Febi Satrio Nugroho, S.Sos. (Tenaga kependidikan 10 tahun)

Dekan FISIP UI Dr. Arie Setiabudi Soesilo, M.Sc. dalam sambutannya mengucapkan selamat kepada para penerima Tanda Kehormatan Makara Dharma Bhakti dan terimakasih atas pengabdiannya.

“Para penerima Tanda Kehormatan telah mengabdikan tenaga, waktu dan pikirannya untuk Universitas Indonesia khususnya di FISIP UI, saya yakin selama bapak dan ibu berkarier disini tidak pernah terpikirkan adanya Tanda Kehormatan seperti ini, semuanya dikerjakan dengan tulus dan ikhlas sebagai tanggung jawab. Tentu penghargaan ini secara material tidak ada nilainya tapi nilai yang dikandung penghargaan tersebut adalah bentuk penghormatan dari UI atas semua yang bapak dan ibu berikan bagi institusi” ujar Dekan FISIP UI.

Sebagai penutup Dekan FISIP UI berharap semoga dengan pemberian Tanda Kehormatan ini bapak dan ibu terus bersemangat memacu karya dan kinerjanya untuk memberikan yang terbaik bagi Universitas Indonesia dan FISIP UI.

Kuliah Umum Ketua Komnas HAM: Penyelesaian Pelanggaran Berat Hak Asasi Manusia

Kuliah Umum Ketua Komnas HAM: Penyelesaian Pelanggaran Berat Hak Asasi Manusia

Memperjuangan keadilan sosial adalah misi Departemen Kriminologi untuk terus berpihak dan mendukung upayang-upaya pada pengungkapan kasus-kasus pelanggaran berat HAM. Belajar mengenai HAM bagaimana bisa mengungkapkan kasus-kasus kejahatan yang pelakunya adalah orang-orang yang memiliki power misalnya berkaitan tentang isu kejahatan lingkungan. Hal ini mengajarkan logika dalam membangun kebijakan berbasis bukti dan data bisa memberikan dukungan bagi semua kalangan.

Ketua Departemen Krimonilogi, Mamik Sri Supatmi mengatakan “pelanggaran HAM yang berat merupakan extraordinary crime dan berdampak secara luas pada tingkat nasional maupun internasional dan menimbulkan kerugian baik material maupun immaterial yang mengakibatkan perasaan tidak aman terhadap individu maupun masyarakat luas, sehingga perlu di pulihkan dalam mewujudkan supermasi hukum untuk mencapai kedamaian, ketertiban, ketentraman, keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Para pelaku pelanggaran HAM berat diperlukan langkah-langkah penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan yang bersifat khusus dan mungkin luar biasa. Merujuk pada data Komnas HAM sampai saat ini terdapat 12 kasus pelanggaran HAM berat yang belum diselesaikan. Pada kuliah umum (08/06) yang membahas Penyelesaian Pelanggaran Berat Hak Asasi Manusia ini menghadirkan narasumber Ahmad Taufan Damanik sebagai Ketua Komnas HAM.

Damanik menjelaskan, landasan moral penyelesaian pelanggaran HAM di masa lalu, penyelenggaraan pemerintah dan masyarakat yang menghormati martabat dan hak asasi manusia melalui langkah-langkah demokratis tanpa kekerasan mengacu ke tertib hukum serta menjamin peristiwa itu tidak terulang kembali.

Damanik mendorong Kejaksaan Agung agar segera menyidik atas 12 kasus pelanggaran HAM berat yang sudah dirampungkan proses investigasinya oleh Komnas HAM.

“Sudah pernah ada pertemuan antara Komnas HAM dan Kejaksaan Agung membahas solusi atas sejumlah kasus pelanggaran HAM berat tersebut namun belum tercapai kesepakatan.”

Meski begitu, Damanik mendorong Kejaksaan Agung agar segera menyidik atas 12 kasus pelanggaran HAM berat yang sudah dirampungkan proses investigasinya oleh Komnas HAM. Ada beberapa kasus pelanggaran HAM yang tidak mungkin lagi diselesaikan melalui proses hukum, karena itu perlu dibentuk Komisi Kebenaran dan rekonsiliasi (KKR). KKR sebagai landasan hukum penyelesaian di luar pengadilan (non-judicial).

