Pilih Laman

Terorisme merupakan trans-national crime dengan kata lain setiap tindakan dari seseorang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional. Seseorang dalam pengertian di atas dapat bersifat perorangan, kelompok, orang sipil, militer, maupun polisi yang bertanggung jawab secara individual, atau korporasi. Para pelaku terorisme didapati adalah “alumni” dari Lapas dan Bapas (residivis). Maka dari itu disertasi dari Siti Napsiyah Arieffuzaman mengupas mengenai pendekatan integratif yang ditawarkan oleh disiplin IlmuKesejahteraan Sosial (social work) dalam menanangani Napiter agar tidak melakukan tindakan terorisme kembali.

Artikel Lainnya:  Pembentukan Daerah Otonom sebagai Solusi Konflik Antar-Etnis

Program pembinaan bagi narapidana kasus terorisme (napiter) yang selama ini dilakukan di lembaga pemasyarakatan menunjukan bahwa pembinaan belum dilakukan berdasarkan pada pembinaan bagi narapidana terorisme. Napiter diperlakukan sama dengan narapidana lain, sehingga belum ditemukan satu pendekatan khusus yang integratif dalam pola pembinaan bagi narapidana teroris. Pembinaan di Lapas belum mencapai tahap kesadaran untuk benar-benar tidak mau melakukan tindakan teror lagi. Bahkan narapidana lain pun akan terkontaminasi menjadi radikal atau bahkan lebih radikal setelah menghuni Lapas. Tidak hanya napiter yang semakin radikal tetapi pegawai atau petugas lapas yang justru ikut menjadi radikal.

Beberapa perubahan yang terjadi pada napiter setelah mendapat program pembinaan di lapas yakni reaksi narapidana tersebut menunjukan beragam sikap untuk meninggalkan teror. Terdapat tiga golongan napiter dengan masing-masing kecenderungan sebagi berikut: (1) Golongan Militan Non Kooperatif yaitu secara karakteristik memiliki  ideologi radikal politis, tidak menerima pendapat lain, mengkafirkan orang lain, terorisme adalah jihad, non kooperatif dan menganggap lapas adalah thogut; (2) Golongan Militan Kooperatif adalah memiliki ideologi radikal non politis, sebagai penganut keyakinan dengan keterlibatan jaringan nasional dan non ISIS; (3) Golongan Partisipan (follower) merupakan karakteristik yang meng-kultuskan kepada pemimpin kelompok tertentu dan bermotif ekonomi, golongan ini tidak terlibat dalam aksi terorisme hanya memberi dukungan fasilitas.

Artikel Lainnya:  Representasi Politik Perempuan di Parlemen

Pendekatan integratif dalam pembinaan napiter tidak terlepas dari peran edukasi pekerja sosial. Dengan tujuan untuk membantu individu melihat permasalahan, impian, aspirasi ataupun kekecewaan mereka dari perspektif sosial politik yang lebih luas. Masyarakat mendapatkan edukasi berupa sikap terbuka untuk reintegrasi napiter. Pekerja sosial menyentuh setiap aspek kehidupan napiter dalam proses pembinaan dimulai dengan proses assesment. Pendekatan integratif ini bisa dikatakan sebagai sebuah prigram deradikalisasi. (Humas-FISIP UI)