Select Page

Sejak kasus Covid-19 pertama kali teridentifikasi di Tiongkok pada Desember 2019, seluruh dunia dihadapkan pada gegar budaya akan masifnya penyebaran dan efek yang ditimbulkan oleh virus ini. Pada awalnya kita dihadapkan pada perasaan khawatir dan melindungi diri seoptimal mungkin dari terpapar SARS-Cov-2.

Namun, kini setelah hampir setahun kita hidup ditengah pandemi, dan kasus positif terus menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan, bahkan kini kasus terkonfirmasi positif di Indonesia telah mencapai lebih dari 1 juta.

Hal ini, merupakan momentum menumbuhkan kesadaran untuk bekerja ekstra keras dan mengindikasikan bahwa seluruh elemen bangsa harus berkolaborasi mengurangi laju penularan virus Covid-19 dengan perubahan perilaku yang sesuai protokol kesehatan.

Dialog ini menghadirkan narasumber,  Prof. dr. Hadi Pratomo, MPH, DrPH (Ketua Tim Periset Pemberdayaan, Edukasi Dan Literasi Terkait Covid-19 Untuk Perubahan Perilaku Komunitas – Universitas Indonesia), Prof. Yunita T. Winarto, Ph.d. (Guru Besar Antropologi (Purna Bakti) Universitas Indonesia – Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia), Prof. Dr. dr. L. Meily Kurniawidjaja, M.S., Sp.Ok. (Pakar Keselamatan dan Kesehatan Kerja/Promosi Kesehatan di Tempat Kerja).

Talkshow ini dilaksanakan pada Kamis (28/01) di Media Center Graha BNPB – Jakarta dan disiarkan secara LIVE yang disiarkan melalui TV Pool dan Radio Pool dengan hak siar yang dapat dipakai untuk seluruh media.

“Fenomena terjadinya pandemi Covid-19 ini merupakan masalah kita bersama. Virus ini tentu merubah alam pikir kita sebagai manusia, perubahan cara bersikap untuk menjalankan protokol kesehatan dan hal tersebut sangat tidak mudah. Sebagai Antropolog, saya memahami betul bahwa strategi budaya untuk mengubah perilaku itu diperlukan. Selama ini sudah ada himbauan, instruksi, rekomendasi tetapi apakah sudah terjadi internalisasi norma-norma budaya yang baru sehingga merubah perilaku” ujar Prof. Yunita.

Artikel Lainnya:  Human Security dalam Perspektif Keadilan Ekologis

“Terkait dengan internalisasi norma-norma budaya, pemerintah sudah banyak melakukan himbauan dan kampanye untuk perubahan perilaku untuk menjalankan protokol kesehatan tetapi hal itu saja tidak cukup karena kebudayaan itu ada dua krakteristik, tidak mudah berubah dan dapat diubah/dapat dikonstruksikan. Dengan adanya pandemi Covid-19 kita harus menginternalisasi nilai budaya baru tapi apakah cukup dengan himbauan dan instruksi saja. Media sosial sudah menayangkan protokol kesehatan dan sudah cukup gencar tetapi menginternalisasikan sehingga mengubah perilaku ada pranata budaya, peraturan baru, gajaran dan sanksi oleh masyarakat sendiri itu yang diperlukan” jelas Prof. Yunita.

“Kita belajar memantapkan perilaku adaptasi terhadap Covid-19, betul kata Prof. Yunita, harus berbasis ragam budaya cluster. Jadi saya dan tim menyusun panduan tujuannya untuk memperkaya pengalaman, pengetahuan meningkatkan kesadaran, mengubah perilaku tidak cukup hanya dengan rekomendasi, himbauan dan instruksi, jadi untuk memutuskan penurunan virus di berbagai cluster ini” ucap Prof. Meily.

Selain itu Prof. Hadi menjelaskan, cara menekan laju penularan yang efektif adalah dengan mencoba mengubah perilaku disertai dengan pranata budaya dan dengan coaching atau mentoring dengan pendampingan hal itu yang dalam program pemerintahan sekarang belum ada tetapi yang perlu dipahami sifat alami dari proses perubahan itu adalah pelan sedangkan pemerintah inginnya cepat.

Prof. Yunita juga menjelaskan, virus Covid-19 itu tidak terlihat mata/tidak kasat mata, saya belajar mendampingin petani, mahasiswa, kalau itu tidak kasat mata maka tidak mudah masuk ke kepala, tidak mudah dipercaya bahwa virus Covid-19 ada didekat masyarakat karena tidak terlihat. Maka agar perubahan alam pikir bisa efektif melalui visualisasikan apa yang tidak terlihat dengan metode belajar orang dewasa melalui video. Jadi sekarang bagaimana video tersebut kita pelajari bersama, kita lihat apa perilaku kita yang salah selama ini dan apa yang benar, ayo kita bersama-sama membenarkan perilaku kita atau norma-norma yang sekarang kita akui, yang kita lakukan bersama.

Artikel Lainnya:  Strategi Komunikasi L’Oréal untuk Keberlangsungan Lingkungan Hidup

Bahwa mengubah perilaku, memperkaya pengetahuan, menanamkan keyakinan yang baru, motivasi itu tidak bisa seperti membalikan telapak tangan karena itu metode edukasi betul-betul harus diperhatikan.