Dari beberapa kasus dugaan pelanggaran HAM berat telah diselesaikan investigasinya oleh Komnas HAM, baru tiga kasus yang selesai menjalani sidang, yakni Peristiwa Timor-Timur pasca Jajak Pendapat (1999), Peristiwa Tanjung Priok (1984) serta Peristiwa Abepura, Papua (2000).

Pemenang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi FISIP UI Tahun 2021

Pemenang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi FISIP UI Tahun 2021

Mahasiswa Berprestasi (Mapres) FISIP UI merupakan ajang rutin tahunan yang diselenggarakan sejak lama. Ajang ini memilih mahasiswa-mahasiswi terbaik di bidang akademik maupun non-akademik. Para finalis Mapres ini sebelumnya telah melalui seleksi screening CV dan prestasi serta penulisan dan presentasi karya tulis ilmiah.

Pemilihan Mahasiswa Berprestasi FISIP UI tahun 2021 ini diselenggarakan secara daring melalui Zoom, pada Kamis (29/04) diadakan seleksi presentasi karya tulis ilmiah dan pada Senin (10/05) di umumkan pemenang dari Mahasiswa Berprestasi FISIP UI tahun 2021.

Cathlin Rosemary Wahjoedi, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2018 berhasil meraih gelar Juara 1 Mahasiswa Berprestasi FISIP UI 2021. Hal tersebut diumumkan langsung oleh Prof. Dr. Dody Prayogo sebagai Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan. Gagasan ilmiah yang berjudul “Penggunaan Sistem Cloud Kitchen Berbasis Aplikasi untuk Meningkatkan Kesejahteraan Ekonomi Pedagang Kaki Lima di Indonesia” rupanya menghantarkan Cathlin menjadi juara umum Mahasiswa Berprestasi FISIP UI 2021.

“Selamat kepada para pemenang dan saya berharap Cathlin bisa maju di tingkat UI dan Kembali mengharumkan nama FISIP seperti pedahulunya di tingkat Universitas” ujar Prod Dody.

Tak lupa Cathlin memberikan sambutannya sebagai pemenang, “saya ucapkan terimakasih banyak kepada mas Yogo selaku coordinator Pilmapres 2021. Saya belajar banyak dari Pilmapres ini. Saya akan berusaha sekeras mungkin untuk membawa nama FISIP ditingkat universitas. Saya mohon doa dan dukungannya kepada teman-teman semua, semoga saya bisa meneruskan prestasi yang ditorehkan perwakilan FISIP dari tahun-tahun sebelumnya.”

“Selamat kepada para pemenang. Kita akan melanjutkan perjuangan ditingkat UI. Saya berharap Cathlin dan juga tim dari Departemen Komunikasi dapat memberikan dukungan dan kritikan supaya Cathlin disiapkan dengan baik untuk kompetisi ditingkat Universitas. Untuk CV Cathlin sangat luar biasa dengan nilai sempurna dan harus sedikit memperbaiki di gagasan karya tulis ilmiahnya. Saya berharap dosen, dosen pembimbing bisa memberikan masukan materi terhadap gagasan karya tulis ilmiah Cathlin, agar bisa di terapkan di masyarakat” ucap Yogo.

Berikut ini adalah daftar dari para pemenang Mahasiswa Berprestasi FISIP UI 2021:

