Pilih Laman

Antropolog Universitas Indonesia, Dave Lumenta, Ph.D. dan Drs. Iwan Meulia Pirous, M.A.,serta Dr. Greg Acciaioli dari Universitas of Western Australia bertemu dalam seminar bertajuk “Regionalism in State and non-State Perspective.” Ketiga pakar tersebut membahas isu relasi negara di Asia Tenggara dari sisi yang berbeda dalam sebuah diskusi panel di Auditorium Juwono Sudarsono, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), Rabu (10/9/2014).

Mencari Titik Keserumpunan

Dalam diskusi yang dimoderatori Imam Ardhianto, S.Sos, M.A. itu, Dave Lumenta memaparkan materi tentang “Ambiguities of Inclusion and Exclusion: Malay Serumpunism in the Context of Indonesia-Malaysia Relations and ASEAN 2015”. Dave menilai banyak hal yang lebih penting dari sekadar soal serumpun. “Misalnya, masalah kehancuran, jurang kaya-miskin, atau kemiskinan di Asia Tenggara. Serumpunism justru menunjukkan persoalan ambigu antara inklusi dan eksklusi,” jelas Dave.

Dave menekankan apabila keserumpunan dibawa ke level state, Indonesia dinilai belum selesai dengan masalah keragaman. Untuk itu, kata Antropolog yang sering diundang ke luar negeri dalam berbagai seminar internasional tersebut, dalam relasi antara Indonesia dan Malaysia harus dicari sebuah titik dari keserumpunan. “Karena ada reduksi makna. Perlu dipertanyakan definisi Asia Tenggara itu apa dan bicara dalam skala seperti apa? Kalau mencoba relevansi, konsep Asia Tenggara itu berguna apa enggak?” papar peraih gelar S3 dari Universitas Kyoto, Jepang ini.

Artikel Lainnya:  Pengukuhan Guru Besar bidang Sosiologi FISIP UI

Meninjau Kembali Ide tentang ASEAN

Perspektif berbeda dijelaskan Antroplog Iwan Meulia Pirous. Iwan mengangkat topik “Dreams and Disconnections: Contested Spectrum of Social Activism in The Philippines, Malaysia, and Thailand.” Pemaparan itu terkait dengan penelitian yang dilakukan Iwan tentang gerakan sosial yang terjadi di tiga negara. Ia memfokuskan penelitiannya pada gerakan sosial yang tidak diinisiasi pemerintah dan tumbuh melawan kekuasaan pemerintah.

Dari wawancaranya dengan 16 informan di Filipina, katanya, orang Filipina menilai bahwa perjuangan adalah tradisi dari nenek moyang. “Bagi orang Filipina, revolusi dilakukan setiap hari. Belief melakukan perjuangan. Anaknya aktivis, cucunya aktivis,” sebut Iwan.

Iwan menambahkan gerakan sosial di Malaysia relatif tidak menarik karena ada dua negara dalam satu negara besar dan memiliki dua agenda, Islam dan multikultural. Sementara itu, di Thailand, menjadi nasionalis adalah menjadi simpatisan kerajaan. Kerap terjadi permainan antara pengusaha dan tentara perubahan kekuasaan. Lantaran hal tersebut, gerakan sosial di Thailand dianggap sangat biasa.

Artikel Lainnya:  FISIP UI Mengadakan Kegiatan Jalan Santai “Campus Woles Walk”

Dari perbedaan gerakan sosial itu, lulusan Nottingham Trent University itu, menilai ide tentang ASEAN ternyata sudah tak terhubung (disconnect) sejak awal. Kata-kata seperti revolusi, nasionalisme, dan demokrasi bisa berbeda pemaknaannya di setiap kawasan. Selain itu, juga tidak ada hal progresif yang bisa diartikan. “Untuk membuat ASEAN dekat, bukan soal kultural, tapi soal solidaritas kelas. Itu akan lebih mengikat,” kata Iwan.

Iwan menambahkan, dalam konteks ASEAN, negara kawasan ini punya mimpi, tapi bayangan Asia Tenggara itu seperti apa tidak pasti. “Saya melihat lebih fokus ke gerakan sosial sebagai hal yang cair. Keserumpunan justru dibangun demi kesamaan untuk maju bersama,” tuturnya.

Regionalisasi dan Konservasi

Artikel Lainnya:  Duka FISIP UI untuk Hizkia Jorry Saroinsong

Adapun Pembicara Greg, mengangkat tajuk “From the Sulu Zone to the Sulu Sulawesi Marine Ecoregion: Regionalising, the Marine Interface of Borneo, Sulawesi and the Southern Philippines.” Greg justru keluar dari kacamata politik dalam membedah masalah keserumpunan dalam konteks ASEAN. Ia melihat dari kajian atau konteks konservasi. Greg menilai regionalisasi dipengaruhi kepentingan konservasi.

Diskusi yang berlangsung dua jam tersebut digelar oleh Pusat Kajian Antropogi Departamen Antroplogi, FISIP UI . Kegiatan tersebut menjadi salah satu rangkaian Pekan Seminar FISIP 2014 yang telah dimulai dari tanggal 8 September dan berakhir pada 29 September mendatang. (DPN)