

MIKTA for Change: Screen & Dialogue on SDGs, program kolaboratif yang diinisiasi oleh Korea-Indonesia Connection (KIC) FISIP Universitas Indonesia dan didukung oleh Embassy of the Republic of Korea selaku MIKTA Chair 2025, resmi diselenggarakan pada Kamis (27/11) di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP UI.
Acara ini memadukan dialog diplomatik, presentasi akademik, serta pemutaran film dari lima negara MIKTA (Meksiko, Indonesia, Republik Korea, Türkiye, dan Australia) untuk memperkuat pemahaman publik mengenai pembangunan berkelanjutan dan peran generasi muda dalam diplomasi global.
MIKTA merupakan kelompok yang terdiri atas Meksiko, Indonesia, Republik Korea, Türkiye, dan Australia—lima negara G20 dengan latar budaya dan kawasan yang beragam. Dibentuk pada tahun 2013, MIKTA berperan sebagai jembatan antara negara maju dan berkembang, sekaligus membangun kesepahaman mengenai isu-isu global lintas kawasan.
Acara dibuka dengan sambutan dari Pimpinan FISIP UI dan perwakilan Embassy of the Republic of Korea. Dalam sambutannya, H.E. Park Soo-Deok, selaku Chargé d’affaires Republik Korea untuk Indonesia menekankan pentingnya diplomasi middle-power dan peran MIKTA dalam memfasilitasi kerja sama lintas kawasan.
“Generasi muda memiliki peran penting dalam memperkuat diplomasi publik. Melalui ruang dialog seperti ini, mahasiswa dapat membangun perspektif global dan terlibat langsung dalam upaya mencapai SDGs,” ujar H.E. Park Soo-Deok.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan presentasi dari dua student representatives. M. Althaf Yusfid, S.Sos (Mahasiswa Departemen Antropologi Sosial) memaparkan tantangan infrastruktur air di Balikpapan sehubungan dengan SDG 6 (Clean Water and Sanitation).
Sementara itu, Amare Myheart Ono (Mahasiswa Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial) mempresentasikan kajiannya mengenai stigma bahasa Inggris dan dampaknya terhadap akses pendidikan inklusif sehubungan dengan SDG 4 (Quality Education). Kedua presentasi ini menegaskan kontribusi akademisi muda dalam merespons isu pembangunan melalui pendekatan ilmiah dan sosial.
Segmen keynote “MIKTA Dialogue on SDGs” menghadirkan lima pembicara diplomatik, yakni, H.E. Francisco de la Torre (Duta Besar Meksiko untuk Indonesia), Agustaviano Sofyan, (Penasihat Kebijakan Senior Kerja Sama Multilateral, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia), Seo Jeong Eun (Sekretaris Kedua yang mewakili Chargé d’Affaires Republik Korea), H.E. Talip Küçükcan (Duta Besar Türkiye untuk Indonesia) dan Nicola Campion (Minister Counsellor Bidang Politik dan Komunikasi Strategis, Australia).
Dalam panel para pembicara menyampaikan intervensi singkat negara-negara yang menguraikan prioritas SDG nasional, tantangan global bersama, dan contoh konkret peran MIKTA dalam multilateralisme dan kerja sama lintas kawasan.
Selain itu, kelima negara juga menekankan pemberdayaan pemuda, pendidikan, kesetaraan gender, kerja sama kemanusiaan, dan urgensi tenggat waktu SDG 2030 sebagai prioritas utama bersama. “MIKTA menunjukkan bahwa kerja sama dapat terbangun melalui kesetaraan dan keterbukaan. Dalam keberagaman, kami menemukan kekuatan untuk menavigasi tantangan global,” ujar H.E. Francisco de la Torre.
Pada sesi screening film pendek, peserta diajak menyimak lima karya dari negara-negara MIKTA. Film-film yang ditampilkan mengangkat beragam tema SDGs—mulai dari kesetaraan gender, inklusivitas sosial, pembangunan kota berkelanjutan, ketahanan pangan, hingga pendidikan yang lebih adil dan berkualitas.
Pemutaran film ini meninggalkan kesan mendalam bagi peserta. Hal juga ini menegaskan peran media sebagai sarana efektif untuk memperluas pemahaman publik dan mendorong perubahan sosial yang bermakna.
Menurut Getar Hati, PhD selaku Direktur KIC FISIP UI, “acara ini membuka ruang strategis bagi generasi muda untuk berinteraksi langsung dengan para diplomat dan memahami peran penting kerja sama negara-negara middle power. Melalui dialog dan ekspresi kreatif, para mahasiswa dapat memahami nilai multilateralisme secara lebih mendalam dan terdorong untuk berkontribusi aktif dalam pencapaian SDGs.”
Pimpinan FISIP UI yang direpresentasikan oleh Nurul Isnaeni, Ph.D. menegaskan komitmennya untuk menjadi ruang yang mendorong pemikiran kritis dan kolaborasi internasional.
“Sebagai institusi akademik, FISIP UI berkomitmen menciptakan lingkungan belajar yang mendorong kepedulian terhadap isu kemanusiaan dan pembangunan global. Melalui kegiatan ini, kami berharap mahasiswa dapat memahami diplomasi dan SDGs sebagai suatu tanggung jawab kolektif,” ujar Wakil Dekan Bidang Akademik, Riset, dan Kemahasiswaan FISIP UI.







