Pilih Laman

Menyoroti fenomena penyebaran hoax atau berita palsu di Indonesia yang semakin merajalela, Miriam Budiarjo Research Center (MBRC) FISIP UI menyelenggarakan diskusi tentang literasi digital dengan judul “Indonesia Under Digital Hoax Attack”.  Acara yang dibuka untuk umum ini diselenggarakan di ruang Rapat Lantai 1 Gedung MBRC FISIP UI pada Senin (10/3). Pembicara dalam diskusi ini adalah Dr. Ross Tapsell, seorang dosen Departemen Gender, Media dan Budaya dari Australian National University yang memiliki fokus isu pada kajian media dan budaya di Asia tenggara.

Dalam diskusi ini, Dr. Ross Tapsell memaparkan bagaimana kelompok-kelompok politik dari para oligarki dan netizen diperkuat oleh digitalisasi, dan bagaimana kelompok masyarakat yang memiliki pandangan-pandangan berlainan dapat terbentuk dengan perkembangannya yang pesat sehingga menciptakan hoax sebagai salah satu strategi propaganda mereka. Penggunaan media sosial sedang berkembang pesat di Indonesia. Ketika angka statistik menyebutkan bahwa penetrasi internet di Indonesia terbilang rendah, tetapi lebih dari 70 juta penduduk Indonesia memiliki akun Facebook. Fakta lain juga mengungkapkan bahwa Jakarta merupakan kota yang memiliki jumlah tweets per menit terbanyak dibandingkan kota-kota lain di seluruh dunia.  Instagram juga meningkat pesat, tetapi keributan politik (political noise) paling banyak terjadi di Twitter dan Facebook. Di kedua platform tersebut black campaign dapat menyebar dengan sangat cepat. Salah satu faktor penyebabnya adalah karakteristik masyarakat Indonesia yang lebih mudah mempercayai orang-orang terdekat sebagai sumber informasi, daripada media mainstream. Dua contoh kasus yang dipaparkan oleh Dr. Ross Tapsell adalah fenomena kontestasi politik Jakarta tahun ini dan isu “The Sawito Trial” yang mencuat kembali.

Artikel Lainnya:  Pekan Komunikasi 2018 Angkat Tema Post-Truth Era

Paparan hasil kajian Dr. Ross Tapsell yang lebih lengkap mengenai fenomena media di Indonesia dapat ditemukan dalam bukunya yang akan terbit dengan judul “Media Power in Indonesia: Oligarchs, Citizens, and The Digital Revolution”.