

Rani Chandra Oktaviani resmi mendapatkan gelar doktor ilmu komunikasi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul “Modal Subkultural dan Komersialisasi Pada Era Neoliberal Lanjut: Studi Multi Kasus Pada Skena Urban Toys di Indonesia” pada Selasa (06/01) di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP UI.
Penelitian ini mengkaji bagaimana kelompok subkultural, khususnya skena Urban Toys di Indonesia, berkembang di tengah pesatnya teknologi digital dan sistem ekonomi neoliberal. Di satu sisi, aktivitas subkultural memiliki nilai otentik yang dapat menjadi modal sosial dan budaya, namun di sisi lain juga berpotensi masuk ke dalam praktik komersialisasi yang dapat menggeser nilai-nilai awal subkultur itu sendiri.
Menurut Rani, selama ini, kajian subkultur umumnya lebih menyoroti aspek perlawanan dan pemberontakan terhadap budaya arus utama. Namun, disertasi Rani mengambil sudut pandang berbeda dengan menyoroti bagaimana pelaku subkultural memanfaatkan media digital dan komunitas online sebagai modal baru, sekaligus membuka akses ke pasar yang lebih luas. Kondisi ini memunculkan perubahan nilai, selera, dan cara berekspresi di dalam komunitas subkultural.
Rani menjelaskan bahwa Urban Toys sendiri merupakan bentuk seni kontemporer yang memadukan seni rupa, desain, dan mainan. Para seniman Urban Toys menciptakan karakter visual unik yang merepresentasikan gagasan, bahasa visual baru, serta ekspresi artistik plastik. Karya-karya ini dipromosikan secara mandiri maupun dengan dukungan jaringan profesional dan komunitas yang memiliki latar budaya serupa.
“Dalam skala global, skena Urban Toys terbagi ke dalam dua kategori besar, yaitu Eastern Vinyl (Asia dan Australia) dan Western Vinyl (Amerika dan Eropa). Saat ini, Urban Toys telah menjadi barang koleksi bernilai tinggi, bahkan beberapa di antaranya dihargai hingga ribuan dolar dan berkembang menjadi fenomena global dalam industri kreatif,” jelas Rani.
Di Indonesia, perkembangan skena Urban Toys menunjukkan dinamika yang menarik. Awalnya berakar dari gerakan lowbrow art, Urban Toys kemudian berkembang menjadi subkultur baru yang semakin dekat dengan pasar. Produk seni mainan ini mulai diposisikan sebagai karya eksklusif, sehingga memunculkan perubahan cara pandang terhadap nilai seni, otentisitas, dan komersialisasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk modal subkultural di era neoliberal lanjut, khususnya melalui penggunaan media digital dan jejaring komunitas online. Selain itu, penelitian ini juga menelusuri bagaimana perubahan gagasan, gaya, dan konsep keotentikan karya dapat memberikan nilai tambah sekaligus berpotensi menurunkan nilai artistik. Tujuan lainnya adalah mengidentifikasi bentuk-bentuk praktik komersialisasi dalam skena Urban Toys Indonesia melalui media digital.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap 10 narasumber, diskusi kelompok terarah (FGD), serta penelusuran data sekunder melalui Indonesian Art Toys Jakarta dan Self Original Toys Bandung.
Rani menjelaskan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa di era media digital, kelompok subkultural mengalami perubahan dalam mengelola modal subkulturalnya. Modal tersebut tidak hanya berfungsi sebagai identitas budaya, tetapi juga dapat dikonversi menjadi modal ekonomi. Namun, proses ini memiliki konsekuensi berupa meningkatnya praktik komersialisasi yang berpotensi melunturkan nilai otentik subkultur.
Dalam penelitiannya, Rani menemukan bahwa modal subkultural dalam skena Urban Toys Indonesia memiliki ciri khas berupa artefak visual yang unik, bentuk komunikasi gagasan (visual, teks, dan lisan), serta lapisan komunikasi subkultural yang kompleks. Ketiga aspek ini memungkinkan terjadinya konversi modal subkultural menjadi modal ekonomi.
Ia menekankan, kontribusi utama penelitian ini adalah pengembangan konsep baru yang disebut communication layer capital, yaitu modal komunikasi berlapis yang terdiri dari lapisan individual, komunitas internal, dan komunitas eksternal. Konsep ini menegaskan bahwa kemampuan komunikasi dan pengelolaan media digital dapat membantu komunitas dan seniman Urban Toys menjaga nilai keaslian subkultur, sekaligus memanfaatkan peluang ekonomi tanpa sepenuhnya terjebak dalam praktik komersialisasi.
Disertasi ini diharapkan dapat memperkaya kajian komunikasi dan budaya, khususnya dalam memahami dinamika subkultur di era digital, serta menjadi rujukan bagi pelaku industri kreatif dan komunitas seni di Indonesia.