  • Juara 1 Berprestasi FISIP UI 2021 diraih oleh Cathlin Rosemary Wahjoedi dari Ilmu Komunikasi.
  • Juara 2 Mahasiswa Berprestasi FISIP UI 2021 diraih oleh I Putu Satyena Uttabitha Pande dari Hubungan Internasional.
  • Juara 3 Mahasiswa Berprestasi FISIP UI 2021 diraih oleh Prudence Angeline dari Hubungan Internasional.
  • Juara 4 Mahasiswa Berprestasi FISIP UI 2021 diraih oleh Adelia Rahmawati dari Hubungan Internasional.
  • Juara Mahasiswa Berprestasi FISIP UI 2021 bidang olahraga di raih oleh Muhammad Taqyuddin Abdurrosyid dari Antropologi.
  • Juara Mahasiswa Berprestasi FISIP UI 2021 bidang seni budaya di raih oleh Elena Natanael Santoso dari Ilmu Komunikasi.
  • Juara Mahasiswa Berprestasi FISIP UI 2021 bidang kewirausahaan di raih oleh Natania dari Ilmu Komunikasi.
  • Juara Mahasiswa Berprestasi FISIP UI 2021 bidang pengabdian masyarakat di raih oleh Saidina Malik Harahap dari Ilmu Kesejahteraan Sosial.
Bedah Buku Kiprah Diplomat Indonesia di Mancanegara

Bedah Buku Kiprah Diplomat Indonesia di Mancanegara

Diplomat harus bergerak secara dinamis, menjawab tantangan jaman namun tetap berpedoman pada amanah konsitusi dan kepentingan nasional serta tetap mematuhi rambu-rambu hubungan internasional.

Begitu yang disampaikan oleh Duta Besar Indonesia untuk Argentina merangkap Uruguay dan Paraguay, Niniek Kun Naryati pada acara bedah buku ‘Diplomasi: Kiprah Diplomat Indonesia di Mancanegara’ yang digelar Fakultas llmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) pada Jumat (23/4). Selain itu Duta Besar Indonesia untuk Azerbaijan, Prayono Atiyanto juga memberikan paparannya tentang buku tersebut.

Dalam sambutan pembukaan acara bedah buku ini, Dekan FISIP UI, Arie Setiabudi mengatakan “saya sendiri sudah membaca buku buku yang berjudul Diplomasi: Kiprah Diplomat Indonesia di Mancanegara dan senang sekali karena semua pengalaman-pengalaman para bapak dan ibu Diplomat di berbagai posisinya merupakan data yang tentu bisa dimanfaatkan dan digunakan oleh semua pihak tidak hyanya dosen tetapi juga mahasiswa. Buku ini juga menjadi ilmu bagi teman-teman khususnya di Departemen Hubungan Internasional.”

Buku ini adalah true story dari pada Diplomat Indonesia yang ada di berbagai negara. Buku ini berisi tentang pelaksanaan dan fungsi Diplomat seperti, representing, protecting, negotiating, promoting, reporting dan managing di berbagai belahan dunia.

“yang coba dituangkan para Diplomat di buku ini ada tiga poin penting yaitu pertama, angka itu penting karena sebagai indicator pelaksanaan diplomasi politik, ekonomi, sosial, budaya dan perlindungan WNI. Kedua tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, diplomasi adalah kerja Bersama antara pemerintahan pusat dengan daerah, masyarakat, pihak swasta, diaspora Indonesia di luar negeri dan multistakeholder. Ketiga, kinerja harus bisa diukur dan di pertanggungjawabkan” Dubes Prayono.

Menurut Dubes Niniek, pada krisis di Ukraina, ternyata Perwakilan RI tidak bisa mengandalkan laporan semata-mata dari sumber terbuka yaitu dari berita lokal atau regional, namun juga perlu memeriksa sendiri validitasnya di lapangan untuk itu diperlukan jejaring yang kuat dari semua pemangku kepentingan. Ketika kendala di lapangan sangat sulit seperti bahasa, kepentingan dua kubu yang bertikai dan akses resmi ditutup, maka mau tidak mau harus mencari sumber berita secara langsung dengan memanfaatkan kedekatan dengan semua pihak.

Menurut Niniek, Konflik Ukraina yang semula merupakan ketidakstabilan politik internal bereskalasi menjadi krisis internasional. Indonesia tetap konsisten menjalankan politik luar negerinya yang ditujukan untuk terciptanya perdamaian.

Para pembahas dari Universitas Indonesia memberikan pandangan yang bervariasi dan menambah bobot diskusi. Dr. Asra Vergianita, Ketua Jurusan Hubungan Internasional menyatakan bahwa beragamnya bidang tugas yang ditangani diplomat membuat spektrum pengalaman dan pengetahuan seseorang diplomat menjadi luas: mulai dari politik, ekonomi sampai perlindungan.

