Pilih Laman

Jumlah pengangguran di Indonesia pada 2016 dinilai mencapai titik terendah sejak 1998. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat jumlah pengangguran pada 2016 mencapai 5,5 persen atau sekitar 7,02 juta orang atau lebih rendah dibanding 2015 yakni sebesar 5,81 atau setara dengan 7,45 juta orang. Untuk itu diperlukan beberapa upaya dari berbagai pihak untuk lebih memberdayakan kualitas SDM. Sejak dini harus diberikan keterampilan kerja serta wirausaha harus ditanamkan.

Pusat Kajian Sosiologi bekerjasama dengan Good News From Indonesia menyelenggarakan diskusi seri inovasi kebijakan untuk pertama kalinya. Pada edisi pertama ini, Bupati Kudus, H. Musthafa Wardoyo memaparkan kebijakan inovatif di Kabupaten Kudus pada dua periode kepemimpinannya.

Pada diskusi ini, tema yang dipresentasikan adalah tentang pendidikan vokasional. Di Kabupaten Kudus sendiri sudah berdiri sekolah-sekolah vokasional yang mengajarkan keterampilan di berbagai bidang, seperti teknik mesin, animas, kuliner, dan fashion. Semua sekolah vokasi setaraf SMA ini tidak menggunakan anggaran daerah, melainkan menggandeng berbagai perusahaan multinasional atau perusahaaan asal Indonesia untuk menjadi rekanan.

Bupati Kudus Musthofa ,  mengungkapkan, mulai dari 2007 jumlah siswa sekolah menengah kejuruan (SMK)   terus mengalami peningkatan dengan tambahan siswa dari luar daerah yang menempuh pendidikan di SMK. Dikatakan Musthofa, ada 28 jurusan yang dimiliki seluruh SMK di Kabupaten Kudus sampai dengan tahun 2016. Dari jumlah itu, delapan di antaranya merupakan jurusan unggulan yang didukung oleh perusahaan. Sebab, kata dia, dari periode pertama menjabat sebagai Bupati Kudus, sudah memiliki perda tentang wajib belajar 12 tahun secara gratis.

Artikel Lainnya:  Menilik Proses Legislasi lahirnya BPJS

“Meskipun Kudus tidak memiliki laut, kami ingin menguasai lautan Indonesia dengan menyiapkan anak-anak di SMK Pelayaran. Makanya kami bangun sekolah pelayaran,” tambah Musthofa. ”Saya mengharapkan nantinya akan lahir tenaga nautika dari Kudus yang akan menguasai poros maritim dunia,” harapnya. SMK Wisudha Karya Kudus menjadi satu-satunya sekolah pelayaran tingkat SMK di Indonesia yang memiliki fasilitas full mission bridge simulator. Selain jurusan pelayaran, jurusan unggulan lainnya di SMK di Kabupaten Kudus adalah tata busana dan tata boga. Jurusan tata boga menerapkan kurikulum yang mewajibkan para siswa menguasai minimal 30 ikon kuliner tradisional Indonesia.

Sekolah vokasi ini bertujuan untuk menambah keterampilan warga Kudus agar siap bekerja di berbagai bidang setelah lulus SMA. Hal ini dilandasi bahwa tak semua warga Kudus bisa bersekolah sampai perguruan tinggi. Hebatnya, siswa-siswi sekolah vokasi di Kudus tersebut sudah diincar masuk ke dunia kerja bahkan sejak kelas dua SMA.

Acara ini dimoderatori oleh Dewan Pakar Gerakan Nasional Revolusi Mental, Prof. Paulus Wirutomo. Beberapa pakar di berbagai bidang juga diundang sebagai panelis untuk mengkritisi kebijakan Bupati Kudus. Panelis tersebut adalah Meutia Ghani-Rochman, Ph.D. (Pakar Organisasi Sosial), Prof. Kamanto Sunarto (Pakar Pendidikan), Prof. Iwan Gardono Sujatmiko (Pakar Sosiologi Politik), Imam B. Prasojo, Ph.D. (Pakar Pemberdayaan Masyarakat). (Humas FISIP UI)