Pilih Laman

Selasa (25/09), pakar sejarah dan antropologi Indonesia dari Australia National University (ANU), Prof. James Fox, memberikan kuliah umum di kampus FISIP UI. Dalam kuliah yang digagas oleh Departemen Antropologi FISIP UI ini, Prof. Fox berbagi ilmu mengenai jejak migrasi suku bangsa Austronesia hingga akhirnya tiba di Nusantara dan memberikan pengaruhnya.

Kesamaan Bahasa bukan Berasal dari Sistem Genetis

Prof. Fox memulai paparan dengan meluruskan narasi yang keliru tentang kebudayaan dan bahasa yang sering dikaitkan dengan sistem genetis. Ia menegaskan bahwa kebudayaan dan bahasa merupakan ihwal yang dapat dipelajari, tidak diturunkan melalui genetis. Mempelajari bahasa yang digunakan oleh nenek moyang dapat melalui temuan-temuan dari sistem genetis yang dikumpulkan, tetapi hal tersebut tidak dapat disamakan dengan pernyataan bahwa satu bahasa diturunkan dari satu bentuk genetis.

“Ini merupakan kesalahan pada zaman dulu di Eropa Timur dimana orang bilang kalau orang-orang yang bicara Indo-European itu (bangsa) Arian”, tuturnya.

Artikel Lainnya:  Lokakarya Kearsipan untuk Karyawan

Penelitian menggunakan sistem genetis lebih memberikan informasi mengenai asal dari suatu populasi. Prof. Fox mengatakan bahwa dengan bantuan teknologi sekarang, meneliti satu bagian dari temuan arkeologis dapat memberikan kesimpulan tanpa harus menemukan satu kerangka utuh. Misalnya, belakangan ini di Siberia ditemukan satu gigi yang dapat dianalisis semua DNA dari gigi tersebut. Hasilnya dapat memberi kesimpulan bahwa pemilik gigi tersebut memiliki hubungan dari Neandhartal (genus Homo era Pleistosen) dan Hominin Denisovan (subspesies Homo Sapiens era Paleolitik).

Melalui penelitian sistem genetis pula, jejak persebaran manusia modern (Homo Sapiens) sejak awal migrasinya meninggalkan Afrika pada 200.000-300.000 tahun yang lalu (Teori Out of Africa) dapat dirunut, hingga akhirnya berbaur dengan kelompok genus Homo di daratan lain dan menurunkan generasi suku bangsa-suku bangsa yang berbeda, termasuk Austronesia.

Artikel Lainnya:  Konsultasi Publik Rancangan Peraturan Pemerintah Aparatur Sipil Negara (RPP ASN)

Migrasi Menuju Indonesia dan Percampuran Genetisnya

Migrasi Austronesia ke Indonesia merupakan migrasi terakhir yang meninggalkan Taiwan, diperkirakan sekitar 3.000 tahun yang lalu. Melalui jalur utara, Migrasi Austronesia melewati Filipina sampai ke Sulawesi, Kalimantan. Kemudian, bangsa Austronesia lanjut menyebar hingga ke Madagaskar melalui Sumatera. Tidak heran apabila terdapat pengaruh sansekerta dalam bahasa yang dimiliki bangsa Manyan di Madagaskar.

Austronesia bukan satu-satunya migrasi yang masuk ke wilayah Indonesia. Pada periode waktu yang berbeda, terdapat beberapa gelombang migrasi genus Homo yang lebih dulu lewat ataupun mendiami wilayah Indonesia. Salah satu buktinya adalah ditemukannya keturunan genetis dari Denisovan yang terdapat di populasi Papua, Melanesia, dan Flores. Meskipun hanya berkadar 1-2%, namun bukti ini dapat menunjukkan bahwa sebelum kedatangan manusia modern, terdapat penghuni yang telah menempati Indonesia lebih dulu.

Artikel Lainnya:  Pendekatan Politik dan Teknokratik Pada Perencanaan Pembangunan Nasional Tahun 2004-2009

Pada periode waktu setelahnya, terdapat arus migrasi dari nenek moyang Asia Timur (The Ancient East Asia). Mereka masuk melalui Semenanjung Malaya ketika daratannya masih bersatu dengan Sumatera dan Kalimantan. Bangsa ini yang membawa pengaruh agriculture.

Menariknya, hampir semua migrasi yang masuk ke Indonesia tidak pernah melewatkan Sumatera sebagai tempat persinggahannya. Implikasinya, Sumatera menjadi tempat percampuran genetis yang paling banyak.

“Jadi kalau ada kamu yang berasal dari Sumatera, genetismu adalah yang paling rumit!”, kelakar Prof. Fox di sela pemaparannya.

Migrasi menuju Papua dari nenek moyang Asia Timur dan gelombang Tianyuan pada periode waktu tertentu juga datang dari migrasi Sumatera dan Jawa.

“Jadi ketika kita bilang kita berbeda dengan Papua, genetik menyatakan kita banyak berbagi dengan mereka. Thats the point.”ungkap Prof. Fox.