Pilih Laman

Media sosial sebagai jejaring sosial selama ini telah berfungsi sebagai public sphere, ruang diskrusif, medium tempat bertemunya wacana yang menciptakan interaksi antar banyak pihak. Ada yang bertujuan unutk memperoleh kepuasan, ada pula yang memanfaatkannya untuk berbagi kepentingan.

Hal ini membuat medsos dibanjiri segala bentuk informasi yang baik maupun buruk, termasuk ujaran berbahaya yang memantik kekerasan di ruang fisik dalam bentuk tindakan persekusi pada tahun 2017 di Indonesia. Berbagai terpan konten kekerasan tersebut dapat menghilangkan kesadaran sosial dan ketidak-mampuan individu dalam mengatur perilaku.

Manakala individu kehilangan kesadaran sosial, maka banyak yang mengabaikan cara untuk mencapai tujuan yang disepakati umum. Berkonfliknya tujuan dengan cara institusional dapat menimbulkan anomie sosial, meruntuhkan nilai pada individu maupun masyarakat.

Lebih dari itu, keadaan anomie dapat pula terjadi ketika individu menjadi terpaan konten media anjuran untuk berperilaku menyimpang. Narasi-narasi kekerasan misalnya, mampu mengubah perilaku, merentankan nilai norma sosial dan dapat memicu kekerasan.

Wacana post truth adalah keadaan dimana kebenaran berubah abu-abu atau ketika informasi berdasarkan fakta objektif dianggap tidak penting. Walhasil kebenaran yang dipercayai di era post truth dewasa ini adalah kebenaran berdasarkan emosi atau karena kepentingan atau atas dasar tafsir yang diyakini. Post truth bukan sekedar hoax atau fake news melainkan upaya mengklaim kebenaran.

Berbagai kasus kekerasan yang dipicu informasi post truth di media sosial pada dasarnya adalah akibat perbedaan persepsi dan kekurangcermatan masyarakat mengasup informasi. Sepanjang tahun 2017 ketika berlangsung kontestasi politik di Indonesia, media sosial dibanjiri konten ujaran berbahaya yang mematik kekerasan.

Artikel Lainnya:  Kajian Aspek Sosial Pemindahan Ibu Kota Negara

Fenomena kekerasan di ruang maya dan ruang nyata itu merupakan bentuk perilaku diluar struktur, norma dan nilai-nilai umum yang disepakati bersama. Berlandaskan realitas perilaku pengguna media sosial pada tahun 2017, tujuan tujuan integrasi teori untuk merekonseptualisasi anomie dari ruang nyata ke ruang maya.

Temuan bernilai kebaruan dalam penelitian ini adalah bahwa perilaku mengunggah ujaran berbahaya di ruang maya merupakan bentuk penyimpangan yang disebut sibernomik dan kondisi dibanjirinya media sosial dengan berbagai ujaran berbahaya disebut sibernomie. Selanjutnya ditemukan pula bahwa terdapat faktor kontekstualitas yang menyebabkan sibernomik dapat mematik tindakan persekusi dan nonpersekusi.

Bagus Sudarmanto berhasil menyandang gelar doktor Kriminologi. Setelah berhasil mempertahankan hasil disertasinya yang berjudul “Perilaku Sibernomie dan Tindakan Persekusi di Era Post-Truth (Kuasa Media Sosial dalam Perspektif Kriminologis)” di hadapan para penguji. Sidang promosi doktor Bagus dilaksanakan pada Selasa (07/01) di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI.