Pilih Laman

Dewasa ini, perkembangan beragam platform media menjadi hal yang tidak terelakkan. Teknologi internet yang bersifat interaktif telah merubah cara publik dalam berkomunikasi dan mengakses informasi. Internet menghubungkan masyarakat dunia secara online dalam sebuah jaringan yang tidak terputus. Internet menjadi representasi terdepan dari revolusi komunikasi yang terjadi pada setiap aspek komunikasi manusia (Cutlip dan Broom, 2000). Dunia digital juga telah merubah komunikasi dalam sebuah organisasi dengan publiknya. Menurut Warren Newman, internet adalah bagian dari Public Relations (PR). Internet saat ini tidak dapat dipisahkan oleh mereka yang bekerja dalam industri PR. Menurut data yang dikeluarkan oleh Internet Live Stats pada 2014, total populasi pengguna internet di dunia diperkirakan sudah mencapai 2,9 miliar. Data tersebut memperlihatkan bahwa penetrasi internet di dunia telah menumbuhkan jaringan sosial (social networks) yang luas.

Pertumbuhan social networks menjadi peluang bagi praktisi PR untuk memperluas sarana kerja, salah satunya dengan menggunakan situs social networks seperti Facebook,Twitter, LinkedIn, dan beragam platform lain. Penggunaan istilah situs social networks atau yang lebih dikenal sebagai media sosial (social media) merupakan situasi dimana masyarakat melakukan komunikasi secara online. Bentuk komunikasi tersebut memberikan kesempatan publik untuk berdialog terbuka di media sosial secara real time dengan mereka yang terhubung langsung secara online. Di era digital, praktisi PR tidak dapat dipisahkan dari penggunaan media sosial. Kemunculan media sosial sebagai dampak dari pesatnya perkembangan internet, merubah metode kerja praktisi PR dengan menyediakan cara baru yang efektif dalam membuat sebuah pesan komunikasi. Sebagai bagian dari dunia digital, praktisi PR harus meningkatkan kemampuan dalam berkomunikasi secara online.

Artikel Lainnya:  Post Truth Era: I Believe Therefore I’m Right

Inilah yang melatarbelakangi seminar PR Vaganza 2016 pada Selasa (26/4/2016). Seminar yang bertempat di Auditorium Pusat Studi Jepang, Kampus UI Depok, merupakan bagian dari kegiatan Pekan Komunikasi 2016. Tema dari seminar PR Vaganza 2016,“The Order from Invisible Chaos,”  berkaitan dengan kekacauan yang tidak terlihat di dalam dunia nyata, melainkan dunia maya, yakni media sosial. Kekacauan yang terjadi erat kaitannya dengan keadaan saat ini dimana semua khalayak sudah tidak dapat terlepas dari berbagai berita, cerita, isu, dan masalah-masalah yang terjadi di dunia maya dan menimbulkan kekacauan. Situasi chaos, yakni situasi ketidakberaturan yang tidak bisa diprediksi polanya. Bagaikan gumpalan asap rokok yang berpencar secara liar, bagai hukum yang mengalami kehampaan, bagai kekuasaan politik yang kehilangan legitimasi, bagai sistem ekonomi dengan fluktuasi moneter tak terkendali (Kelik Wardion, 2010).

 Ketidakberaturan tersebut menempatkan batasan tertentu bagi kemampuan kita meramalkan satu sistem yang kompleks dan non-linear. Chaos merupakan suatu keadaan di mana sistem tidak dapat diprediksi dan bergerak secara acak. Unik, apabila keadaan acak tersebut diperhatikan secara seksama dengan mempertimbangkan dimensi waktu, maka akan ditemukan sebuah keteraturan. Hal ini dapat terjadi karena bagaimana pun kekacauan sebuah sistem, tidak akan pernah melewati batas tertentu. Artinya, bagaimana pun acaknya sebuah sistem, ruang geraknya akan tetap dibatasi oleh sebuah kekuatan penarik yang disebut strange attractor. Meskipun di satu sisi hal tersebut menjadikan gerak sistem secara acak, dinamis dan fluktuatif, akan tetapi di sisi lain dapat membingkai batas-batas ruang gerak tersebut. Strange attractor, dalam hal ini, disebut sebagai Cyber PR.

Artikel Lainnya:  Studium Generale Prof.Dr.Dorodjatun Kuntjorodjakti

Bagaimana respon perusahaan atau organisasi dalam menangani kekacauan yang tidak terlihat sebagai akibat dari ketidakberaturan media sosial, bahkan krisis. Bagaimana perusahaan atau organisasi memanfaatkan media sosial sebagai tools untuk menangani permasalahan tersebut. Kemudian, bagaimana perusahaan atau organisasi menanggapi inovasi disruptif atas produk atau jasa, dengan cara yang tak diduga oleh pasar. Seminar ini terbagi menjadi tiga sesi yang berkorelasi dengan pembicara ahli dari berbagai bidang, yakni disruptive companies, perusahaan produk multinasional, dan agensi PR yang kompeten pada bidang media sosial.

 

(Pekan Komunikasi 2016)