Select Page

Sebagai upaya memaknai peringatan 94 tahun Sumpah Pemuda, FISIP UI menyelenggarakan Kuliah Kebangsaan dengan tema “Memaknai Sumpah Pemuda untuk Memperkuat Komitmen Persatuan di Era Keterbelahan” pada Jumat (28/10) di Auditorium Juwono Sudarsono.

Perlu ada upaya kolektif untuk terus menerus memperbarui semangat persatuan nasional. FISIP UI memandang bahwa pembangunan kebangsaan adalah proses perjuangan yang perlu terus diupayakan. Kampus merupakan tempat persemaian gagasan-gagasan dan manusia-manusia yang dibangun untuk mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia. Pada kesempatan ini, Kuliah Kebangsaan menghadirkan Dr. Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid atau yang lebih dikenal sebagai Yenny Wahid (Direktur Wahid Foundation).

Yenny Wahid, menyerukan kepada para mahasiswa untuk menjadi kekuatan perubahan. “Saat ini, kita menghadapi tiga tantangan global: teknologi, ekologi, dan ideologi,” tuturnya di depan sivitas akademika FISIP UI yang menghadapi kegiatan tersebut.

Tantangan teknologi, menurut Yenny, adalah tantangan yang dihadirkan oleh kemajuan teknologi seperti Teknologi Informasi dan Big Data, Internet of Things (IoT), Robotika dan Kecerdasan Buatan, Blockchain dan Digital Currency, serta Bioteknologi dan Rekayasa Genetik. Kemajuan teknologi tersebut pasti menghadirkan disrupsi yang tidak semuanya positif, seperti hilangnya pekerjaan bagi banyak orang atau persoalan etika. Tantangan ekologi adalah tantangan yang dihadirkan oleh krisis iklim yang semakin mendesak. Tantangan ideologi adalah tantangan ketiga yang tidak kalah mendesak, yang ditandai dengan politik mayortarianisme, politik identitas, diskriminasi, sampai terorisme.

Setelah menjelaskan beragam tantangan tersebut, putri mantan Presiden Abdurrahman Wahid ini juga membagikan optimisme bahwa anak-anak muda Indonesia memiliki kemampuan untuk menghadapinya dengan baik. “Anak-anak mudalah yang menguasai industri digital, menjadi pionir inovasi lingkungan, dan menjadi pelopor bagi upaya membangun kebinekaan global,” tutur tokoh nasional yang mulai disebut-sebut sebagai salah satu calon Presiden atau wakil presiden selanjutnya ini. Kuncinya, menurut Yenny, adalah pemerataan kualitas generasi muda, yang meliputi kualitas intelektual, kualitas sosial, dan kualitas spiritual.

Dalam kegiatan yang bertajuk “Memaknai Sumpah Pemuda untuk Memperkuat Komitmen Persatuan di Era Keterbelahan” ini, Yenny Wahid juga menyentil mahasiswa-mahasiswa UI sebagai orang-orang yang menikmati keistimewaan. “Kalian mahasiswa, apalagi mahasiswa UI, itu termasuk privileged few di Indonesia.” Dengan keistimewaan itu, lanjut Yenny, ada tanggung jawab besar pula yang mengikuti. “Kampus harus menjadi kekuatan yang mendorong perubahan,” tuturnya.

Dekan FISIP UI, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, menyampaikan pesan yang senada dalam sambutan pembukaannya. “Kampus,” menurut Guru Besar Antropologi ini, “harus berperan dalam upaya pembangunan dan penguatan ideologi nasional untuk menghadapi berbagai tantangan global.”

Ia juga menambahkan bahwa penyelenggaraan Kuliah Kebangsaan dalam rangka peringatan Sumpah Pemuda ini adalah salah satu upaya FISIP UI untuk turut serta mencari solusi bagi berbagai masalah kebangsaan. Kegiatan yang dihadiri oleh para sivitas akademika UI, mulai dari perwakilan rektorat hingga dosen dan mahasiswa ini, merupakan Kuliah Kebangsaan FISIP UI yang ketiga. Menjelang 2024, FISIP UI berencana mengundang tokoh-tokoh nasional untuk membagikan visi kebangsaannya untuk didiskusikan bersama sivitas akademika di dalam rangkaian Kuliah Kebangsaan tersebut.