Selanjutnya Dr. Nurul Isnaeni menyoroti tentang peranan LSM khsusnya pekerja migran Indonesia (PMI) perlu diberikan highlight tersendiri mengingat jasa mereka untuk membantu perekonomian keluarganya di Indonesia.

“Meretas Batas Ilmu”  Sebuah Karya Perjalanan Intelektual Guru Besar Sosial Humaniora

“Meretas Batas Ilmu” Sebuah Karya Perjalanan Intelektual Guru Besar Sosial Humaniora

Pada Jumat (6/12) di Balai Sidang Universitas Indonesia, Guru besar Sosial Humaniora meluncurkan sekaligus membedah buku “Meretas Batas Ilmu” yang ditulis oleh Prof. Dra. M. A. Yunita Triwardani W, M.S., M.Sc. PhD (Dosen dan Guru Besar FISIP UI), Prof. Melani Budianta, Ph.D (Dosen dan Guru Besar FIB UI) dan Rahayu S. Hidayat. Buku ini juga di review oleh Dra. Francisia Saveria Sika Ery Seda, M.A., Ph.D dan Prof. Kamanto Sunarto, S.H., Ph.D.

Berawal dari ide untuk mengundang Guru Besar Fakultas di bawah rumpun Sosial Humaniora dalam lokakarya untuk membagikan tulisan dan ceritanya kedalam buku berjudul Meretas Batas Ilmu: Perjalanan Intelektual Guru Besar Sosial Humaniora. Buku ini merupakan himpunan dari kisah sepuluh Guru Besar bidang Ilmu Sosial Humaniora Universitas Indonesia dalam mengawali, menumbuh-kembangkan dan menghasilkan karya-karya ilmiahnya.

Rentang perjalanan yang panjang dari setiap Guru Besar tidak berlangsung secara linear, mulus dan sederhana. Tidak seluruhnya berawal dari rintisan karier yang sejalan dengan minat dan pilihan nuraninya. Namun para Guru Besar merintis karier dalam disiplin ilmu dengan landasan teoretis, konseptual dan metodologis yang ditumbuh kembangkan oleh ilmuwan-ilmuwan manca negara, mereka ternyata mampu memadukan pengetahuan itu dengan fenomena empiris sosial-budaya yang terwujud di bumi Indonesia.

Meretas batas disiplin ilmu pun dilakukan agar dapat menyumbangkan karya ilmiahnya secara lebih optimal bagi pengembangan ilmu dan kemaslahatan bangsa dan negara Indonesia. Pergulatan dan perjuangan yang dialami mereka melalui dialektika beragam teori, konsep, metodologi dengan kehidupan nyata masyarakat dan budaya Indonesia, melahirkan karya-karya ilmiah yang unggul menuju lahir dan tumbuhnya “Ilmu Sosial-Humaniora”.

“Ketika membaca tulisan kesepuluh tulisan Guru Besar ini adalah percampuran pengetahuan yang seluruh hidup digeluti dan juga pengalaman hidup. Jadi buku ini mengajak kita untuk mengenal pikiran-pikiran dan juga sebagian hidup Guru Besar” Ungkap Francisia Seda.

Francisia Seda sebagai reviewer juga menjelaskan enam pola besar didalam buku ini. Intinya adalah keilmuan tidak pernah linier atau non linier dan bersifat multi-displin. Buku ini juga bukan hanya tentang keilmuan saja tetapi juga tentang pegabdian masyarakat. Pengabdian masyarakat juga bagian dari perjalanan pengetahuan.

Menurut Kamanto Sunarto dari enam topik itu intinya memang uraian mengenai perkembangan ilmu dan perluasan kekayaan intelektual. Ada satu hal yang menarik yaitu kesepuluh Guru Besar Sosial Humaniora tetap melakukan dan melibatkan diri untuk pengabdian masyarakat disela-sela kesibukannya menjadi Guru Besar. Karena pengabdian masyarakat sering luput dari perhatian.